the Strange Guest

1338 Words
(CHLOE) Aku membuka mata sambil mengerjap untuk membiasakan cahaya dari jendela yang menyilaukan mata. Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Pikiranku terganggu. Semua karena keberadaan penghuni baru di rumah ini. Android itu. “Sudah bangun?” tanya suara dari yang baru saja dibicarakan. Aku bangkit dan menyentuh dahiku, sedikit pening. Aku baru menyadari kalau robot itu kini sudah di dekat jendela. “Apa yang kau lakukan di sana?” tanyaku. “Menatap orang-orang di luar,” jawabnya dan menoleh kembali menatap ke luar jendela. Aku menyibakkan selimut, turun dari tempat tidur dan menghampirinya. Kamar ini memiliki jendela bay, berbeda dengan dua kamar lain. Saat pertama kali menempati rumah ini, aku sering duduk di sana sambil melamun. Aku bisa melihat seluruh aktifitas orang-orang Heaven Hills di luar melalui jendela itu sambil memikirkan mengapa keadaan kami menjadi begini sekarang. Aku duduk di samping Nik dan melakukan hal yang sama dengannya. “Ada yang menarik?” tanyaku. “Pria dengan anjing itu,” tunjuknya pada Tn. Elijah dengan anjing pointer yang kemarin. “Dia sempat melihatku cukup lama dan aku memutuskan untuk bersembunyi. Tapi sepertinya dia terlihat terkejut tadi,” ungkapnya. “Oh…,” ucapku menyentuh keningku. Lebih terdengar seperti resah karena Tn. Elijah sudah mengetahui soal Nik. Aku perlu menjelaskan padanya nanti. “Umm… perlu kau ketahui, orang-orang di sini tidak terbiasa dengan keberadaan Android. Jadi mereka akan terkejut kalau tiba-tiba ada sebuah Android. Sebaiknya kau tidak terlalu menampakkan diri,” kataku dan turun dari jendela. “Ap aitu artinya aku belum bisa keluar?” tanya Nik. “Tidak sekarang, Nik.” Aku mengambil pakaian dari lemari dan membawanya keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi dan mengganti pakaian, aku kembali lagi ke kamar. “Aku akan pergi kuliah. Tetaplah di sini sampai aku pulang sore nanti,” kataku padanya. Ponselku berbunyi tanda ada sebuah pesan masuk. Aku mengambil ponsel itu dan melihat pesan dari Hugo. Ia bertanya soal Android itu. Aku membalasnya kalau aku akan menjelaskan padanya nanti. “Boleh kalau aku melihat dari jendela ini saja?” tanyanya. “Seperti kataku tadi, jangan terlalu menampakkan diri,” kataku. Aku mengeluarkan dan memasukkan beberapa buku ke dalam ransel sebelum mengenakannya. “Dan ingat, jangan terlalu menimbulkan suara,” tambahku. “Baiklah,” jawabnya mengangguk. “Sampai bertemu nanti,” pamitku dan keluar dari kamar. “Hati-hati,” balasnya saat aku menutup pintu kamarku. Aku menghembuskan napas melalui mulut sambil berjalan menuju lantai bawah. Kuharap tidak terjadi apa pun hari ini, batinku. Aku menuju kamar ibuku dan tidak melihat keberadaannya di sana. Aku turun ke tangga dan melihatnya yang sudah ada di meja makan. “Pagi,” sapaku sambil berjalan menuju dapur dan langsung membuat sarapan untuk kami berdua. “Kau mau kuliah?” tanyanya. “Ya,” jawabku. Hanya itu. Tidak pernah ada pembicaraan panjang antara kami berdua. Setelah sarapanyang kubuat telah selesai, aku membawanya ke meja makan. Sementara Ibu menikmati sarapannya, aku membuat makan siang untuknya nanti. Sambil menunggu sup yang kubuat matang, aku menikmati sarapanku bersamanya. Aku memberinya sebutir obat pemberian Marianne waktu itu setelah ia selesai dengan sarapannya. Sepertinya obat itu bekerja cukup baik karena sekarang setiap kali aku pulang, ia hampir selalu memakan makanan yang kutinggalkan untuknya. Setelah makan siang untuknya nanti telah selesai kusiapkan, aku berpamitan padanya untuk berangkat kuliah. Tapi sebelum itu, aku perlu menemui Tn. Elijah yang ternyata sudah menunggu di depan rumah. “Chloe—” “Aku tahu,” potongku dan memberi isyarat agar ia berhenti bertanya terlebih dulu. “Itu memang Android yang anda lihat di jendela kamarku tadi. Aku menemukannya di tempat pembuangan,” jelasku. “Chloe… kau tidak bisa mengambilnya begitu saja. Apalagi Android. Mereka bisa menghukummu,” katanya yang terdengar khawatir. “Kurasa itu tak akan terjadi,” ucapku. “Aku harus berangkat,” kataku berpamitan. “Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya saat aku melangkah menjauh. Aku menoleh ke belakang dan mengangguk. “Aku yakin,” jawabku. Meski dalam hati aku sedikit meragukan hal itu. “Bilang padaku kalau terjadi sesuatu,” balasnya *** “Katakan padaku kenapa semalam aku tak bisa menghubungimu?” tanyaku setelah bertemu dengan Hugo. “Maaf. Baterai ponselku habis dan aku sudah tertidur,” jawabnya. Entah benar begitu atau ia sengaja menghindariku sejenak setelah kejadiah di sore kemarin. “Jadi bagaimana Android itu? Kau sudah mengaktifkannya?” Mataku memandang sekitar sejenak. “Sulit menjelaskannya,” ucapku. “Kenapa? Apa yang terjadi?” “Pernahkah Android-mu menanyakan hal-hal yang seharusnya tidak ada dalam programnya?” tanyaku. “Uhh… hal-hal seperti apa yang kau maksud?” tanyanya bingung. “Seperti di mana aku atau apa yang terjadi padaku,” kataku. “Kau tahu, seperti pertanyaan seseorang yang baru pingsan di tengah jalan.” “Sejauh ini Manon tidak bersikap aneh menurutku. Dia terlihat normal. Jadi apa yang ingin kau katakan sebenarnya?” Aku menghela napas. “Aku sudah mengaktifkannya semalam. Dan ternyata ia tidak mengingat apa pun. Seperti seseorang yang amnesia. Tetapi kemudian ada sesuatu yang terjadi padanya. Pandangannya terganggu. Kurasa itu glitch. Dan setelah itu tiba-tiba ia bisa mengingat namanya. Nik. Itu yang disebutnya,” ceritaku. Hugo memberiku tatapan seolah aku baru menumbuhkan dua kepala. “Apa kau sadar kalau kau membicarakan sesuatu yang hampir tidak masuk akal? Tidak mengingat apa pun maksudmu memorinya rusak? Atau semua datanya terhapus? Apa maksudmu dengan glitch?” Aku menghembuskan napas dan meletakkan tanganku di kening sambil menyibakkan rambutku ke belakang. “Aku tahu. Kupikir kau pasti berpikir bahwa yang kubicarakan ini aneh. Tapi akan lebih aneh lagi kalau kau melihat Nik sendiri,” kataku. “Dan kupikir memorinya tidak rusak atau terhapus. Entah bagaimana aku menjelaskannya. Dia benar-benar seperti hilang ingatan. Kurasa hanya sementara.” “Aneh bagaimana?” “Lihat saja dengan mata kepalamu sendiri. Kau akan bisa menilai betapa anehnya dia dari Android yang lain. Kapan kau bisa mampir lagi?” “Uhh… itu… entahlah,” jawabnya ragu sambil mengusap leher belakangnya. “Sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. Tapi hubungi aku kapan pun kalau terjadi sesuatu.” “Oh. Baiklah,” balasku. Aku tidak ingin berkata banyak. “Yah… itu saja yang ingin kukatakan. Aku harus ke kelasku,” kataku berpamitan padanya. “Jangan lakukan sesuatu yang aneh pada Android itu,” katanya “Akan kuingat,” kataku sambil melangkah pergi. Setelah aku pergi meninggalkan Hugo dan menuju gedung jurusanku, aku punya keinginan untuk menemui Android petugas kebersihan yang dipekerjakan di kampus ini. Jadi aku menemui salah satunya yang sedang membersihkan taman belakang gedung ini. Sebenarnya aku bisa menemui yang lebih dekat yang sedang membersihkan kamar mandi perempuan. Tapi aku ingin tempat yang lebih sepi agar tidak terlalu banyak pasang mata yang curiga. Aku mendekati Android tersebut. Sebuah nama Kiran tertempel di bagian d**a kiri seragamnya. Ia menghentikan aktifitasnya begitu merasakan keberadaanku yang mendekat. “Hai, Kiran,” sapaku. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya. “Apa Android bisa mengalami kerusakan memori?” “Kerusakan memori adalah hal yang umum terjadi pada benda-benda teknologi termasuk kami. Tapi kami punya sistem yang dapat meminimalisir kerusakan tersebut sehingga kami tidak akan kehilangan banyak data saat itu terjadi,” jelasnya. Jadi apa yang terjadi pada Nik? “Jadi maksudmu ada semacam sistem pertahanan yang melindungi data tersebut agar tidak sepenuhnya menghilang?” tanyaku. “Benar,” jawabnya mengangguk. Sepertinya saat aku menanyakan hal ini Nik tidak akan bisa menjelaskannya. Memang dia benar-benar aneh. “Jika ada data yang ikut terhapus, bagaimana caramu mengembalikannya?” tanyaku. “Pusat Perbaikan. Saat ada data yang ikut menghilang saat kerusakan itu terjadi, Pusat Perbaikan akan mengembalikan semua data kami,” jelasnya. Penjelasan yang bisa dimengerti. “Terima kasih sudah menjelaskan,” kataku tersenyum. “Lanjutkan pekerjaanmu,” kataku dan melangkah pergi dari sana. Dari percakapan tadi terlihat jelas bahwa Kiran adalah Android. Benar-benar sesosok Android yang tidak mencurigakan. Berbeda dengan Nik yang seperti tidak tahu apa pun. Seolah saat diciptakan, tidak ada program apa pun yang dimasukkan ke dalam dirinya. Ia terlihat seperti cangkang kosong yang bergerak. Siapa kau, Nik?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD