Bab 6 Seleksi Tahap Awal

1976 Words
“Tunggu, bagaimanapun, pasti ada kesalahan, aku tidak pernah—” Virgo terdiam saat menyadari sesuatu. Virgo menatap Leo lama, kepingan puzzle seolah baru saja menyatu di kepalanya. Dan Leo, masih dengan tenang, menikmati perubahan ekspresi gadis itu. “Seperti yang sudah kau duga. Perkenalkan, aku Leo Issander, orang yang mengadakan Kompetisi Ibu Pengganti.” Suara Leo tenang dan berat, tapi Virgo merasa punggungnya bergetar. Ia menatap pria itu dengan mata melebar. Detik berikutnya, ia refleks memaki, “Sial!” Jeremy yang tidak tahan ikut terkesiap, “Tuan!” Panik, kenapa atasannya malah membocorkannya dengan mudah. Seluruh keluarga besar bisa mengamuk karena hal ini. Virgo berpikir keras. Ini tidak bagus. Seluruh informasi yang ia dengar dari berita membanjiri kepalanya. Label seperti menantu idaman, pangeran muda negeri ini, Tuan Muda, dan segudang julukan lain yang digunakan media untuk menyebutkan dan mengagungkan putra bungsu Issander itu kini bergaung di telinganya. Dan mau dilihat dari sisi manapun, pria di depannya ini, memang segitu tampannya. Ia tadi hanya membayangkan laki-laki muda manja yang hanya tahu menghamburkan uang dan mencari sensasi, tetapi … Issander yang sebenarnya sama sekali bukan bocah manja. Sebaliknya, ia adalah pria matang yang tegas dan tipikal yang akan membahayakan wanita. Dan karena itu jugalah Virgo kesal! “Virgo.” Leo menyandar ke kursi, sementara Virgo menahan gelitik itu lagi. “Kau tidak akan bilang bahwa kau tidak mendaftar kan? Karena berkasmu ada di sini.” Leo memperhatikan perubahan ekspresi Virgo, dan ia tahu ada yang tidak beres. Gadis itu sangat menentangnya tadi, tapi kini ia diam seolah kalah bertarung. Wajah Virgo masih penuh permusuhan. “Tidak bisa. Aku tidak memenuhi kualifikasi.” Kali ini Leo yang terdiam. “Jelaskan.” “Ah, tentu saja ibuku tidak mengatakannya.” Nada Virgo agak mencemooh lalu ekspresinya menantang Leo. “Tuan Presdir, aku bukan seorang perawan. Itu tidak sesuai dengan standarmu kan? Aku tahu kau akan terganggu soal itu dan harga dirimu yang tinggi tidak akan mengizinkannya. Lagi pula, tubuhku tidak memenuhi syarat, jadi diskualifikasi saja. Aku tidak akan mengikuti kompetisi ini.” Virgo bangkit dan menunduk sekilas. “Sepertinya pertemuan kita sudah selesai. Manajerku akan membantu mengurus masalah terkait rumor buruk ini dengan pihak perusahaan. Kami akan bekerja sama agar tidak menimbulkan kerugian yang besar. Terima kasih atas waktunya. Aku permisi.” Gadis itu pergi dengan tenang, sementara Leo berantakan dan masih tidak memahami apa yang baru saja terjadi. “Jeremy.” “Ya, Tuan?” “Apakah ibunya yang mengantar berkas pengajuan Virgo?” Jeremy mengecek iPad kerjanya lalu mengangguk. “Benar. Saya juga sempat mengonfirmasi bahwa Nyonya Victoria beberapa kali bertindak sebagai wali Virgo dan mengambilkan beberapa keputusan untuknya terkait pekerjaan.” Dahi Leo mengerut dalam. Dadanya masih gatal dan ia merasakan perasaan marah yang tidak wajar seolah tidur siangnya yang nyaman baru saja diganggu. Ada sesuatu dari sikap Virgo yang menyentil harga dirinya seolah ia baru saja dikalahkan bocah lima tahun. Jadi, ia marah dan tidak bisa menerimanya sebelum bisa membalas. “Berikan aku daftar sponsor yang dimiliki Virgo. Juga beberapa riwayat hubungan asmaranya.” “YA??!” Jeremy merasa ia salah dengar. Bahkan jika Leo benar-benar ingin menerima Virgo, bukankah perintah ini terlalu ekstrem? Leo seolah ingin menyelidiki siapa saja yang sudah pernah tidur dengan gadis itu. “Tuan, saya tidak yakin itu tindakan yang bijak—” Jeremy menutup mulutnya saat tatapan Leo menajam. “Berikan padaku dokumennya besok.” “Baik.” Leo beralih pada layar komputer. Ada yang tidak beres. Jika gadis itu hanya berniat menghinanya, maka ekspresinya seharusnya tidak seperti itu. Ia tidak akan memusingkan Virgo yang mengaku bukan lagi seorang perawan jika memang itu hanya karena preferensinya dalam berkencan—sialan, ia bahkan tidak peduli soal itu, ia hanya butuh wanita yang sehat. Namun, kenapa ia harus melabelinya dengan konotasi buruk seolah dia hanya menginginkan gadis perawan belia? Dan wajahnya tadi … seolah baru ditusuk dari belakang. Sebenarnya siapa yang gadis itu hina dalam kalimatnya? Leo, ataukah … dirinya sendiri? Dan seperti laki-laki pada umumnya, semakin orang lain memintamu untuk tidak melakukannya, maka semakin ingin pula kau melakukannya. Jangan harap ia akan melupakan penghinaan ini. *** Virgo pergi dari ruangan itu dengan kemarahan membludak. Pikirannya dipenuhi oleh Victoria. Ia seharusnya tidak terkejut, karena wanita itu bahkan pernah melakukan yang lebih buruk padanya. Namun, apakah semua itu belum cukup hingga ia harus menjual rahimnya juga demi ibunya? Ia bahkan tidak bisa melakukannya! Virgo ingin segera menemui Victoria untuk memberinya pelajaran, tapi jadwalnya tidak mengizinkan. Eric sudah menunggunya dan mereka langsung berangkat setelahnya. Ia baru bisa menemuinya saat sore hari, bermaksud menuju Emerald. Di tengah amarah itu, ponselnya berdering. Napasnya memburu saat nama yang tertera adalah alasan kemarahannya saat ini. Victoria. “Apa yang sudah kau lakukan?” Virgo langsung bertanya saat telepon diangkat. Suara Victoria terdengar memerintah seperti biasanya. “Datang sekarang ke alamat yang kukirimkan padamu. Tidak ada kata terlambat.” Setelah itu sambungan terputus. Kemudian sebuah pesan masuk dengan dua baris alamat, lengkap dengan nama gedung dan nomor ruangan. Akhirnya dengan diantar oleh Eric, Virgo melaju ke tempat tujuan. Itu bukanlah restoran atau tempat mahal yang biasa dipilih Victoria sebagai tempat pertemuan. Sebaliknya, itu tampak seperti gedung perkantoran normal. Begitu menanyakan ke petugas yang berjaga di meja depan, Virgo langsung diantar ke ruangan yang dimaksud. Namun, di dalam sana, Victoria tidak ada. Sebaliknya, hanya ada seorang asisten wanita yang tampaknya sudah menunggunya. Ruangan itu berlatar belakang putih, dan di sisi lain terdapat meja panjang dengan tiga buah kursi juri, diisi dua wanita dan satu laki-laki. Sekilas tampak seperti ruang audisi yang bertahun-tahun lalu kerap ia datangi. Ada beberapa kamera juga di tiap sudut yang mendokumentasikan kegiatan hari itu. “Sepertinya ada kesalahan. Aku datang untuk bertemu Nyonya Victoria Baker.” Suara Virgo bergetar karena mulai panik dan kesal. Ia tidak suka ruang tertutup dan aura di ruangan itu. “Anda akan bertemu dengannya setelah pemeriksaan seleksi pertama selesai dilakukan.” Asisten wanita itu menjawab tenang, seolah sudah mengulang penjelasan itu ratusan kali hari ini. Namun, Virgo sama sekali tidak tenang. “Kalau begitu aku akan keluar—” “Silakan lepaskan pakaian untuk memulai pemeriksaan fisiknya. Saya akan membantu pengukurannya,” ujar wanita itu lagi, tidak mengacuhkan keberatannya. “Aku akan mematahkan tanganmu jika kau berani menyentuhku.” Virgo menggeram dan menepis tangan itu. Namun, orang-orang di meja juri mulai tidak sabar. “Berhenti bertingkah dan bersikaplah kooperatif. Nona Thanaya, Anda sendiri yang mendaftar untuk seleksi ini. Biarkan kami menyelesaikan pekerjaan ini agar semua orang bisa pulang,” ujar salah satunya. “Lagi pula ini hanya pengukuran. Bukankah model sudah terbiasa berganti pakaian di depan orang-orang saat syuting?” Si juri laki-laki menyahut sambil menatap tajam dan tersenyum merendahkan. Virgo menoleh dan menatapnya tajam. Tatapan kegilaan itu mendominasi wajahnya. “b******n, berani kau katakan itu sekali lagi?” Ia berbisik penuh penekanan. Laki-laki itu menegang sejenak, tapi kini pandangannya lebih merendahkan lagi. Senyum jahatnya timbul. “Apakah aku salah?” “Kau—!” “N-Nona Virgo Thanaya, ma-mari saya bantu untuk pengukurannya.” Asisten wanita itu bergegas dan melerai keributan, takut kekacauan terjadi dan ia akan disalahkan lagi sebagai bawahan. Ia mulai melucuti pakaiannya dengan meteran kain di tangan. Virgo memberontak seperti rubah liar yang akan dirantai. Asisten itu terpental beberapa kali saat Virgo berusaha melepaskan diri. Namun, saat dua wanita lain turun tangan, ia akhirnya kalah. “LEPAS! KUBILANG LEPASKAN! INI KESALAHAN, SIALAN! LEPASKAN AKU!” Angin dingin menerpa kulit Virgo saat gaun tanpa lengan yang ia kenakan tadi ditarik hingga robek. Jaketnya sudah dilempar ke lantai. Dan tangan-tangan lain mulai memegangi tubuhnya saat sang asisten mulai mengukur ukuran pinggang, pinggul, dan dadanya, mencocokkannya dengan berkas. Menelanjanginya di tempat seolah ia bukan manusia. Dadanya mengetat karena kemarahan tapi perjuangan dan tendangannya ditahan dengan keras. Di meja juri, satu-satunya laki-laki dalam ruangan itu memiringkan kepalanya untuk meluaskan pandangan, tanpa sadar tersenyum puas seperti iblis busuk. Saat itu juga pintu terbuka. Di baliknya, Leo berdiri dengan wajah dingin dan ekspresi menggelap. Ia memindai ruangan itu dengan cepat. Dikelilingi tiga wanita, Virgo berdiri dengan hanya mengenakan potongan gaun yang sudah tidak berbentuk, memperlihatkan bra dan celana pendek seamless berwarna hitam. Leo tidak ingin mengatakan ini sebelumnya, tapi setiap goresan gelap di tubuh indah itu benar-benar wujud dari keindahan seni yang sesungguhnya. Ia hanya melihatnya sekilas waktu itu, tapi kini semuanya terlihat jelas. Torehan tinta itu berbentuk sulur akar yang menjalar dari leher hingga ke bahu, kemudian menyambung sulur lain di satu sisi punggung hingga ke samping tubuh di bawah rusuknya. Ada tato lain di pinggang belakangnya, di atas dadanya, dan di kedua lengan bagian dalamnya hingga ke salah satu pergelangan tangan. Desainnya cukup simpel dan kebanyakan hanyalah garis akar, duri, dan bunga, atau bahkan seperti titik-titik air dan alur akar yang lain, atau mungkin retakan batu. Leo tidak terlalu mengerti soal lukisan dan tato, tapi semua itu tampak manis sekaligus indah, bukannya mengotori kulit yang bersinar itu. Seolah itu adalah bagian dirinya yang menyatu dengan indah. “Semuanya keluar. Sekarang.” Suara berat Leo menghentikan waktu dan gerakan. Semua orang terperanjat saat melihat ke pintu, disusul oleh ekspresi ngeri dan kepanikan. “T-Tuan Issander!” Tatapan tajam Leo beralih satu-satu pada tiga wanita yang masih mengelilingi Virgo. Leo melangkah mendekat sambil melepaskan mantel yang ia kenakan, kemudian menjatuhkannya di bahu Virgo, melingkupinya dari pandangan orang-orang. “Aku bilang keluar. Lepaskan tanganmu dari Nona Thanaya.” Leo bisa melihat tubuh Virgo gemetar—entah takut atau marah. Di jarak ini, ia baru melihat bahwa ada banyak bekas cakaran di tangan para petugas, dengan merah memar di wajah dan rambut yang agak berantakan. Sementara memar memenuhi tangan Virgo yang dipegangi dengan kuat. Hati Leo berdetak dalam kepuasan. Bahkan dengan satu lawan tiga, Virgo tampaknya memberikan lebih banyak luka pada lawannya. Semua orang masih terdiam, tapi detik berikutnya Virgo menampar tangan seorang wanita yang masih memeganginya. “Berengsek, kubilang lepaskan aku!” raungnya dingin dan tertahan. Leo menoleh sedikit. “Jeremy.” “Ya, Tuan?” Di belakangnya, Jeremy mendekat patuh. “Amankan seluruh dokumentasinya. Lalu dapatkan nama orang-orang ini dan pastikan posisi mereka kosong besok,” pandangan Leo mengitari orang-orang, “beraninya mengotori kompetisi Keluarga Issander dengan menyerang secara personal dan mempermalukan seorang gadis.” Semua orang hanya bisa menunduk dalam-dalam. “Jika ada satu kata pun yang keluar tentang kejadian hari ini, maka seluruh keluarga kalian akan menanggung akibatnya.” Leo berkata tenang sekaligus dingin. Ancaman datar itu seolah membekukan seluruh ruangan. Orang-orang seketika terjun dalam ketakutan dan meminta pengampunan. “Maafkan kami, Tuan. Ka-kami sungguh hanya melakukan sesuai prosedur.” Salah seorang juri wanita mencicit takut. Leo meliriknya sedikit. “Jadi, maksudmu aku yang tidak paham aturan kompetisinya?” Semua orang kompak menggeleng panik. “Bukan! Sungguh, bukan seperti itu, Tuan Issander.” Issander adalah salah satu keluarga tersohor negeri ini. Bukan hanya karena mereka konglomerat dengan kekayaan tak terhitung, tapi juga karena kontrol dan kuasa yang mereka miliki pada media dan terhadap kepercayaan massa. Satu-satunya yang bisa menyaingi mereka adalah keluarga Anderson, meskipun sektor yang mereka kendalikan cenderung berbeda. Dengan nama Issander, entah itu kerabat jauh ataupun keluarga utama, semua orang akan tetap menghormatinya dan tidak repot-repot menjadi lawan jika tidak ingin berakhir buruk. “Masih diam saja? Apakah perintahku masih kurang jelas?!” Dengan isyarat itu, semua orang tergopoh-gopoh keluar ruangan. Leo melihat gaun yang sudah koyak dan kusut di lantai. “Jeremy, ambilkan pakaian baru dan beritahu manajer Nona Thanaya untuk menunggu karena artisnya harus berganti pakaian.” “Aku tidak butuh bantuanmu.” Virgo berkata dingin tanpa menatapnya. Jeremy pergi karena tahu situasi mulai menjadi personal. Leo menatap rubah keras kepala itu. “Kau lebih suka keluar dengan penampilan seperti itu?” Leo ingin membenarkan kerah jasnya, tapi Virgo menepis tangannya. Ia berbalik ke arahnya dan menatapnya tajam dengan seluruh makian dan tuduhan dalam tatapannya. “Kau yang menyuruh mereka melakukan ini?” Leo tidak bisa menahan kaget dan rasa tersinggungnya. “… apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD