8

708 Words
Kian hari kian jauh aku dengannya, kebungkaman yang seolah membangun sebuah dinding pembatas di antara kami berdua. Belakangan teman-temannya juga menelpon untuk mengungkapkan protes bahwa kinerja kerja Mas Hamdan tidak lagi seperti dulu. "Apa beliau sakit karena saya lihat setiap harinya lesu dan sedikit bicara," ucap salah seorang pekerja di tempat Mas Hamdan. "Tidak juga, mungkin suami saya memang sedang banyak pikiran. "Saya yakin beliau sakit, pekerjaannya banyak yang tertunda, sering terlihat bingung di meja kerja juga tubuhnya mulai kurus dan wajahnya pucat," sambung karyawan yang posisinya di bawah suamiku itu. Aku tahu persis bahwa sakit yang diderita Mas Hamdan adalah sakit rindu yang tidak tersampaikan dia terluka karena aku dan segenap anggota keluarganya menentang rencana poligaminya itu. Dia memang kehilangan berat badan karena jarang makan dan selalu termenung sedih, kadang melihatnya membuatku kesal, aku gemas dan ingin sekali berteriak agar dia sadar dan berhenti tenggelam dalam dunia cinta buta yang konyol. * "Tolong jemput Putri sore nanti di rumah gurunya ya Mas, karena hari ini mereka akan latihan menari untuk perlombaan minggu depan," ucapku ketika dia mengesap kopinya di meja makan. "Sore?" "Iya, sekalian saat kau pulang kerja." "Aku tidak bawa mobil, aku bawa motor," jawabnya dengan tatapan kosong. Aku tidak lagi memperkenankan dia membawa kendaraan besar kami. Aku khawatir kendaraan itu menimbulkan fitnah dan ujian yang lebih besar, biasanya orang akan tertarik dan silau pada harta orang lain, Aku tidak mau hartajadi petaka, jadi kuminta dia untuk mengendarai motor saja. "Memangnya kenapa kalau bawa motor? Apa kamu tidak sanggup membonceng putrimu?!" Hati ini yang sejak tadi menahan merasa gemas, langsung meledak begitu saja melihat dirinya yang susah diajak bicara. "Oh, iya, a-aku lupa. Nanti di-dimana alamatnya?" Aku masih menatapnya dengan ribuan rasa kesal dan tidak habis pikir dalam hatiku. Apakah Maura telah melempar kan sihir cintanya pada Mas Hamdan sehingga pria yang kucintai ini benar-benar kehilangan akal? "A-alamatnya di-di mana Aisyah?" tanyanya gugup. "Aka kukirim via WhatsApp." Aku membalikkan badan dengan gelengan kecewa padanya. Dia yang paham perasaanku gaya bisa mengungkapkan maaf dengan suara lirih. Ah, percuma sudah. ** Pukul empat sore, desa diguyur hujan, petir besahutan menimbulkan kilat yang sesaat menerangi rumah kelabu tempatku berada kini. Tetesan hujan menderas, menimbulkan bunyi syahdu yang menghadirkan sejuta makna dan rasa. Aku berdiri di pinggir jendela sambil mengetatkan pasmina yang menutupi bahuku, sambil sesekali berdoa semoga Mas Hamdan dan anak kami bisa pulang dengan selamat tanpa drama terjebak lumpur atau motor mereka macet. Detak jam bergulir, mendung gelap masih bergelayut di kaki awan bahkan kini lebih pekat karena hari merangkak petang. Hujan masih setia dengan dengungan ceritanya, aku mulai gelisah. "Mungkinkah, mereka berteduh dulu?" batinku sambil meraih ponsel. Kucoba hubungi Mas Hamdan tapi sayang, ponselku kehilangan sinyal. Mungkin karena hujan dengan angin kencang biasanya membuat pohon tumbang dan memutuskan kabel komunikasi dan listrik, jadi, aku harus bersabar. Sampai pukul enam sore, suara Al-Quran sudah mengalun dari speaker masjid, Mas Hamdan baru tiba di depan pintu rumah. Dia parkirkan motor sambil melepas jas hujannya. "Mas hujannya deras di sana?" "Iya," jawabnya tanpa menolehku. "Anak kita mana?" Pria itu tampak terkejut dia menatapku dengan tatapan bingung. "Anak yang mana?" Sampai di situ aku hanya bisa menarik nafas dalam sambil menahan amarahku, aku tak boleh berteriak, ya, tak boleh berteriak. "Bukannya aku meminta Mas untuk jemput Putri ke rumah gurunya? Dia ada latihan menari kamu gak ingat?" "Oh ... maaf, aku lupa," jawabnya gelagapan. "Aku yakin anak kita sedang gelisah menunggu, dia yang sedang menangis sedih saat ini. Kamu sungguh kehilangan akal dan keterlaluan, Mas," ucapku sambil merampas jas hujan dari tangannya, kukenakan benda itu lalu segera menghidupkan motor, pergi menjemput putriku yang berada enam kilometer dari rumah kami. Sialnya, hari sudah magrib. "Ah, tunggu, biar aku saja." "Masuk dan duduklah di dekat jendela lalu kenang kekasihmu," ucapku marah, tak sanggup kutahan, air mataku tumpah. Jika hanya aku yang terabaikan karena cintanya yang begitu besar pada wanita lain tidak masalah, tapi kini yang jadi korban juga anak kami, mengapa harus demikian? "Maafkan aku ...." Sayangnya ungkapan maaf itu sudah tidak berguna. Aku sudah sangat kecewa bahkan saking kecewanya hatiku merasa terlubangi. Sepanjang perjalanan air mata bercampur dengan hujan yang menampar-nampar wajah. Perih tak kurasakan karena yang sakit adalah perasaan. Kukemudikan motor di antara lumpur dan bebatuan, tak kuasa mengendalikan bannya tergelincir
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD