Pagi pagi sekali, bel pintu rumah berbunyi, kupikir itu adalah Karman yang bersiap-siap untuk mengantar anak ke sekolah, sehingga dengan tergopoh-gopoh aku pergi ke pintu depan untuk membukakan. Betapa sebalnya aku ketika membuka pintu karena sekali lagi, untuk kesekian kalinya, Maura datang. "Hah, ada apa lagi, apakah kau datang kemari untuk melayangkan surat somasi padaku?!" tanyaku berkacak pinggang dengan sutil di tangan. "Tidak, boleh saya masuk?" "Tidak ada ruang dan tempat untukmu dalam rumah ini karena setiap kali yang kau datang pasti ada petaka yang akan terjadi." "Ah, sudah Mbak Aisyah, jangan terus membully saya, niat saya baik datang pagi pagi ke rumah Mbak Aisyah," jawabnya dengan wajah menunduk. Kulirik perhiasan yang kini memenuhi jemari tangan, seperti toko berjal

