Sepanjang malam aku tak mampu memejamkan mata, pikiran dalam benakku saling tumpang tindih, bertumpuk tidak karuan. Tekanan di kepalaku menghimpit antara cemas dengan keadaan putri dan memikirkan suami yang kini tidur lelap dalam selimut tebalnya.
"Bisa-bisanya dia tak datang untuk melihat keadaan kami, tega-teganya dia tidak datang kemari lantaran berlindung dibalik rasa malu padaku, dasar pria b***t!"
Aku meninju dinding di mana aku bersandar. Kupandangi anakku yang tertidur pulas, juga detak jam dinding yang bergulir lambat, rasanya tak sabar menunggu esok, mengeluarkan putri dari rumah sakit dan pulang melampiaskan kemarahanku pada ayahnya yang tak peka.
"Ah, ya Allah, andai bisa, tolong berikan aku ketenagan pikiran, keluasan hati dan keikhlasan agar aku tak gelisah seperti ini," gumamku dalam hati. Aku tak tahu cara membuat hati ini berhenti berdebar selain mengucapkan istighfar.
"Bund ...." Tiba tiba anakku tersadar.
"Iya, Nak ...?" kuhampiri dia di tempat tidurnya lalu membelai wajahnya.
"Ayah gak datang?"
"Enggak."
"Kok enggak, bukannya ayah sayang padaku?"
"Iya, ayah sayang. Tapi mungkin dia ...." Ah, aku sendiri gamang harus memberikan jawaban apa. Hati ini bingung.
"Bunda ... ayah pernah janji kalau Putri sakit, ayah tak akan meninggalkan putri," gumamnya sedih.
"Besok kita akan bicarakan itu pada ayah, jangan nangis ya," bujukku berharap fajar menjelang, benang putih menerbitkan terang setelah gelap panjang. Aku ingin sekali bertemu Mas Hamdan dan menanyakan lagi apa arti keluarga ini untuknya.
Apakah ini waktunya untuk berakhir dan saling meninggalkan.
*
Kukira Mas Hamdan Tak terketuk sedikitpun untuk mengunjungi kami tapi ternyata pagi ini dia datang menjemput dengan mobilnya.
Setelah selesai mengurus administrasi Aku membawa Putri keluar ke lokasi parkir sambil menggendongnya.
Mas Hamdan menyambutku dengan tatapan penuh makna, tapi dia nampak bingung antara ingin menyapa atau mengucapkan Maaf, tapi sayang dia tidak melakukan keduanya.
Sampai di situ aku masih menahan diri tidak membicarakan apapun karena takut bahwa itu akan mengganggu perasaan dan mental anakku.
"Bagaimana keadaanmu Putri Maaf saya tidak bisa datang karena semalam menggarap laporan ditambah dengan hujan yang begitu deras."
"Ketika kamu tidak bisa datang dengan alasan hujan, sementara Mas Karman yang bukan keluarga rela menembus derasnya badai dan kubangan lumpur yang dalam, demi bisa menemui kami," jawabku sinis.
"Ah, sungguh, aku malu untuk minta maaf padamu," jawabnya sambil mengemudikan mobil.
Sepanjang perjalanan selama 40 menit aku membungkam, putri tertidur di pelukanku sementara Mas Hamdan setia dalam kebisuannya.
Sesampainya di rumah, Rini istri Karman sudah menyambut ternyata dia membantu suamiku bersih-bersih dan menyiapkan makan siang. Melihatku datang, wanita yang sudah dianggap Bibi oleh kedua anakku itu, nampak prihatin pada keadaan putri tapi di sisi lain dia juga lega, bahwa anakku masih baik baik saja.
"Akhirnya bisa pulang ya, Mbak," bisiknya.
"Terima kasih ya, maaf, sudah merepotkanmu," balasku tersenyum tipis.
"Mbak terlihat lelah, aku sarankan untuk tidur dulu ya, biar Mbak gak ikut sakit juga," usulnya.
"Kau baik baik saja, Rin. Makasih ya._"
"Kalau begitu saya kembali ke rumah dulu kalau butuh apa-apa jangan segan untuk memanggil Mbak," ujarnya pamit.
"Terima kasih, Rin, aku sangat terharu atas kepedulianmu."
"Tolong kendalikan diri untuk tidak bertengkar ya Mbak kasihan anak-anak mereka akan syok dan menangis, putri masih sakit ...."
Aku paham bahwa ucapannya hanya bentuk kepedulian, tidak hendak mencampuri urusan rumah tanggaku.
"Baik, Rini. Iya."
*
Setelah tetanggaku pulang, dan memastikan bahwa Putri masih tidur, kututup kembali pintu rumah agar kami semua bisa rehat sejenak dari orang orang yang ingin datang.
Bukannya tidak suka dikunjungi, tapi mereka orang-orang kampung yang penasarannya berlebihan, pastilah lebih ingin menyelidiki daripada menunjukkan simpati. Apalagi setelah desas-desus tentang rencana poligami Mas Hamdan, kampung ini seakan diguncang.
Bayangkan seorang pria yang hampir 40 tahun menaksir pada gadis muda yang harusnya sudah seperti anaknya.
"Ah, namanya juga pria ... puber kedua," ucap seseorang yang pernah terdengar olehku ketika aku hendak pergi membeli sayur.
"Lagipula si Bapaknya itu masih tampan dan berwibawa, tidak tampak bahwa umurnya sudah 40, apalagi kalau sudah berpakaian rapi dan mengenakan kacamata," timpal ibu ibu yang lain sambil cekikikan.
"Mungkin kecantikan dan pesona istrinya sudah tidak bisa mengimbangi ketampanan dan hasrat dirinya, sehingga dia cari daun muda."
Tidak tahan mendengar semua itu aku hanya bisa mengeraskan suara dengan pura-pura batuk, sehingga wanita-wanita yang sedang mengghibahi suamiku langsung diam dan gugup malu.
Itulah sekelumit komentar yang selalu menyakitkan perasaan, kupikir dalam minggu-minggu ini aku telah hidup dalam tekanan yang memberatkan dan puncak dari semuanya adalah kejadian semalam, di mana sampai saat ini aku belum melampiaskan kekesalan.
Kutemui suamiku yang terlihat sedang sibuk di meja kerjanya, dia terlihat mencari berkas dan mengumpulkannya dalam satu map.
Kututup pintu ruangannya dan menghampirinya.
"Setelah sikapmu yang lalai dan acuh sejak kemarin, apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?"
"Aisyah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, Karana aku yakin semuanya akan sampai salah dimatamu, maafkan aku," jawabnya menggeleng pelan.
Dia pikir hanya dengan mengucapkan maaf semua masalah akan berakhir.
"Aku tidak menganggap itu adalah bagian dari rasa malumu, tapi lebih pada alasan yang dibuat-buat agar kau terlihat menyesal," jawabku dingin.
"Iya, sudah kubilang tadi kan, kau tetap akan sinis," balasnya melanjutkan kegiatannya menyortir kertas.
"Kamu sadar Mas, kelalaian panjang ini imbasnya apa?"
Dia hanya menghela napas sambil menghentikan kegiatannya lagi.
"Halo kau akhirnya akan gila karena merindukan wanita itu maka pergilah, nikahi dia!" Wajah Mas Hamdan langsung mendongak kaget, binar matanya terkejut tapi di sisi lain dia berharap bahwa aku serius dengan itu.
"Kau berharap aku serius, kan? Pergilah menikah agar kau puas!" ulangku sekali lagi.
"Bukan begini caranya, Aisyah. Aku sudah berjanji tidak akan menemui wanita itu atau merindukannya lagi, tapi yang namanya perasaan tidak mampu dicegah. Setiap hari aku berjuang dengan hatiku, sayang kau tak memahaminya."
"Jadi hanya kamu yang ingin di pahami tidak tahukah kamu betapa nelangsanya aku melihat suami yang tidak punya perhatian lagi terhadap istri dan anaknya? Tahukah kamu betapa aku bersedih melihatmu yang selalu termenung memikirkan gadis itu. Jika dia sungguh merebut hati dan kesadaranmu, pergilah nikahi dia dan hidup bahagia!"
"Tidak akan."
"Kalau begitu kembalilah jadi suamiku yang dulu."
"Aku butuh waktu dan kesempatan."
"Sampai saat ini, aku belum menggugat cerai, itu karena aku memberimu kesempatan! Bukan karena aku terlalu mencintai atau takut bahwa tanpamu aku tidak akan makan, tapi aku sedang memperjuangkan keluarga kita, aku berusaha bersabar, Mas," jawabku dengan bulir bulir air mata yang sudah tak tertahan.. Bukannya aku menangisi orang yang kucintai tapi ada rasa sakit di d**a yang sejak lama bergejolak di sana. Aku ingin itu tersampaikan pada orangnya.
"Jika kami sungguh tak bernilai lagi di matamu, untuk apa kau di sini? Apa artinya kami untukmu, jawablah, sekali ini jawablah?!" desakku sambil menghampiri dan mengguncang bahunya.
Dia yang merasa bersalah hanya menunduk dan sedih dan ikut menangis.
"Aku, putri dan Raihan sangat mencintaimu, tapi di sisi lain, kami tersiksa karenamu, bisakah kau hentikan hukuman ini, bisakah ...?"
"Maa-maaf ..." Tiba-tiba suamiku menangis seakan dia tidak berdaya.
"Bisa kau tentukan sebuah pilihan? Pilihlah kami atau gadis itu," desakku semakin mengguncang bahunya sementara itu hanya terduduk lesu sambil menutup wajahnya.
"Aku ingin orang-orang yang kucintai berada di satu tempat, berada di antara cinta dan pelukanku, aku ingin kamu dan dia."
Di saat yang bersamaan tiba-tiba petir menggema di langit, aku langsung terdiam, menatapnya dan ekspresi wajahnya yang nampak tidak sedang berpura pura.
Plak!
Tamparanku mendarat dengan keras di pipinya.