64

1012 Words

Pukul tiga sore petugas dari pengadilan agama mengantarkan surat panggilan untuk persidangan. Mereka mengetuk pintu pagar, lalu aku bergegas membukanya. "Permisi, ibu Aisyah?" "Iya, saya." "Ini ada surat dari pengadilan agama," ucap pria berkacama dan berkulit gelap itu. "Oh, terima kasih Pak," jawabku menerima surat tersebut. "Apa pak Hamdan masih tinggal di sini?" "Tidak, tidak lagi." "Boleh saya tahu alamatnya sekarang?" "Jalan melati nomor enam, Pak, ruko Raihan Jaya." "Oh, baiklah," jawab pria itu mengangguk. Setelah selesai menandatangani kertas dan memberikannya kembali pada pria itu, aku pun mengucapkan terima kasih. "Sama-sama, Bu. Kalo begitu permisi, karena saya harus mengantarkan surat panggilan ini ke tempat Pak Hamdan, mari Bu," ujarnya sambil tersenyum lalu pergi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD