Seminggu setelah hari itu Mas Hamdan kembali berkunjung ke seperti biasa dia akan bawakan makanan kesukaan anak-anaknya dan duduk di ruang tamu seperti layaknya tamu yang tak akrab dengan tuan rumah. "Makasih ya Mas, sudah bawakan kentaki, kue cubit dan martabak keju," ucapku sambil meletakkan cangkir kopi di hadapannya. "Akhir-akhir ini aku jarang bertemu Raihan, aku ingin bertanya padamu tentang bagaimana ujian kenaikan kelasnya, apakah lancar?" "Lancar Mas, Alhamdulillah" jawabku mencomot martabat dari kotak lalu mencicipinya. "Kalau begitu, bagaimana keadaan suamimu, apakah kalian sudah bicara?" "Sudah." "Hutangnya sudah lunas?" "Sudah, aku mengambil rumah sebagai bayaran" "Ternyata semudah itu merusak hubungan. Aku sadar membangun kepercayaan dan tanggung jawab itu sangat sul

