Jauh di dalam hati kecilku, terbayanglah sosok teman sewaktu kecil. Entah bagaimana rupanya saat ini aku belum bisa membayangkan. Rupa saat sama-sama kecilpun aku tak lagi dapat mengingatnya dengan jelas. Mungkin saja semakin dewasa, tampan, gagah, berwibawa, itu semua tak dapat ku bayangkan dengan jelas. Mungkin pula dia hitam, terlalu gemuk, cupu, sungguh tak dapat ku bayangkan.
Teringatlah akan perangainya yang sangat tak bersahabat, selalu mengganggu dan tak bisa diajak bersahabat. Satu hal yang tak pernah terlupa oleh pikiranku, saat kenakalannya memuncak. Mendorong hingga aku tersungkur ke parit-parit yang baru saja selesai digali eskapator. Hampir saja nyawaku menghilang karena itu. Untunglah ada Arman yang datang menolong. Dia sangat pandai berenang ketika itu. Kalaulah bukan dia yang menolong, mungkin saja aku tidak tumbuh hingga sebesar ini.
Kenakalan itu hanya sebagian kecil yang ku ingat. Tak dapat ku bayangkan ketika dia beranjak dewasa ini, bisa saja dia lebih nakal dari saat kecilnya, atau justru dia lebih baik dari sewaktu kecilnya.Berubah total dari yang telah kusangkakan. Ya, semua itu tak dapat aku tebak-tebak sesuka hatiku. Tapi hati kecilku selalu mengatakan kalau dia lebih menyeramkan dari yang dahulunya. Bisa-bisa aku mati dibuatnya. Ah! Prasangkaku terlalu berlebihan. Semuanya belumlah tentu kebenarannya. Balumlah lagi bertemu dengan orang yang divonis itu. Moga-moga saja hanyalah sebuah prasangka yang tidak benar adanya.
Jantungku merasa ada yang berbeda. Berdebar sangat indah dan sulit ku ungkapkan dengan bahasa. Pikiran itu tidak disengaja ku teringat dengan jelas, meski aku tak yakin pasti bahwa kawan sewaktu kecil itu telah berubah drastis menjadi baik. Aku masih saja bermenung memikirkan hal itu, dua kemungkinan yang belumlah jelas. Tapi pikiran itu terus saja melekat di ingatan, entah mengapa rupanya.
Kembali ingatanku ke masa lalu, saat masih bersamanya. Dia pernah membuat aku sangat ketakutan. Melempar seekor ulat berwarna hijau, besar dan menjijikkan. Ya, itulah Syaiful. Padahal ia sangat tahu kalau binatang itu paling aku takuti. Namun kesengajaan itu membuatnya puas membuat aku berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Sangat menyebalkan dan sulit diberi toleransi sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, semua telah terlanjur belalu. Bagaimana tidak? sekarang suasananya telah jauh berbeda. Mungkin saja dia sudah tidak lagi mengenali aku yang sekarang. Bahkan pasti akan terjadi perkenalan ulang yang akan membuat aku dan dia canggung dan sangat bermalu muka untuk saling menatap.
Kehidupan yang dulu pastilah tidak sama dengan sekarang. Umi dan Hafizah juga pasti akan merasakan hal itu. Patilah pula mereka berbeda dari yang dulu. Yang dulunya hanyalah seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa, polos, lugu, dan cengeng. Sekarang semuanya akan berubah dengan drastis. Karena telah tumbuh menjadi anak yang dewasa dan pintar dan tidak cengeng lagi.
Ah, semakin lama aku semakin memikirkan yang tidak-tidak tentang teman kecilku itu. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa ketika esok akan bertemu. Mungkin aku akan diam saja dan tidak memperdulikannya. Biarlah dia yang akan mengajakku bercengkrama dahulu.
Aku merasa ada yang berbeda dengan diriku sendiri. Aku seolah tak mengenali siapa diriku ini. Berulang kali aku berusaha untuk mengembalikan diriku yang dulu, tapi sungguh terasa sangat aneh. Debar di jantungku mebuat aku seperti sesak nafas yang kambuh. Tapi tidaklah pula sesak kurasakan. Aku hanya dapat terdiam mengatasi perasaan yang seperti ini. Bingung sekali dan sekali bingung untuk debaran kali ini.
Ehmmm, Suasana di sekitar rumahku masih sangat sepi. Cuaca yang belum normal, masih membuat orang-orang hoby untuk istirahat. Sawahnya ditinggalkan sudah beberapa hari. Kemungkinan besar banyak terjadi di perkebunan. Tanaman yang rusak karena hama yang menempel di pepohonan perkebunan, baik cabe, padi, kacang panjang, kacang tanah, dan lain-lain.
Sama halnya dengan Umi dan ayahku, ia tinggallah di rumah sudah beberapa waktu ini. Ladang dan sawah tak di tilik-tiliknya.
Hafizah
Setelah beberapa saat aku terdiam di kamar, Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata panggilan dari Ustadzah, di Kuningan. Aku pun segera memencet tombol hijau.
“Assalamualaikum Ustadzah?” Kataku mengawali pembicaraan.
“Waalaikum salam Faizah. Kamu di mana sekarang?” Tanya Ustadzah padaku.
“Faizah masih di rumah, Ustadzah. Maaf belum bisa kembali ke pesantren, karena Umi belum mengizinkan Faizah segera kembali. Mungkin Faizah kembali hari ahad, Ustadzah.” Jawabku.
Ustadzah diam sejenak “Oh… Ya sudah. Saya kira kamu akan cepat kembali.” Kata Ustadzah Robiah dengan nada melemas.
“Memangnya ada apa Ustadzah. Ustadzah menangis ya?” Tanyaku mulai mengkhawatirkan sesuatu.
“Tidak… Ustadzah tidak apa-apa” Mengusap air mata. “Oh Iya, Faizah tidak lupa kan kalau hari senin ada tugas ke Bandung?” kata Ustadzah lagi agak terisak.
“Iya Ustadzah. Faizah tidak lupa. Ustadzah ikut kan? Karena Faizah tidak berani jikalau harus pergi sendiri.”
“Ehmmm… Ustadzah belum tau. Bisa jadi ikut dan bisa jadi tidak. Ustadzah yakin kamu berani dan kamu bisa, Faizah.” jawab Ustadzah meyakinkan aku.
“Insya Allah Ustadzah. Faizah bisa. Semuanya kan Faizah lakukan dengan baik. Akan Faizah lakukan sebisa mungkin.”
“Iya, Faizah. Ustadzah selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” kata Ustadzah memberi semangat. “Ya sudah, itu saja yang hendak Ustadzah katakan padamu. Lain waktu kita sambung lagi. Assalamualaikum” Ustadzah kembali terisak.
Belum sempat aku menjawab salamnya, telfon terputus. Aku penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi pada ustadzah Robiah. Aku tak sempat menanyakan. Ustadzah sepertinya sedang berduka. Namun kenapa ia tidak memberi tahu aku akan satu hal pun. Padahal hampir semua masalah di Pesantren aku diberi tahu jikalau harus ku tahu. Aku termenung cukup lama. Namun kegelisahanku tak ada jawabnya. Hanya banyak tanda tanya yang telintas dipikiranku. Tak biasanya Ustadzah begitu. Ah… Mungkin hanya perasaanku saja yang berlebihan. Mungkin karena aku sudah terlalu merindukan semua yang ada di sana.
“Faizah… Ada apa? kamu murung.” Tanya Hafizah yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“Tadi, Ustadzah Robiah menelfon kemari. Dia menanyakan kapan aku akan kembali ke pesantren. Tapi aku sedikit terheran, Ustadzah sepertinya habis menangis. Tapi aku tidak tahu kenapa. Belum sempat aku menanyakan, telfonnya sudah terputus.” Jawabku.
“Sudah… Tak usah berpikiran yang tidak-tidak. Mudah-mudahan di sana tidak ada apa-apa dan semoga semuanya baik-baik saja. Kamu yang sabar ya.” Kata Hafizah menenangkan aku.
“Iya Hafizah. Tapi aku heran saja, tidak biasanya Ustadzah Robiah seperti itu. Biasanya dia selalu bercerita tentang apa saja yang telah terjadi di pesantren. Tapi kali ini….”
“Sudahlah Faizah. Mungkin memang hal itu yang ingin ia sampaikan. Toh kan kamu sudah bilang kalau hari ahad kamu akan kembali. Mungkin ia hanya ingin mengingatkanmu saja.”
Aku mengangguk dan menyimpan semua rasa gelisah itu. Aku tidak ingin mereka merasakan kekhawatiranku saat ini.
Kesejukan malam ini semakin menguak tubuhku. Makin malam, cuaca semakin sejuk. Terasa hujan salju yang sangat deras dan menembus rumahku. Hampir tak ada beda antara di luar ataupun di dalam. Aku tak sadarkan diri. Seluruh keluargaku panik dan sibuk dengan kejadian itu. Mereka tampak sangat mengkhawatirkan aku yang sedang terkulai lemah di atas tempat tidurku. Umi menyelimuti aku dengan selimut yang paling tebal, mengompres dengan air hangat, dan menggosok-gosokkan minyak angin di leher dan perutku. Hujan yang deras, petir yang bersahut-sahutan membuat mereka tidak berani keluar membawaku ke balai pengobatan.
Selang beberapa lama, aku pun tersadar. Pucat wajahku bagaikan mayat hidup, kata mereka. Mereka tersenyum melihatku. Musnah sudah rasa khawatir diwajah mereka.
“Faizah tak apa-apa. Jangan khawatir ya?.” Kataku menenangkan mereka yang memandangku dalam-dalam.
“Faizah, bagaimana aku tak mengkhawatirkan mu. kamu sedang sakit. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.” Kata Hafizah sambil memegang tanganku erat-erat.
“Hafizah… Aku tidak apa-apa. Kamu lihatkan sekarang aku sudah bisa bicara lagi. Kamu tenang saja, kamu dan aku akan selalu bersama.” Jawabku menenangkan Hafizah.
“Kamu harus banyak istirahat, Zah. Kamu harus segera pulih. Besok kita ke dokter ya?” Kata Umi lagi.
“Tidak usah Mi. Faizah udah merasa baikan. Tapi Faizah masih lemas. Malam ini Faizah mau, Hafizah menemani Faizah di sini ya. Pasti besok pagi sudah pulih.” Jawabku.
Malam pun terus berlalu. Aku tidur dengan nyenyaknya. Hafizah setia menemaniku. Tak seekor nyamuk pun boleh hinggap dan menggigitku. Ia menjagaku sepanjang malam dengan penuh kasih sayangnya. Hingga pagi tiba, aku belum juga bangun. Ayah, Umi dan Hafizah sudah bangun dan melaksanakan shalat berjamaah. Mereka sengaja tidak membangunkan aku yang masih tertidur pulas. Hujan masih rintik-rintik. Awan mendung putih mulai tampak cerah. Burung-burung gereja mulai berdendang di atas genteng rumahku. Sangat berisik. Akupun terbangun. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 09:10.
“Duuuh… Kenapa tubuhku terasa sangat lemas. Aku tak berdaya bangkit dari tempat tidur. Apa yang terjadi padaku ya?.” Kataku dalam hati, sambil berusaha bangun.
“Faizah… Kamu masih butuh istirahat. Jangan dipaksakan kalau masih lemas, nanti makin sakit.” Kata Hafizah yang berlari menuju ke arahku yang sedang berusaha turun dari tempat tidur.
“Hafizah… aku masih kuat. Aku ini kuat.”
“Jangan bandel Faizah, kalau kuat tidak seperti ini. Istirahat sajalah dulu. Tubuhmu masih lemah. Lagi pula, kamu mau ke mana?” Tanya Hafizah sambil membantu aku duduk lagi di atas tempat tidur.
“Ehmmm… ya, Hafizah, biarkan aku di sini. Tadinya aku mau membantu ibu menyiapkan makanan untuk tamu nanti.” Jawabku menatap wajah Hafizah.
“Semuanya sudah selesai. Kamu tak usah khawatir, tadi aku dan ibu yang menyelesaikan. Ku ambilkan sarapan, ya?”
“Tak usah, nanti saja. Nanti kalau lapar, aku akan mengatakannya. Sekarang bantulah ibu.” Hafizah pun pergi meninggalkan aku.
Kini aku hanya bisa terduduk di kursi belajarku, dan menatap jendela. Rintikan hujan yang halus, seperti helaian-helaian benang putih yang terurai di depan jendela. Cuaca masih dingin, tapi untung tidak sedingin malam tadi. Aku mulai mencari secarik kertas dan seutas pena. Aku mulai menggoreskan tinta pena di atas kertas yang masih kosong. Aku mencoba membuat rancangan judul novel islami. Karena tidak banyak waktu lagi. Bandung telah menungguku. Hingga beberapa lama, aku tidak menemukan ide untuk judul karangan novelku. Hingga banyak kertas yang terbuang dan menumpuk. Cinta Terhalang Badai, Di Musim Gugur, Pasir Berhampar, Surat si Mati, Surat Terkahir untuk Imammu. Semua judul-judul yang telah ku tulis itu kembali ku coret. Membuang kembali ke kotak sampah yang berada di samping meja belajarku.
Aku kembali menatap jendela untuk mencari inspirasi. Tapi terasa buntu dan bingung. Untaian benang-benang gerimis belum juga reda. Seperti tidak pernah memberi kesempatan mentari menggantikan posisinya. Sudah beberapa hari ini sang raja siang, mentari, tertidur di singgasananya. Angin berdesir perlahan-lahan, semakin lama semakin kencang. Hingga menyeret sebuah lipatan kertas yang ada dihadapanku, terpelanting keluar jendela. “Aduh… suratnya jatuh.” Fikirku dalam hati. “Bagaimana kalau ada yang membacanya.” Aku mulai gelisah. Namun aku tidak mungkin keluar dengan kondisiku yang ku rasa sangat sedang lemah ini. Yang ada aku pasti akan terkena omelan Hafizah yang cukup cerewet.
Surat yang baru saja selesai ku tulis, terbang hingga melintasi jendela. Tidak masalah sebetulnya, dan tak akan ada yang membacanya. Karena tidaklah ada orang berlalu lalang di sini. Tidak lah ada yang peduli dengan sehela kertas kecil yang memang tak jelas itu.
Kebosanan mulai menyeruak di dalam hatiku. Hampir beberapa jam aku tidak keluar kamar yang cukup pengap bagiku. Padahal sebenarnya aku palinglah betah berada di kamar, tapi untuk kali ini aku sangat bosan. Bekali-kali aku mencoba untuk membetahkan diri, tapi hatiku ingin melonjak keluar. Dan yang membuat aku tak berani memaksakan kehendak untuk keluar, ialah Hafizah yang sangat suka ngomel. Kesehariannya bising kalau kehendaknya tak terturutkan. Alam yang sangat hening, membuatku merasa sepi sendirian di kamar ini. Bosan dan jenuh.