Matahari terus menaiki perbukitan langit. Petanda haru sudah semakin siang dan matahari akan kembali menyingsing ke peraduannya. Namun hari yang sudah semakin siang itu, tak sedikitpun tampak matahari di atas langit. Dan sampailah pula tamu yang telah ditunggu-tunggu.
“Asslamualaiku.” Kata salah seorang dari rombongan itu.
“Waalaikum salam.” Sahut Umi dari dapu dan berjalan keluar menyambut siapa yang telah datang.
Sesampainya di pintu, Umi segera membukanya dengan perlahan. “Eeeh, tamu jauh rupanya telah sampai. Ayo, silahkan masuk. “ Kata Umi mempersilahkan dua orang yang tengah berdiri tegak di hadapan pintu. Ibu Dewi tersenyum dengan sambutan Umi begitu pula dengan pak Ilham. “Hafizah, Faizah… Tamu Umi sudah datang.” Teriak Umi memanggil Hafizah dan aku. Mereka pun masuk dan duduk di kursi tamu yang telah di sediakan.
Hafizah dan aku belumlah bermuncul di depan tamu. Hafizah sedang di belakang dan aku masih berada di kamar. Debar-debar ini kembali membuat jantungku tidak karuan.
“Bagai mana nih kabar semuanya, sehat?”
“Alhamdulillah semuanya sehat.” Jawab Umi dengan ramahnya. “Dan bagaimana dengan kamu sendiri?”
“Seperti yang dilihat, mbak. Semuanya sehat.”
“Oh, ya Syukurlah.”
Suasana di rumah semakin hangat. Mereka saling menceritakan keluarganya yang telah lama berpisah. Rasa canggung sempat membuat suasana jadi beku. Namun tak berapa lama kemudian, rasa biasa mereka kala bersama dulu kembali sudah. Mereka tertawa dengan menceritakan hal-hal yang dulu pernah mereka alami. Menceitakan ketika aku menangis karena ulah anaknya. Menceritakan ketika aku didorong ke dalam parit, dan banyak lagi. Dan Umi pun menceritakan bagaimana bandelnya aku ketika masih bersama ibu Dewi. Hafizah yang sangat lasak bahkan banyak lagi. Aku di dalam kamar hanya dapat mendengarkan percakapan mereka yang mengasyikkan itu. Aku hanya ikut tersenyum-senyum saja mendengarnya. Karena hendak keluar aku belum mendapatkan keberanian.
Setelah agak lama tawa-tawa itu ku perdengarkan, aku hanya mendengar suara ayahku, Umi, pak Ilham dan ibu Dewi. Apakah hanya Ibu Dewi saja yang datang kemari. Aku rasa begitu. Karena sejak tadi tak sedikitpun ku dengar suara lain di sana. Penasaran, tapi belumlah aku memperoleh keberanian untuk keluar. Sedangkan Hafizah saja masih berada di belakang.
Setelah berselang beberapa lama, Umi kembali memanggilku dan Hafizah. Aku masih tetap berdiam di kamar. Wajahku yang sangat pucat membuat aku tak beranikan diri untuk keluar. Sedangkan Hafizah, ia muncul dari dapur dengan membawa setalam teh panas dalam beberapa gelas.
Aku tak tahu apa yang mereka lakukan di ruang tamu. Aku bertekat untuk tidak keluar dari kamar. Memilih untuk tetap diam menatap jendela yang kosong.
Tak berapa lama kemudian Hafizah menjemputku di dalam kamar. “Faizah, masih sakitkah?” Kata Hafizah perlahan.
Aku hanya menggeleng. Aku merasa malu tingkat tinggi.
“Umi memintamu keluar juga.”
“Duluanlah Hafizah, aku mau berjilbab dulu.”
“Aku menunggumu.”
Aku hanya tersenyum melihat saudaraku yang cerewet itu. Jika aku membantah keinginannya, pasti satu kata bantahanku itu akan bertambah menjadi seribu dibalasnya. Dengan perlahan-lahan aku merapikan jilbab dan Hafizahpun membantunya.
“Kamu cantik, Faizah.”
“Kamu lebih cantik.” kataku lagi, membalasnya.
Aku dan Hafizahpun sama sama tersenyum. Lalu beranjak dari kamar dan menemui Umi yang berada di ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, ternyata semua memandang kami berdua yang datang dari kamar. Aku pun sedikit terheran, ditatapnya mataku dan Hafizah secara bergantian. Aku melihat ibu Dewi masih cantik seperti yang dulu.
“Nah… ini Faizah, dan ini Hafizah” Kata Umi kemudian, memecah kesunyian sejenak itu. Sambil menarik tanganku dan tanhgan Hafizah perlahan-lahan untuk duduk di sampingnya.
Akupun bersalaman dengan ibu Dewi. “Kamu sangat beruntung Mutia. Punya anak kembar yang cantik-cantik, pintar lagi.” kata bu Dewi kemudian. Ku rasa sangat berlebihan pujian itu. Aku jadi tersipu malu dan tak kuasa menengadahkan kepala untuk memangdang ibu dewi.
“Ah… ibu, tak usah berlebihan.” Jawabku tertunduk malu.
“Faizah… Hafizah… Kalian ingat dengan Syaiful dan Agung? Sewaktu kalian kecil, Syaiful paling suka membuat kalian menangis.” kata Ibu dewi kemudian. Ibu Dewi seolah masih mengingat semua kejadian belasan tahun yang lalu. Memang, ibu Dewi masih sangat mengingatnya.
“Hafizah ingat bu. Syaiful kan yang selalu jail menyembunyikan boneka-boneka kami, dan dia juga yang melempar ulat kea rah Faizah. Yang selalu membuat Faizah takut dan dia pula yang mendorong Faizah ke parit kan?” jawab Hafizah seolah mengingat semuanya.
Ibu Dewi tersenyum dengan jawaban Hafizah.
“Kalau Faizah masih ingat?” Tanya ibu dewi lagi padaku.
Aku sangat mengingat masa kecilku bersama Syaiful. Dan aku juga ingat ketika Agung nakal juga padaku. Yaa… itu lah yang aku ingat ketika aku dan Hafizah berusia lima tahun. Saat itu Syaiful berusia tujuh tahun dan Agung berusia enam tahun. Setelah itu, keluarga mereka pindah ke Bandung. Hingga kini usiaku 17 tahun.
Ayahku tersenyum. “Kisah kalian dulu memang sangat lucu. Kalian pasti tidak pernah menyangka kan sekarang kalian sedah sebesar ini. Tapi tak mungkin kan akan bertengkar lagi.” kata ayahku. Biarlah, yang dulu-dulu kalian berantem itu menjadi cerita ketika kalian bertemu lagi.
Ya, aku juga sependapat dengan ayahku. Karena di usia yang sekarang tidaklah akan bertengkar juga. Mengingat masalah yang dulu aku jadi penasaran dengan Agung, apakah dia masih bandel dan nakal seperti dulu? Sayangnya kini tidaklah pula nampak di mana orangnya. Mungkinkah dia memang tidak ikut?
“Iya…. Kalian pasti sudah tumbuh rasa malu-malu.” Sahut Ibu Dewi. Umi hanya ikut tersenyum dengan percakapan ini.
“Oh iya bu… Lalu, sekarang mereka di mana? kenapa tidak ikut masuk? Ehmmmm, jangan-jangan mereka takut kena balasan kita.” Kata Hafizah lagi sambil tersenyum meledek.
“Iya… Mereka masih ada di luar. Katanya mau lihat-lihat suasana di sini. Mungkin sebentar lagi masu.” Kata Ibu Dewi sambil sekilas memandang ke pintu, yang dilihatnya belum ada orang yang datang dan masuk.
Aku pun berpamitan kepada mereka yang ada di di ruang tamu. Aku hanya ingin membaringkan tubuhku yang masih lemas. Aku tak memperdulikan apa pun yang mereka ceritakan setelah itu. Seketika penasarannya hilang mengenai anak-anak kecil yang dahulu jahil itu. Yang aku pikirkan hanyalah ingin berbaring. Aku pun berpamitan untuk segera masuk. Mereka hanya bisa memaklumi.
Umi beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke luar memanggil Syaiful dan Agung yang kebetulan nampak sedang berjalan mendekat ke rumah. Nampaknya mereka habis berkeliling-keliling perkampungan tempat tinggalku, yang juga pernah menjadi tempat tinggalnya.
“Iya mi, sebentar lagi.” Jawab Syaiful sambil mengantongi sebuah kertas kecil yang baru ia temukan. Lalu mengajak Agung untuk masuk. Mereka pun muncul. Tatapan matanya menatap Hafizah yang memang duduk tepat di hadapan pintu. Hafizah langsung tertunduk. Mereka tersenyum. Hafizah seolah tak dapat menilai mana Syaiful dan mana Agung. Keduanya taklah mirip dengan masa sewaktu kecil. Sama halnya Syaiful dan Agung, mereka juga tak dapat menilai yang berada di hadapannya itu Faizah atau Hafizah. Hafizah hanya terdiam melihat kedua sosok anak kecil yang dulu telah tumbuh menjadi orang yang gagah dan berwibawa. Mereka pun sama-sama tertunduk dengan penuh tanda tanya.
“Kalian ini, kemana saja. Dari tadi sudah ditunggu. ”Kata Umi sambil mempersilahkan mereka duduk.
Mereka pun berucap salam pada Umi, ayah, dan Hafizah. Lalu duduk tepat di samping ibunya. Kini mereka tampak sangat berbeda dari 12 tahun yang lalu. Wajah jail di wajah Syaiful dan Agung telah pudar. Namun, Agung nampak seperti tidak betah berada di sini. Terpancar seperti ada sesuatu hal yang telah ia tinggalkan di sana. Entah apa aku tidak tahu. Mungkin saja suasana di kampungku ini tidak terbiasa lagi olehnya.
Sebenarnya aku inginlah melihat Agung yang sekarang. Tapilah apa dayaku sekarang. Aku sangat merasa lemas. Dari dalam kamar aku hanya dapat membayangkan bayangan-bayangan mereka yang belum jelas tampak di mataku. Jiwaku kini seperti halnya orang jatuh cinta. Tapi apakah dengan hal secepat itu? Bertemu pun belum, tapi perasaan ini berkata lain pula.
Seketika aku tersadar, mereka itu hanyalah ingin berkunjung, datang ke rumah ini, hanya untuk bersilaturrahmi. Kenapa malah aku seolah kecentilan begini. Aku pun sesaat mengurungkan hati untuk tidak memiliki perasaan lain, kecuali senang telah dikunjungi oleh saudara jauh.
Matahari mulai tergelincir dari perbukitan langit. Menuruni langit yang mulai cerah. Anganku semakin melayang, aku mulai mengantuk. Untuk kali ini terkesan menjadi orang yang sombong. Tidak biasanya aku bisa tidur kalaulah ada tamu di rumah. Tapi saat ini, aku sangat malas untuk keluar, meski tamu yang datang adalah tamu jauh yang pernah menjadi tetangga dekat. Aku tak menghiraukan semua itu. Langsung saja aku tertidur dan memulai memejamkan mata yang memang sudah mengantuk. Aku tak memeperdulikan apa yang mereka lakukan setelah berbincang-bincang dengan senang.
Dua keluarga yang baru bertemu itu, tampak seperti kerabat yang sudah sekian lama tak bertemu. Saling melepas rindu dan berbagi cerita. Banyak cerita pula antara Hafizah, Syaiful dan Agung. Dengan candaan dan tawa mereka saling mengungkap kenakalan satu sama lain. Ya, aku juga ternyata pernah nakal dan jahil kepada mereka. Mereka pun makan siang bersama, seadanya, yang telah dimasak Umi dan Hafizah pagi tadi.
Sungguh aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya mengantuk dan ingin berbaring. Tak peduli lagi dengan yang ada di sekitar.
Memandang Bintang Paling Terang
Malam minggu ini terlihat mulai cerah. Bintang berkelipan di atas langit. Mendung sudah hilang berganti keceriaan malam yang begitu cemerlang. Aku dan Hafizah duduk di kursi depan rumah. Umi dan ayahku menemani ibu Dewi dan seperti sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Aku pun tidak tahu apa yang sedang diperbincangkan mereka. Syaiful dan Agung sedang pergi ke masjid yang berada dekat dengan rumahku.
Aku dan Hafizah menatap langit yang begitu indah. Diiringi desis angin yang cukup sejuk. Tapi aku tidak ingin menyiakan malam yang indah ini. Karena sudah sepekan ini hujan tiada henti. Bintang yang tiada muncul dan bulan berselimut awan hitam. Tetapi, kini bulan dan bintangnya tertawa ria memandang alam.
“Hafizah… Kamu lihat bintang yang terang itu?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah bintang yang berwarna paling terang. “Aku rasa dia adalah malaikat kedamaianku, yang pernah melintas di depan jendela kamarku waktu itu. Ehmmm, tapi saat itu dia menghilang entah ke mana. Sudah kucari, sudah ku tunggu, namun tak pernah tampak lagi.”
“Faizah… Sungguh suatu anugrah jikalau malaikat kedamaianmu datang kembali. Cinta tidak perlu dikejar atau dicari, tetapi pertahankan rasa yang ada. Karena ketulusan cinta kita pada seseorang dapat terwujud, asalkan kita tidak pernah lupa pada cinta pertama kita, Allah. Dialah yang akan mempertemukan kita pada orang yang kita cinta. Karena Dia lah yang akan membahagiakan hamba-hambanya yang mencintainya.” jawab Hafizah sangat bijaksana.
Aku merenung sejenak apa yang telah dikatakan oleh Hafizah. Dia begitu bijak dan selalu memberikan yang terbaik untukku. Kemudian aku pun memandangnya. Aku sedikit terpaku. Sangat tampak di wajahnya ada sebuah kebahagiaan yang sedang mengisi hatinya. Aku berpikir, apakah ia sedang jatuh cinta? Sebelumnya aku belum pernah melihat tatapan matanya yang berbinar-binar begitu menyenangkan.
“Hafizah… Maukah kamu menceritaan sesuatu padaku? Dari wajahmu nampak sebuah kebahagiaan yang berbeda.” Dengan lembut tanyaku, yang membuatnya sedikit terkejut.
“Ah… Kamu Faizah. Tak ada apa-apa.” Jawabnya dengan wajah yang memerah, lelu pergi masuk meninggalkan aku. Sepertinya dia memang belum siap untuk menceritakan sesuatu itu. Aku yakin hatinya masih berdegup sangat kuat. Sama seperti yang aku rasakan siang kemarin.
Nampaknya Hafizah menyembunyikan sesuatu. Tapi mungkin dia belum siap untuk mengatakan sesuatu padaku saat ini. Aku akan menunggu sampai Hafizah mau menceritakan kegundahan hatinya yang membuat dirinya sangat bijaksana. Sebelumnya aku pun belum pernah melihat tingkahnya yang begitu manis. Biasanya dia sangatlah cerewet dan suka ngomel. Tapi kali ini sungguh lain perangainya. Membuat aku semakin yakin kalau ada sesuatu yang mendera jiwanya.
Hafizah kembali menatap bintang. Menatap bintang yang ku tunjuk tadi, sepertinya ada yang sedang ia bayangkan. Entah apa? entahlah aku pun tak tahu. Hafizah tersenyum sendiri ketika cukup lama memandang bintang itu. Aku semakin curiga dengan tingahnya saat ini. Ingin sekali aku mendengar cerita tentang pikirannya saat ini, tapi aku tidaklah mendapat kuasa untuk memintanya menceritakan apa yang aku inginkan. Aku hanya ikut senang melihatnya senang.
Semakin ku lihat, cuaca malam ini semakin cerah namun masih berhembusan angin yang sejuk. Aku pun merasa tidak hanya Hafizah yang berbeda. Tetapi aku juga. Aku terus terbayang seseorang yang muncul di depan jendelaku kemarin, malaikat kedamaianku. Rasa senang itu tak kunjung hilang di makan waktu malam. Meski sosok kedamaian itu belumlah jelas bagiku, tapi sangat berpengaruh dalam pikiran dan batinku. Menatap bintang itu, menggantikan sosok yang pernah ku lihat saat lelaki itu melintasi kamarku. Kamar yang menghadap ke jalanan kecil arah ke masjid.
Suasan kampungku masih juga hening. Hanya ada beberapa orang yang tengah berjalan menuju masjid untuk menunaikan shalat isya di masjid Al-Huda itu. Masjid yang selalu ramai dikunjungi orang dan anak-anak belajar mangaji.
Aku masih teringat betul sewaktu masih kecil. Belajar mengaji dengan Bang Rizky. Abang yang super galak dan pandai mengaji. Meski bang Rizky terkenal sangat galak, tapi aku belum pernah terkena pukul tongkat rotannya yang biasa di gunakan untuk memukul anak-anak yang bandel dan bebal dalam belajar mengaji. Ya, aku berbangga hati sedikit, karena aku termasuk murid kesayangannya. Pernah sekali saat aku ulang tahun yang ke 8 tahun bang Rizky memberi aku kado al-quran. Dari sanalah aku semakin rajin mengaji. Bagaimana tidak, karena Bang Rizky meminta aku harus rajin-rajin mengaji agar menjadi anak yang shalihah dan kalau aku malas mengaji, al-quran itu akan diminta lagi.
Bang Rizky, aku tidak tahu sekarang keberadaannya di mana. Sejak aku masuk SMP, ia pindah tempat tinggal, karena sebuah masalah keluarga yang mengakibatkan ia harus pindah meninggalkan rumahnya di kampung ini. Aku merindukan masa-masa dulu saat belajar mengaji. Syaiful dan Agung sering kali terkena pukulan bang Rizky, dan aku adalah orang yang paling senang melihat kejadian mereka terkena pukul ketika itu. Karena kenakalan mereka terhadapku telah dibalaskan oleh bang Rizky.
Sesaat aku tersenyum sendiri mengingat masa lalu itu. Aku kembali melihat dan berfokus pada bintang terang, malaikat kedamaianku. Meski sosoknya tak ada tapi itu cukup membuatku tenang dan damai melihatnya. Sesekali pula aku melihat siapa yang melintas di hadapanku__bapak dan remaja__yang akan menunaikan shalat isanya.
Hafizah menatapku perlahan. Dilihatnya aku yang masih terpaku manatap langit yang berbintang itu. Lalu Hafizah pergi meninggalkan aku seorang diri yang duduk di beranda rumah. Aku masih belum mau menyusulnya, kerinduan akan malaikat kedamaianku itu belumlah terlepas. Dengan tenang aku kembali menatap langit. Tak berapa lama, kumandang adzan berbunyi. Pertanda panggilan bagi kamum muslimin untuk segera menunaikan shalat isa.