Musim hujan sepekan ini tiada henti. Langit terlihat mendung tiada celah untuk mentari menampakkan diri. Angin selalu berhembus ke sana ke mari tak tau arah. Burung-burung meringkuk di sangkarnya, enggan untuk keluar dan mencari makan. Mereka hanya berusaha menghangatkan tubuhnya yang merasa sangat kedinginan. Suasana yang dingin, membuat seluruh tumbuhan berdiri kaku dan beku. Tiada gairah untuk dapat bergoyang-goyang menghiasi alam. Dengan diamlah ia merasa kalau dirinya sedang melindungi tubuhnya yang tersiram benih-benih butiaran air hujan yang tinggal gerimis.
Biri-biri pun menegakkan bulu tebalnya untuk menyelimuti tubuh yang mungkin kedinginan. Rintikan hujan berdentang-denting di atas genteng rumahku. Cukup ramai namun bukan karena suara manusia, melainkan hujan yang bergantian jatuhnya. Dengan lembut angin menembus celah-celah jendela memasuki kamarku. Membelai telinga, pipi, rambut, mata dan kulitku hingga menggigil. Aku pun tak terlepas dari jaket tebal yang aku kenakan. Sungguh, seperti hujan salju yang membuat banyak orang tidak mau keluar. Sejak tiga hari yang lalu aku hanya bisa menuju ke dapur dan kamarku.
Ketika itu kucoba membuka jendela perlahan-lahan. Jendela yang beberapa hari ini tak ku sentuh. Dengan leluasa dan gembira, angin sejuk menyerobot masuk seperti hendak merebut suatu benda yang sangat berharga. Aku semakin menggigil. Namun aku merasakan kesegaran udara siang itu. Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah mandi pagi. Kesejukan itulah yang membuat aku tidak berani menyentuh air di kala pagi. Semua air menjadi dingin. Baik itu air bak, air dalam teko dan air dalam kendi. Jangankan air yang benar-benar disajikan dalam keadaan dingin, air yang telah direbuspun dalam beberapa menit dingin kembali. Sebab itulah Umi selalu membuatkan air teh untuk Ayah dan langsung memberikan dan menyuruh ayah segera meminumnya. Karena jika tidak, ya itu tadi, airnya akan dingin dan tidak nikmat lagi untuk diseruput.
Pakaian-pakaian yang tersimpan dalam lemari pun terasa dingin. Kasur yang ku tiduri, bila kutinggal dan beranjak ke dapur, setelah aku kembali maka kasur itu berubah menjadi dingin juga. Coba kawan bayangkan betapa dinginnya cuaca dalam bulan oktober ini. Sungguh membuat banyak orang enggan menjauhi dapurnya. Karena hanya dapurlah yang dapat membuat mereka bertahan dari kejamnya cuaca bulan ini.
Mataku terpaku pada sebatang pohon yang kuncup daun-daunnya. Aku tersenyum. Ternyata bukan hanya aku yang kedinginan. Pohon yang tinggi dan kokoh pun merasakan kesejukan yang teramat sangat ini. Suasana kampungku pun sepi bila di pagi hari, mereka mulai beraktifitas ke sawahnya jika sudah pukul sebelas ke atas. Entah sampai kapan cuaca seperti ini akan berhenti bermain-main untuk mengganggu kenyamanan daerah ini. Ketika mataku sedang asyik menatap pohon yang berada di tepi jalan kecil dekat rumahku itu, sekitar sepuluh meter melintas seseorang yang tidak ku kenal.
“Assalamualaikum.” Katanya sambil mengangguk padaku. Dari kejauhan dengan senyuman yang membuat aku terperanga.
“Waalaikumsalam.” jawabku setelah beberapa detik terdiam, sambil cepat-cepan membenahkan jilbab yang ku kenakan.
Aku mengernyitkan dahi. Siapa dia? seorang lelaki yang mengenakan sarung kotak-kotak berwarna biru, baju koko berwarna putih, dan menyandang sajadah biru di bahunya. Berjalan menuju masjid yang tidak jauh dari rumahku. Langkahnya tegap dan sopan, rambutnya separuh tertutup peci hitam, wajahnya tidak asing di mataku. matanya tajam dan sedikit arif. Sepintas seperti aku mengenalnya. Tetapi siapa? di mana?. Sungguh aku lupa. Hatiku berubah menjadi degup yang mengencang. Ada apa dengan ku!
Aku tertegun sejenak sambil mengingat-ingat, barang kali aku memang mengenalnya. Lalu mataku terbelalak mencari seseorang yang melintas tadi. Hilang. Tak ada tampak lagi keberadaannya. Hingga mataku lelah, aku tidak menemukannya kembali. Yang ada hanya para tetangga yang juga melintas di jalan kecil depan rumahku. Dia hilang, pikirku. Mungkin ini hanya halusinasiku saja. Karena aku baru bangun tidur. Tapi batinku begitu yakin kalau lelaki itu adalah nyata adanya. Aku seperti pernah mengenalnya. Ah… itu semua hanya membuat aku pusing bila ku ingat-ingat.
Aku pikir, mungkin nanti kala lepas shalat jumat lelaki itu akan lewat kembali. Tanpaku ku sadari aku menunggu dengan gelisah, dari kamarku, aku setia menunggunya melintas di depan jendala kamarku. Degup jantungku membuat keringatku bercucuran. Seakan-akan aku lupa akan cuaca yang begitu dingin ini. Semua terasa membakar tubuhku ketika lelaki itu melintas membawa api kedamaian di hati. Setelah ia berlalu, aku pun kembali memandang jalanan yang sepi. Mungkin saja para ibu-ibu sedang menidurkan anak-anaknya yang masih kecil. Anak-anak gadisnya mungkin saja sedang tidur atau dengan kesibukannya masing-masing. Suasana sungguh sepi. Karena bagi kamum adam, baik bapak-bapak maupun anak lelakinya sedang melaksanakan shalat jumat.
Tidak sedikitpun aku lengah dengan penantian ini. Dengan harapan pembawa kedamaian itu akan melintas lagi. Kesabaran di hatiku, membuat aku lupa segalanya. Hanya senyumannya yang ada dalam pikiranku. Apakah aku mengenalnya? aku rasa aku pernah bertemu dengannya. Tapi di mana? Kapan?. Aduh! kepalaku mulai pusing memikirkannya.
Setelah satu jam lima belas menit aku menunggu, akhirnya orang-orang shalat jumat keluar dan turun dari masjid. Satu persatu aku melihat siapa yang melintas, dengan perasaan yang penuh harap-harap. Dengan harapan lelaki muda itu akan mengucap salam lagi padaku. Namun, hingga semua orang melintas, seseorang yang kucari tadi tak kutemukan. Kemana dia? tidak mungkin kalau dia lewat belakang rumah, pikirku lagi. Aku sungguh mulai kecewa. Aku pun tertunduk malu pada diriku sendiri. Ternyata aku hanya berhalusinasi. Mungkinkah yang tadi itu adalah malaikat yang sengaja melintas di hadapanku?. Hingga saat dia kembali, dia tidak melintasi jalan ini lagi.
Sungguh aku akan sangat bahagia jika aku bertemu lagi dengan malaikat pembawa suluh kedamaian itu. Selama orang-orang berlalu lalang keluar masjid, suasana ramai dan terasa perkampungan ini ada penghuninya. Seperti suasana dalam pesantren. Semua orang memakai baju muslim, memakai sarung, memakai peci, dan membawa sajadah. Sungguh terasa tentram perkampungan ini. Ya, kampung tempat tinggalku ini masih menerapkan wajibnya shalat jumat berjamaah di masjid dari mulai kanak-kanak sampai yang tua-tua. Ketika adzan tiba mereka berbondong-bondong menuju masjid dan meninggalkannya ketika selesai melaksanakan shalat. Sehingga kampung begitu ramai dikala orang pergi ke masjid dan pulang dari masjid. Sungguh pemandangan yang menyejukkan. Aku berharap merekalah calon-calon ahli surga kelak. Tapi dari banyaknya orang yang melintasi rumahku, sosok yang kucari adalah malaikat kedamaianku. Rasa penasaran itu menyeruak di dasar kalbuku yang sedang risau. Menantikan sosok kedamaianku hadir di hadapan dan kembali mengirim senyum damainya. Tapi ternyata hanyalah memberikan sebuah harapan palsu yang membuat aku kecewa dengan penantian yang tak tau harus disebut dengan penantian apa. Malaikat kedamaian? Aku ingin menyebutnya dengan malaikat kedamaian, karena aku merasa meski hanyalah sekilas pandangan kami bertemu, ia telah membawa kedamaian dan ketenang.