Teman SMP
Setelah beberapa lama aku menunggu sosok yang melintas tadi, aku tidak juga menemukannya. Aku kembali terpaku menatap jauh entah ke mana. Pikiranku tak dapat mengejar mataku yang menerawang cukup jauh. Sangat jauh dan sulit untuk segera kembali.
“Assalamualaikum?” katanya. Terdengar lagi suara pengucap salam.
“Waalaikum salam” Jawabku sambil perlahan-lahan mengembalikan pikiran dan mataku yang tengah menerawang cukup jauh itu. Hingga aku menemukan sosok yang mengucap salam tadi “Hai, Arman.” Kataku. Ketika melihat yang berdiri dihadapanku adalah teman sekolahku dulu saat SMP.
“Kamu sedang apa di sana? sejak tadi ku lihat kamu menatap jendela dengan penuh harap. Apakah yang kamu tunggu?” tanyanya padaku.
“Ah… Kamu ini, aku tidak sedang apa-apa. Hanya ingin mencari udara segar saja.” Jawabku sedikit berbohong.
“Oh begitu. Oh iya, lalu kapan kamu akan kembali ke Kuningan?”
“Besok pagi, Arman. Apakah kamu mau ikut? di sana sangat mengasyikkan. Di sana kita bisa belajar bersama. Juga banyak hal yang akan kita dapat.”
“Ehmmm… Maaf, sepertinya tidak bisa. Jumat depan aku akan pergi ke Tebu Ireng.”
“Oh… Apakah kamu sekolah di sana?”
“Iya, Faizah. Aku lanjut sekolah di sana. Lagi pula, selagi masih ada umur untuk menuntut ilmu, kenapa harus disia-siakan. Iya kan? Aku ingin membuat perubahan dikampung ini.”
“Keinginanmu mulia sekali, Arman. Jikalau aku ada umur juga, aku akan membantumu untuk mengembangkan kampung ini.” aku tak dapat berkata apa-apa lagi.
“Iya, Faizah. Aku juga berharap begitu. Mudah-mudahan cita-cita ini akan tercapai. Ya sudah Faizah, aku pamit pulang dulu. Ada temanku yang mau datang ke rumah. Assalamualaikum?”
“Iya Arman, waalaikum salam. Hati-hati.” jawabku.
Arman adalah temanku yang paling cupu saat SMP. Aku tidak menyangka kalau saat ini dia jauh berbeda dari yang dulu. Kacamata tebal yang biasanya ia kenakan, kini tidak lagi nampak menutupi matanya yang agak sipit. Setelah lulus SMP aku dan dia berpisah, begitu juga dengan teman-teman lain di kampungku. Bahkan ada juga yang tidak menyambung sekolahnya ke SMA. Ternyata Arman lanjut ke Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Di mana pesantren itu adalah pesantren terbesar dan terbaik nomor tiga di Inonesia. Pesantren yang memiliki peraturan-peraturan yang sangat ketat dan memiliki sistem pendidikan yang sangat baik. Siswa yang masuk ke sana juga cukup banyak.
Keinginanku untuk melanjutkan sekolah di sana tidaklah tersampaikan. Padahal aku telah mempersiapkan diri untuk bersekolah dan menghadapi peraturan-peraturan di pesantren itu. Karena yang kudengar, santri yang berdatangan menimba ilmu di Pesantren Tebuireng itu semakin banyak dan beragam. Kenyataan tersebut juga telah mendorong pihak Pondok Pesantren Tebu ireng beberapa kali telah melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikannya. Sebagaimana pesantren-pesantren pada zaman pendiriannya, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah ada metode sorogan dan metode weton. Semua bentuk pengajaran itu tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang khatam atau selesai dikaji dan diikuti para santrinya. Materi yang diajarkan pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at dan bahasa Arab. Itulah yang membuat aku begitu menginginkan bersekolah di sana. Semuanya menarik dan ingin ku dalami, tapi ternyata keinginan hanyalah keinginan. Nyatanya tidka kesampaian hingga saat ini. Ingin memang rasanya belajar bersama ketika Arman pulang ke kampung, hanya sajaa waktu belumlah berpihak di antara aku dan Arman.
Meskipun kabarnya telah mengalami perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan di sana, aku tetap menginginkan pesantren itu sebagai tempatku menimba ilmu dan memperdalam agamaku. Ya… Aku tahu semuanya karena sejak dulu aku ingin menjai santri di sana. Aku juga tidak menduga kalau Arman lulus mengikuti tes masuk pesantren itu. Aku cukup kecewa saat itu, aku dinyatakan tidak lulus tes di pesatren yang memang jadi idola bagi semua pelajar yang ingin mendalami ilmu agama.
Meski keinginanku untuk masuk pesantren Tebuireng tidak kesampaian, aku lebih senang dengan pendidikan di pesantren tempat aku bersekolah saat ini, pesantren Husnul Khatimah. Tidak jauh berbeda dengan pesantren-pesantren terbaik di Indonesia. Di sana juga memiliki pendidikan yang bagus untuk santri-santri yang bersungguh-sungguh menimba ilmu. Kini telah ku lupakan keinginanku untuk nyantri di Tebuireng. Selain aku tidak beruntung untuk masuk di sana, aku juga telah menemukan pondokan yang tidak kalah pendidikannya.
Arman pun pergi meninggalkan aku yang masih terpaku di jendela. Aku berpikir, apakah yang aku lihat tadi adalah Arman? Ah… sepertinya tidak. Seseorang yang aku lihat tadi memakai baju putih. Sedangkan Arman memakai baju berwarna cream. Sungguh membuat aku semakin penasaran.
“Faizah… buka pintu nak.” Suara Umi mengetuk pintu dan memanggil namaku.
Aku terkejut. “Iya Mi…” Akupun membukakan pintu untuk Umi.
Setelah ku buka pintu, aku dituntunnya kembali ke tempat tidurku lalu duduk. “Ada apa Mi?” Tanyaku dengan perlahan dan penasaran.
“Nak, bagaimana kalau kamu kembali ke Kuningannya ditunda. Umi ada sesuatu hal yang membuat kamu tidak bisa cepat kembali ke Kuningan.” Dengan lembut Umi membujukku sambil memegang tanganku dengan segenap kasih sayangnya.
“Memangnya hal apa Mi?” Tanyaku dengan nada yang lembut pula.
“Ehmmm… Besok teman Umi dari Bandung akan datang. Dia ingin bersilaturrahmi ke sini.”
“Apakah Faizah harus ikut, Mi?”
“Umi rasa begitu. Karena mungkin saja untuk mempererat persahabatan Umi dengannya. Umi bersahabat dengannya sejak sekolah kelas 2 SMA. Sebab itu ia ingin bertemu dengan anak-anak Umi juga. Tidak ada maksud apa-apa, kecuali ingin bersilaturrahmi. Kelak hari kalau kita pun ada waktu, pastilah kita bisa bersilaturrahmi ke sana pula.” katanya sambil membelai bahuku dengan lembut.
“Mi… bukankah ada Hafizah yang sekaligus mewakili Faizah. Mungkin Hafizah bisa mewakili bertemu dengan teman Umi. Bukannya Faizah tidak mau Mi, tapi Faizah harus cepat kembali. Karena hari seninnya Faizah ada tugas, ada perlombaan yang harus Faizah ikuti, tempatnya cukup jauh. Jadi harus banyak hal yang Faizah harus persiapkan.” Jawabku dengan perasaan takut menyakiti hatinya.
Hafizah adalah saudara kembarku. Dia saudaraku satu-satunya. Aku sangat menyayanginya. Bagiku dia adalah teman hidupku yang tak bisa tergantikan. Aku dan dia sangatlah mirip. Hanya bedanya dia berkulit putih, sedangkan aku berkulit sawo matang. Aku tak peduli orang menilai bagaimana tentang kami. Ibuku sangat menyayangi kami berdua. Tak pernah pilih kasih. Umi sangat adil dalam menyayangi dan mencintai kami. Ayahku juga begitu.Faizah juga saudara yang dapat mengerti ak, membuat kasih sayangku padanya sangatlah tulus.
“Faizah… kamu tak perlu khawatir, teman Umi cuma dua hari di sini. Sesudah itu hari minggu mereka akan kembali. Kamu bisa pergi bersamanya, Mereka ke Bandung dan kamu ke Kuningan. Bagaimana?” Katanya lagi tanpa putus semangat membujukku.
Aku tertunduk sejenak, mempertimbangkan keputusan apa yang akan ku ambil. “Ehmm… Baiklah Umi. Faizah turuti keinginan Umi. Selagi Faizah bisa melakukannya, apapun akan Faizah lakukan.”
Umi langsung mencium keningku dengan lembut. Aku sangat menyayanginya. Kasih sayangnya padaku membuat aku semakin menyayanginya. Setelah beberapa lama aku dan umi berbincang-bincang, Hafizah memanggil-manggil namaku.
“Faizah… Faizah… Kamu di mana?” Kata Hafizah kemudian terdengar suara membuka pintu kamarku. “Kalian sedang apa? Maaf aku mengganggu.” Katanya lagi dan kemudiah beranjak hendak keluar.
“Hafizah… kemarilah nak. Ada sesuatu yang hendak Umi katakana padamu.” Kata Umi memanggil Hafizah kemudian.
Hafizah datang mendekati kami. “Ada apa Umi?” lalu duduk di sampingku.
“Besok Kamu tak usah pergi ke mana-mana ya?” Membelai kepala Hafizah.
“Ada apa memangnya, Umi.? Apakah Umi akan pergi dan aku jaga rumah?” Tanya Kak Hafizah sedikit lesu.
“Bukan nak, Besok ada tamu Umi mau datang dari Bandung. Jadi, Umi ingin anak-anak Umi menemui mereka besok. Kalian tahu? Dulu sewaktu kalian masih berumur tiga tahun, teman Umi sangat menyukai kalian. Dia selalu datang kemari untuk melihat perkembangan kalian. Kamunikan kalian membuatnya selalu merindukan kalian. Hafizah yang selalu lasak berjalan ke mana-mana, sampai Umi kelelahan mengejarnya. Dan Faizah yang cerewet, manja, dan selalu meminta gendong pada teman Umi itu. Tapi, semenjak dia pindah ke Bandung, belum pernah ia datang lagi kemari. Oleh karena itu ia ingin bertemu dengan kalian. Ia ingin melihat anak-anak yang dulu bandel, sekarang telah beranjak dewasa.
“Ehmm… Baiklah Umi.” Jawabnya lalu tersenyum.
“Ya sudah, kalau begitu Umi hendak ke dapur.” kata Umi lalu meninggalkan kami berdua. Aku dan Hafizah saling pandang lalu tersenyum.
“Hafizah… Dingin sekali ya? Entah sampai kapan cuaca ini akan berlalu. Aku sungguh tidak tahan.” kataku kemudian sambil membenarkan jaket yang aku kenakan.
“Faizah, kamu istirahat sajalah. Nanti sesak nafasmu kambuh lagi. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa.” jawabnya lagi.
“Tidak Hafizah. Aku mau bantu Umi saja di dapur.”
“Ayo! aku juga. Sebelum kita berpisaah lagi. Karena kalau kita sudah jauh, kapan lagi kan?.”
Aku dan Hafizah pun berjalan menuju dapur. Ya, di dapurlah tempat yang senang untuk dikunjungi. Karena udara yang begitu dingin membuat sekujur tubuh mengigil. Aku memang tidak tahan dingin, bisa-bisa sesegera mungkin nafasku kambuh lagi. Penyakit itu ku rasakan sejak aku SMP. Aku tidak tahu asal mulanya penyakit itu datang, yang pasti saat ini ia sering kambuh saat cuaca dingin. Aku cukup ketakutan bila penyakit itu kambuh karena hal itu membuat aku sulit bernafas dan seperti hanya tinggal setengah nyawa. Banyak obat yang ditawarkan. Tapi aku tidak mau meminumnya. Karena bagiku obat-obat itu aneh, ada daging kelelawar, daging katak, dan daging monyet. Sungguh aku tak akan kuasa untuk menelan binatang itu. Aku hanya mempercayai obat-obat yang diberikan oleh dokter. Selain itu aku tak mau meminumnya