Mereka makan siang di kafe biasanya, kafe langganan mereka. Suasana kali ini sedikit lebih ramai dari suasana pada hari lainnya. Maklumlah akhir pekan, banyak keluarga ataupun pasangan yang memilih untuk makan di luar saat seperti sekarang seperti halnya mereka berdua. Atas usul Tara, Dini setuju mereka duduk di meja nomor lima yang berada di luar ruangan. Tak masalah bagi Dini, yang penting baginya mereka bisa duduk dan cepat menikmati makanan. Sungguh, dia sangat lapar sekarang. Apa yang dirasakan hatinya membuatnya ingin makan lebih banyak. Memang terdengar kurang baik, tapi dia tetap harus makan agar bisa mengalihkan perhatian. Sayangnya Dini tidak bisa, dia tetap saja memikirkan Seraphina dan Andre. Mereka berdua tampak serasi, tapi tidak cocok. Dini menarik napas panjang, menggelen

