Jam menunjukkan pukul 5 sore saat Ezra menunggu Elisa bersiap. Hari reuni yang ditunggu tiba. Dan sesuai janji Ezra menemani Elisa menemui teman- teman sekolahnya dan menemaninya menginap beberapa hari di villa yang dipesan temannya untuk reunian.
“ menunggu lama, kak?” ucap Elisa, tampak Elisa kini dengan riasan lengkap dan mini dress hitam ketat tanpa lengan dengan panjang hanya sebatas lutut- nya. Memancarkan elok tubuhnya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai rapi membuat penampilannya semakin mempesona.
“ kau sudah tahu akan kemana?” tanya Ezra menghidupkan mobilnya. Kali ini ia memakai mobil yang berbeda dari biasanya, biasanya ia tak ingin menarik perhatian sehingga memilih menggunakan mobil biasa, namun setelah tahu bahwa saat sekolah dulu Elisa pernah di bully membuatnya memilih menggunakan mobil terbaiknya, meski Ezra yakin Elisa takkan menyadarinya. Elisa bukan tipe orang yang suka bersolek dan hidup glamour, bahkan jika bukan karena dipaksa, ia takkan mau mengambil gaun yang bagi Ezra murah. Bahkan wanita itu tak menggunakan perhiasaan mahal dan hanya menggunakan kalung kain yang sangat murah. Kecuali anting yang digunakannya, selain karena kulit Elisa sensitive dan akan bengkak jika tidak menggunakan emas asli, Ezra tidak mengatakan harga anting yang sekarang ia belikan untuk Elisa.
“ sudah, restoran XX yang ada di distrik LL.” ucap Elisa melihat ponselnya.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sampai di tempat yang dituju. Restoran bintang lima yang sekarang sedang tranding di semua postingan i********: dan sering dijadikan tempat nongkrong para orang kaya karena memiliki bar yang hanya bisa di masuki oleh orang- orang berduit.
“ masuk- lah dulu, aku menyusul.” ucap Ezra, yang diam- diam ingin melihat secara pasti apakah benar- teman sekolah Elisa sering membully- nya, atau mungkin hanya informasi yang salah karena pribadi Elisa yang pendiam.
Dan gelak tawa langsung terdengar bersamaan saat Elisa masuk keruangannya, bukan gelak tawa canda melainkan ejekan.
“ kau datang sendiri, El?” ejek Stevany salah satu temannya yang berambut lurus hasil salon tampak akar rambutnya adalah rambut aslinya, Ezra yakin dulunya wanita yang kini mengejek Elisa memiliki rambut keriting yang jelek.
“ ya, iya- lah siapa yang mau sama Elisa.” ucap Meney menimpali. Kali ini wanita dengan wajah yang lumayan cantik dengan kulit putih bersih namun memiliki tubuh yang gendut, tampak dari pakaiannya wanita itu berasal dari keluarga yang kaya.
“ Ndre, kamu sama dia ajh, tuh Elisa lagi sendiri.” ucap Devy, wanita yang cantik, putih, tinggi dengan rambut kering, kelihatannya karena sering di warnai- mengejek seorang pria yang tinggi, kurus namun lumayan tampan, Ezra yakin pria yang di ejeknya adalah mantan dari wanita itu sendiri. Melihat kediaman Elisa membuat Ezra mendekati Elisa dan menghentikan menamati teman- teman Elisa dari jauh. Ezra yakin Elisa sedang menahan tangisnya sekarang.
“ tuan? Tuan siapa, ya, maaf disini udah dipesan untuk reuni sekolah.” ucap Novi yang melihat Ezra langsung masuk tanpa memperlihatkan kartu undangannya. Tampak wanita yang menanyakan padanya ini bersemu merah melihat ketampanan Ezra.
“ maaf, aku bersama kekasihku.” ucap Ezra yang langsung menjadi bahan pembicaraan orang- orang didalamnya, pasalnya wajah tampan Ezra sudah menarik perhatian semenjak kedatangan pria itu di ruangan yang mereka pesan untuk satu angkatan.
“ ja.., jangan- jangan kekasih, Devi, ya?” ucap Andre, pria yang tadi di ejek Devi.
“ iya, Devi- kan cantik ga ada yang ga suka sama dia.” timpal Cain, wanita yang sedari tadi menempel dengan Devi, tampak suaranya paling sumbang sendiri dari yang lain tapi Ezra yakin itu cuma dibuat- buat, wanita itu pasti sering bernyanyi. Sementara wanita yang menjadi bahan obrolan itu terlihat bingung dan hanya diam sambil tersenyum.
Ribut dan riuh semakin terdengar saat Ezra mendekat ke arah para wanita yang ada nama Devi didalamnya.
“ sayang, kenapa kamu diam saja? Kamu sakit?” ucap Ezra merangkul pinggang Elisa. Sontak ribut dan riuh mereka semakin pecah ketika mengetahui bahwa kekasih dari pria tampan yang belum diketahui namanya itu adalah Elisa, wanita yang sedari tadi menjadi bahan ejekan. Tampak Elisa sendiri terkejut akan kelakuan Ezra dan panggilan yang baru saja Ezra sebut pada- nya.
“ pura- pura, agar mereka diam dan tak mengejekmu lagi.” bisik Ezra yang langsung dimengerti Elisa.
“ a..ah, iya, gapapa, dingin disini.” ucap Elisa tampak suaranya masih tercekat karena menahan tangis yang hendak keluar. Mendengar Elisa kedinginan Ezra langsung melepas jas luarnya dan mengenekannya pada Elisa.
“ ayo kita duduk, disana kebetulan ada dua kursi yang kosong.” ucap Ezra menunjuk dua kursi yang duduk bersebelahan.