***** Flashback, 10 tahun yang lalu *****
Royal Private High School. Hampir seluruh siswa-siswi di sekolah ini berasal dari keluarga konglomerat. Hanya sebagian kecil yang merupakan warga biasa, itupun karena mereka mendapat beasiswa yang jika mampu bertahan disekolah ini maka mereka dipastikan bermental baja. Bahkan sesama anak konglomerat saja masih bisa menjadi sasaran bully, apalagi kaum rakyat jelata yang sering kali dianggap parasit oleh kelompok sosial ini.
Segerombolan siswa-siswi penguasa sekolah itu tengah berkumpul dibagian tengah kantin dan saling berbincang. Terdapat tiga siswi dan empat siswa, yang mana empat dari mereka adalah pasangan kekasih. Mereka adalah Gianna dan kelompok gadisnya Andrea dan Ruby. Sedangkan kelompok pria itu terdiri dari Elio, Max, Sean, dan Ryker. Elio adalah kekasih Andrea dan Max adalah kekasih Ruby. Sedangkan Gianna, Sean, dan Ryker seringkali saling menggoda meskipun tanpa status lebih dari teman.
“Satu bulan lagi kau berulang tahun, sudah buat rencana mau pesta seperti apa?” Tanya Gianna pada Andrea.
“Entahlah, aku sedang tidak ada ide.” Jawab Andrea sambil mengedikkan bahunya.
“Tahun lalu kau merayakan sweet seventeen dengan yacht party, kan?” Ryker bertanya memastikan yang dijawab anggukan Andrea.
“Kita sudah melakukan beragam jenis party hingga rasanya mulai membosankan.” Gumam Ruby.
“Benar sekali. Kalau saja ada sesuatu yang lebih menantang, pasti akan seru sekali.” Balas Gianna.
“Lalu, bagaimana dengan hadiah, beb? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?” Tanya Elio.
“Hemmm…apa ya?” Andrea terlihat berpikir sesaat. Ia kemudian menjentikkan jarinya karena mendapat ide bagus. “Ada yang kuinginkan, tapi harus Gianna yang melakukannya!”
“Apa? Katakan saja, aku akan memberikannya padamu.” Tanya Gianna.
“Wah, aku jadi penasaran.” Ujar Sean.
“Aku ingin Gianna mengencani seseorang.” Ungkap Andrea.
Ruby terkekeh, “bukankah itu gampang? Ryker dan Sean juga pasti siap menjadi kekasih Gianna.”
Kedua pria yang disebut itupun mengangguk dan menyetujui pernyataan Ruby.
“Itu tidak seru!” Protes Andrea.
“Lalu?” Tanya Gianna.
“Aku ingin kau mengencani dia!”
Andrea menunjuk pada seorang siswa yang tengah duduk sendiri di taman samping kantin dan menikmati bekal makan siangnya.
“Apa? Kau gila memintaku mengencani pria cupu dan kutu buku sepertinya?” Tanya Gianna tidak terima.
“Kenapa harus dia Re? Seperti aku dan Sean tidak bisa saja!” Seru Ryker sambil mencebik.
“Terlalu mudah kalau kalian. Lagipula pria polos sepertinya pasti sangat menarik untuk dipermainkan.” Balas Andrea dengan senyum miringnya.
“Tapi dia kan,-”
“Aku ingin kau membuatnya jatuh cinta padamu dan membawanya ke pesta ulang tahunku sebagai kekasihmu.” Andrea memotong ucapan protes Gianna.
Gianna menghela nafasnya pasrah. Ia tahu temannya itu tak ingin dibantah. “Apa keuntungannya untukku?”
“Bukankah kau sedang mengincar set perhiasan dari Cartier limited edition yang baru akan dirilis dua minggu lagi? Kalau kau bisa melakukannya, aku akan memberikan itu untukmu.” Jawab Andrea sambil tersenyum menantang.
“Oke, deal!” Seru Gianna menyetujui. “Aku akan mulai bergerak sekarang.”
Gianna meninggalkan tempat duduknya dan bergerak keluar ruangan menuju siswa yang ditunjuk Andrea tadi. Teman-temannya pun bersorak menyemangatinya yang telah semakin jauh meninggalkan kantin.
*****
Siswa itu tengah duduk sendirian di bangku taman. Sesekali ia menggigit sandwich ditangannya, namun fokus utama tetap pada pencil sketchbooknya. Hampir seluruh siswa-siswi sekolah itu mengenalnya, namun tak satupun yang berpredikat sebagai temannya, karena pria itu memang lebih suka menyendiri.
Meskipun ia juga berasal dari kalangan konglomerat, namun penampilannya sungguh tak mencerminkan kelebihannya itu. Tubuhnya agak kurus dan selalu tertutup pakaian yang ketinggalan zaman dan terkesan norak. Belum lagi matanya yang selalu terbalut kacamata kuda, menyembunyikan iris birunya yang indah. Juga rambut coklat kemerahannya yang meskipun tidak bergaya belah tengah tapi selalu terlihat klimis.
Dengan manis Gianna langsung duduk di hadapan targetnya yang membuat siswa itu terkejut bukan main. Siswa itu memang selalu canggung saat ada orang lain yang berada disekitarnya.
“Austin, hai!” Sapa Gianna.
“A-ada apa?” Tanya siswa itu yang tak lain adalah Austin.
“Hanya ingin menyapa.” Jawab Gianna santai. “Kau sedang apa?” Gianna melongok pada sketchbook milik Austin.
“Bu-bukan apa-apa. Pe-pergilah, jangan me-mengganguku!” Seru Austin terbata-bata. Kecanggungannya berinteraksi dengan orang lain mengakibatkan Austin memiliki gangguan verbal.
Gianna tersenyum manis. Ia yang sudah terbiasa melakukan flirting dengan beragam jenis pria merasa tertantang karena belum pernah sekalipun menaklukkan jenis nerd kikuk seperti dihadapannya saat ini.
“Oh, ayolah! Aku kan tidak mengganggumu, hanya ingin duduk disini memangnya tidak boleh?” Tanya Gianna dengan nada manja.
“Kk-kau meng-ganggu privasiku.” Jawab Austin seraya mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan Gianna.
Gadis itu menegakkan tubuhnya selepas kepergian Austin. Matanya masih mengikuti kearah perginya pria berkacamata itu. Seulas senyum timbul dari sudut bibirnya yang dipoles lipstick berwarna kemerahan.
“Menarik.” Gumam Gianna.
****
Gianna masih terus melancarkan aksinya mendekati Austin. Hampir setiap waktu kosongnya ia gunakan untuk menampakkan diri dihadapan pria itu. Entah sebuah keberuntungan atau malah kesialan, keduanya menyukai hal yang sama, yaitu membuat sketsa meskipun dengan objek yang berbeda. Sehingga hal ini menjadi senjata Gianna untuk menaklukkan Austin. Seperti saat ini, Austin tengah berada di perpustakaan dan sedang membuat sketsa objek disekitarnya saat Gianna menghampiri.
"Austin, hai!"
“Su-sudah kub-bilang jangan meng-gangguku!” Seru Austin kesal.
“Santai saja, aku tidak akan mengganggumu! Lihat, aku akan melakukan kegiatanku sendiri. Jangan pedulikan aku!” Balas Gianna sambil menunjukkan sketchbook dan peralatan gambarnya.
Austin tidak bisa tidak memperdulikan keberadaan Gianna, karena gadis itu mengambil duduk tepat disampingnya. Meskipun Gianna memang tidak mengucapkan apapun dan fokus pada bukunya, namun tetap saja keberadaannya membuat atensi Austin terganggu. Iapun berniat meninggalkan Gianna, namun lengannya ditahan oleh gadis itu.
“Semua kursi penuh, disini saja!”
Gianna menarik lengan Austin sehingga pria itu kembali terduduk.
Mau tidak mau Austin mengikuti perkataan gadis disebelahnya. Perlahan ia mulai melawan rasa canggung dan tidak nyaman dalam dirinya karena keadaan yang memaksanya. Ia pun kembali larut pada bukunya, begitupula dengan Gianna.
Kejadian itu terus berulang dihari-hari berikutnya dan Austin tak lagi protes pada kehadiran Gianna disekitarnya. Interaksi mereka juga semakin membaik. Kerap kali mereka saling berbincang meskipun tak terlalu banyak.
Kesukaan mereka pada dunia gambar dan sketsa juga semakin membuat Austin nyaman hingga tanpa terasa ia seringkali merasa kehilangan saat Gianna tidak ada disekitarnya. Seperti hari ini, Gianna tak menampakkan dirinya dihadapan Austin selama jam istirahat, membuat pria itu penasaran dan mencari-cari keberadaan Gianna. Namun ia tak menemukan gadis itu dimanapun hingga bel yang mengakhiri jam istirahat pun berbunyi dan membuat Austin terpaksa harus kembali kekelasnya.
Saat jam sekolah usai Austin dengan segera meninggalkan kelas dan menuju ke tempat parkir. Saat ia akan membuka pintu mobilnya, suara seseorang membuatnya kaget hingga membuat buku-buku ditangannya terjatuh.
“Aku membuatmu terkejut ya? Maaf!” Ujar seorang gadis yang tadi mengagetkannya dan tak lain adalah Gianna.
Austin yang masih berusaha menormalkan detak jantungnya tak bisa langsung mengambil buku-bukunya, sehingga Gianna lah yang mengambilkannya.
“Nih!” Gianna memberikan buku-buku itu kembali pada pemiliknya.
“Kk-kau kemana saja hari ini? Kk-kenapa tidak aa-ada di tempat biasa?” Tanya Austin dengan menatap tajam Gianna.
“Kenapa? Kau merindukanku?” Tanya Gianna yang dibalas anggukan Austin. Kini Gianna yang berganti terkejut namun tak lama kemudian ia malah terkekeh.
“Wah Bergmann, kau sudah bisa bercanda sekarang!”
“Ak-aku serius.” Balas Austin singkat dan tajam.
Kalimat itu membuat Gianna membatu. Meskipun tujuannya memang membuat pria dihadapannya ini jatuh cinta padanya, namun ia tak mengira jika langkahnya sudah semakin dekat dengan keberhasilan. Mengingat betapa sulitnya pria itu didekati pada awalnya.
“Kalau begitu, ayo kita berkencan!” Ajak Gianna tanpa basa basi.
“Jj-jangan memper-mainkanku!” Sanggah Austin yang dibalas kekehan Gianna.
“Aku serius! Aku menyukaimu maka jadilah kekasihku, Austin Bergmann!”
Pria itu tidak langsung menjawab. Otaknya seakan blank dan tak mampu memberikan respon apapun.
Cup
Gianna tiba-tiba menempelkan bibirnya pada Austin yang membuat pria itu semakin membatu.
“Aku menunggu jawabanmu, Austin.” Ujar Gianna sambil tersenyum manis.
“Ak-aku, ak-aku,-“
“Katakan!”
“Bb-baiklah! Aa-ayo berkencan!”
Cup
Gianna kembali mencium Austin. Kali ini lebih dalam dan ia juga melumat bibir yang masih polos itu, membuat Austin bingung harus melakukan apa karena ini adalah pertama kali ia berciuman dengan seorang gadis.
Keduanya resmi menjadi sepasang kekasih tepat satu minggu sebelum pesta ulang tahun Andrea digelar.
*****
Sesuai perjanjiannya dengan rekan-rekannya, Gianna membawa Austin ke pesta Andrea yang dirayakan disebuah resort mewah. Tentu saja Gianna memaksa Austin untuk datang, karena pria itu tidak menyukai keramaian pesta sama sekali. Kehadiran mereka cukup menjadi buah bibir. Bagaimana tidak, keduanya seperti minyak dan air yang tidak seharusnya menyatu. Bukan hanya tentang status kepopuleran, namun juga gaya penampilan mereka yang sangat bertolak belakang, termasuk juga kepribadiannya.
*****
Tak disangka, hubungan Austin dan Gianna telah terjalin selama satu bulan dan menjadi semakin intens. Gadis itu juga sering membawa Austin ke acara-acara pesta yang biasa ia hadiri. Disekolah pun mereka juga masih sering melakukan kegiatannya membuat sketsa bersama, bahkan kini Austin juga diajak Gianna duduk ditempat ia dan teman-temannya makan dikantin. Tempat paling elit yang hanya bisa diisi oleh kelompok ini saja. Meskipun pria itu merasa tidak nyaman, namun ia tetap menuruti ajakan Gianna.
Hari ini Austin tak menemukan Gianna ditempat biasanya mereka bertemu. Ia mulai mencari keberadaan gadisnya itu kemana-mana, hingga atensinya menemukan Gianna tengah bersama dengan teman-temannya di kantin. Namun bukan itu yang membuat Austin terganggu hingga rasa marah menjalar di hati dan otaknya. Ia melihat Gianna tengah b******u panas dengan seorang temannya yang bernama Ryker dan itu dilakukan ditengah-tengah kerumunan, disaat semua orang disana tahu bahwa Gianna adalah kekasih Austin.
Pria itupun langsung menghampiri kerumunan dan tangannya langsung menggebrak meja.
“Gianna! Ap-apa yang kau lakukan?” Tanya Austin dengan berteriak marah, membuat kegiatan Gianna dan Ryker harus terhenti.
“Oops, babe. Ada pacarku disini.” Ujar Gianna seperti sok ketahuan yang membuat teman-temannya terkekeh. “Austin, hai!”
Gadis itu malah menyapa Austin dengan wajah tanpa bersalahnya.
“Austin ha-hai?” Austin menirukan ucapan Gianna dengan nada tidak percaya. “Aa-apa maksudmu? Ke-kenapa kalian,”
“Berciuman? Tentu saja karena aku menyukai Ryker.” Potong Gianna dengan senyum sinisnya.
Gianna yang sebelumnya duduk diatas meja bersama Ryker pun segera turun dan menghampiri Austin. “Kau tidak suka aku berciuman dengan orang lain, hon?”
“Tt-tentu saja! Kk-kau itu pacarku!”
“Baiklah! Kalau begitu kita putus saja. Aku sudah bosan denganmu. Lagipula, aku juga tidak suka punya pacar gagu dengan penampilan kampungan sepertimu.”
“Tt-tapi, aa-aku mencintaimu, Gia!”
“Dan aku tidak pernah mencintaimu, Bergmann. Aku hanya sedang bertaruh dengan teman-temanku dan aku menang.”
“Kk-kau, kk-kau jahat, Gia! Aa-aku sudah memberikan se-semuanya untukmu, tt-tapi kau malah mem-permainkanku? Kenapa kau tega ss-sekali padaku?”
“Ah, untuk itu? Kau payah di ranjang Austin. Tapi terima kasih telah memberikan keperjakaanmu padaku. Aku akan menghargainya dan hanya itu saja. Kau pergilah! Aku tak ingin melihatmu lagi!”
“Kk-kuharap kau akan hancur, Gia! Dd-dan aku akan menjadi oo-orang pertama yang akan bber-tepuk tangan.”
Austin mengepalkan kedua tangannya dan segera berlalu pergi. Rasa cintanya untuk Gianna adalah sebuah ketulusan, apalagi Gianna telah mengambil semua predikat pertama dalam hidupnya. Cinta pertama, ciuman pertama, pacar pertama, bahkan ia mau melakukan hubungan seksual yang pertama kali juga karena ajakan gadis itu. Namun dengan begitu mudahnya Gianna membuangnya dan mempermalukannya dihadapan teman-teman sekolahnya.
Dan karena alasan itulah Austin mulai berubah. Ia mulai mengikuti terapi wicara yang awalnya selalu ditolaknya saat ditawarkan oleh ibunya agar ia tidak gagu lagi. Setelah lulus high school ia juga mulai mengikuti kegiatan-kegiatan kampus yang bisa membuatnya meningkatkan keterampilan sosialnya. Penampilannya menjadi semakin modis sejak ia meminta seorang penata busana untuk membantunya memilih gaya yang sesuai dengannya. Ia juga mulai mendatangi pusat kebugaran dan mulai membentuk badannya hingga menjadi lebih atletis dan berotot.
Namun bukan hanya perubahan positif yang dialami Austin. Pria itu juga mulai sering keluar masuk club malam meskipun usianya masih belum cukup. Berganti-ganti pasangan semakin menjadi hal yang lumrah untuknya. Apalagi saat melakukan seks dia selalu teringat akan cemoohan Gianna yang mengatakan jika dirinya payah diatas ranjang. Hal itu membuatnya semakin marah dan gelap mata.
***** Flashback End *****
***** to be continued *****