"Maksud ibu apa?" Wajah pucat serta keringat dingin kini membasahi wajah Arum melihat bangunan rumah sederhana didepannya. Arum lupa, dan ia sempat lupa seperti apa tempat asalnya yang dulu, tapi kini ingatan itu kembali setelah melihatnya. Kenangan buruk yang selalu ia terima kembali berputar diotaknya bak kaset rusak. "Kenapa ibu membawaku kesini?" Arum menoleh pada Arinka berdiri arogant disampingnya, Arinka melipat kedua tangan sambil menoleh pada Arum. "Kenapa? Ini rumah ibu dan itu berarti ini rumah kamu juga, kan kamu anak ibu" "Nggak!" "Apa kamu mau menyangkal kalau ibu ini ibu kandungmu?" Tanya Arinka tak percaya "Ya Tuhan, kenapa aku melahirkan anak durhaka sepertinya?" Sambung Arinka sinis membuat Arum meneguk salivanya susah. Arum mengepalkan kedua tangan dengan tangis

