Chapter 4. Panik

1306 Words
--Happy Reading-- Sebuah pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Apa jadinya jika sebuah pernikahan yang terjadi tanpa kenal, sayang dan cinta? Percayalah, seiring berjalannya waktu, maka kamu akan perlahan mengenal, tumbuh sayang dan jatuh cinta kepada pasanganmu dengan cara yang indah, melalui doa-doa bermunajat lewat jalur langit. *** Hari semakin beranjak sore, para tamu undangan di desaku satu-persatu berangsur-angsur pergi. Kini, aku akan segera bersiap untuk diboyong oleh keluarga suamiku, juragan Zein Wardana. Aku yang sudah resmi menjadi istri dari pria lumpuh dan buta itu pun, hanya bisa patuh tanpa bisa menolak permintaan dari juragan Zein Wardana yang mengharuskan aku untuk turut serta tinggal di kediamannya. “Saya titipkan Putri bungsu saya, Juragan. Maaf, jika saya sudah mengecewakan Juragan, atas incident yang terjadi,” ujar ayah dengan wajah tertunduk penuh penyesalan, sudah mengganti calon menantunya secara dadakan. “Tidak apa-apa, mau menikah dengan Asma atau pun dengan Anna, kedua-duanya pun sama-sama Putri kamu, Sabda. Mungkin, jodoh dari cucuku itu ya Putrimu yang bernama Anna,” tuturnya bijak, kemudian menepuk-nepuk bahu ayah pelan. Wajah yang bersahaja, mampu membuat semua orang sungkan dan hormat kepada juragan Zein. “Terima kasih atas kebaikannya, Juragan.” Ayah terlihat mencium punggung tangan juragan Zein. Kemudian, ibu pun ikut melakukan hal yang sama seperti ayah. “Ibu, Ayah,” ucapku lirih. Aku pun berpamitan kepada ibu dan ayah dengan mencium punggung tangan keduanya, lalu memeluk mereka dengan eratnya. Seolah tidak ingin berpisah, air mataku sepertinya tiada habis-habisnya untuk menetes. Rasa sedih, geram, jengkel dan resah menjadi satu, kala mengingat diri ini yang kini menyadang status seorang istri. “Jangan manja dan cengeng!” nasehat ibuku terlontar usai mengurai pelukkan kami. Perlahan-lahan, ibu mengusap air mataku dengan jemari tangannya. “Ayah yakin, kamu gadis yang tegar, Anna,” ucap ayah mengusap puncak kepalaku. Aku menggeleng pelan, ucapan mereka begitu menusuk dadaku. Aku sendiri tidak yakin dengan apa yang akan terjadi nanti. Apakah aku mampu melalui semua ini, dengan hati yang terpaksa? Usai berpamitan, kami pun segera melangkah pergi menuju ke dalam mobil milik juragan Zein. Seorang supir membukakan pintu untuk kami. Kemudian, sang supir pun membantu mas Adam turun dari kursi rodanya untuk duduk di kursi penumpang di sampingku. Sementara itu, juragan Zein duduk bersampingan dengan pak supir. Aku bergeming dan memejamkan mata beberapa saat, ingin lepas dari kenyataan dan berharap ini hanyalah sebuah mimpi saja. Bagaimana hari-hariku nanti, dengan setiap hari mengurus laki-laki lumpuh dan buta yang sialnya kini menjadi suamiku? Ibu dan ayah melambaikan tangan ke arah kami dengan derai air mata yang membasahi wajah keduanya. Aku yang masih setengah percaya dengan apa yang terjadi hari ini, hanya bisa membeku dengan air mata yang mengiringi kepergianku dan sekujur tubuhku pun bergetar hebat. “Semoga kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan, Anna,” ucap ibuku lirih, disaat mobil yang kami naiki menghilang dari perkarangan rumah yang selama ini aku dibesarkan. Aku tidak mampu berkata-kata lagi, disaat meninggalkan rumah yang selama ini aku tempati. Rumah yang selalu berlimpah kasih sayang dari ibu dan ayah, juga kak Asma. *** Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman juragan Zein Wardana. Hanya menempuh waktu kurang lebih tiga puluh menitan, akhirnya mobil kami pun sampai di kediaman juragan Zein Wardana. Pagar besi yang tinggi dan kokoh, terbuka lebar oleh dua orang satpam yang menjaga rumah juragan Zein. Mereka mengangguk hormat dan memberikan jalan mobil kami untuk masuk ke dalam. Tidak ada satu kata pun yang ke luar dari mulut suamiku, setelah kami semua sampai di kediaman juragan Zein Wardana. Laki-laki itu pun terlihat tenang duduk di atas kursi rodanya, setelah dibantu oleh pak supir tadi. Bangunan megah dengan pilar-pilar yang berdiri kokoh di samping kiri dan kanan, membuat kedua bola mataku membelalak. Tidak menyangka, rumah juragan Zein seperti istana yang sering aku lihat di televisi, lebih tepatnya di film-film kartun kerajaan yang biasa aku tonton. Rumah yang terlihat mewah dan besar layaknya istana itu, membuat bibirku bergumam takjub dan kagum. Benar-benar, sebuah rumah impian yang selama ini tidak pernah terbayangkan olehku. Jangankan memiliki rumah seperti itu, menginjakkan kakinya saja aku seolah tidak percaya. Ada seorang laki-laki muda bertubuh tegap dan berwajah tampan menghampiri kami. Dia mengangguk hormat dengan tersenyum hangat. “Selamat datang, Nona Muda! Selamat atas pernikahannya,” sapanya ramah. “Salam kenal, saya Asisten Bisma,” ucapnya memperkenalkan diri sambil menangkupkan kedua tangannya. Aku pun mengangguk pelan dengan tersenyum tipis ke arahnya. “Terima kasih, Tuan! Salam kenal juga, saya Annaya.” Setelah itu, asisten Bisma pun beralih tugas menggantikan pak supir untuk mendorong kursi roda mas Adam. “Sini, biar saya saja!” ucapnya, seraya memegang gagang kursi roda. Pak supir pun mengangguk mengerti, kemudian mundur beberapa langkah meninggalkan kami berempat. “Maafkan aku, Tuan! Aku tidak bisa hadir di acara pernikahanmu,” bisik asisten Bisma di samping telinga Adam. “Heeem…” hanya gumaman pelan terdengar dari bibir Adam, membuat aku pun melirik ke arahnya penasaran. Buru-buru aku kembali ke posisi semula, saat sadar kedua netra asisten Bisma menatapku heran. Aku jadi salah tingkah, tanpa sadar terlalu penasaran apa yang sedang dilakukan oleh asisten Bisma kepada mas Adam. Juragan Zein melangkah maju di depan kami, menuju pintu utama yang berukuran tiga kali lipat lebih besar dari pintu rumahku. Terlihat dua orang penjaga mengangguk hormat kepada kami, memberi jalan untuk kami masuk ke dalam. “Selamat datang di rumah ini, Cucuku Anna. Mulai hari ini, kamu adalah bagian dari keluarga besar Wardana. Jangan sungkan kalau kamu membutuhkan sesuatu! Apa pun itu, kamu bisa memintanya.” Juragan Zein menepuk-nepuk bahuku pelan dengan tersenyum tulus. “I-iya, Juragan,” ucapku gugup, seraya mengangguk dan tersenyum miris. “Jangan panggil Juragan, Nak! Panggil Kakek saja. Kamu harus terbiasa, mulai hari ini,” titahnya mengusap puncak kepalaku. “I-iya, K-kakek,” ucapku canggung dengan mengusap tengkukku yang tidak gatal. Aku benar-benar grogi dan tidak biasa memanggil juragan Zein dengan kata kakek. Sambutan dari para pelayan yang berpakaian seragam hitam dan putih, terlihat berjejer di depan pintu. Mereka tertunduk hormat saat kami melintasi jalan pintu masuk yang akan kami lalui. Juragan Zein mengenalkan satu persatu nama pelayan itu kepadaku, lalu memberitahuku apa saja tugas-tugas mereka. Aku pun mendengarkan dengan baik, lalu mengangguk pelan setelah apa yang dikatakan oleh juragan Zein. “Layani semua kebutuhan Cucu mantuku!” titah juragan Zein tegas kepada para pelayan tersebut. Sontak saja kedua mataku membola, mendengar ucapan juragan Zein. “Baik, Tuan Besar!” ucap para pelayan itu dengan mengangguk hormat. “Kakek mau beristirahat, tubuh Kakek sudah sangat letih,” ujar juragan Zein. “Kalian beristirahatlah!” titahnya kepadaku dan mas Adam. Tanpa menunggu jawaban dari kami, juragan Zein lantas melangkah pergi menaiki tangga menuju lantai dua rumah ini. Aku membeku, seolah bingung apa yang mesti aku lakukan. Aku begitu asing dengan suasana yang baru aku temui di rumah ini. “Ada yang bisa kami bantu, Nona Muda?” tanya salah satu pelayan yang bernama Wati dengan ramah. “Ya, Nona Muda. Katakan saja kepada kami, apa yang Nona Muda inginkan?” timpal Ipah dengan senyum mengembang. Aku menggeleng, terlalu takut dan malu untuk meminta bantuan mereka. Sebenarnya aku sangat lelah, letih dan capai, karena semalam sebelum pernikahan ini terjadi aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Memikirkan pernikahan yang mendadak dan setengah hati ini, membuat dadaku terasa sesak dan sulit untuk terpejam. “Tunjukkan kamarku kepadanya, Bisma!” titah Adam. “Baik, Tuan!” ucapnya mengangguk. “Ayo, Nona Muda!” ajak asisten Bisma, seraya mendorong kursi roda mas Adam. Aku pun mengangguk pelan, mengekori mereka dengan langkah gontai. Wati dan Ipah pun mendampingi langkahku hingga kami sampai di depan pintu kamar mas Adam. “Tinggalkan Aku dan Istriku! Jangan datang, kalau tidak diperlukan!” ucap mas Adam tegas. Deg! Jantungku berdegup kencang, suasana horror tiba-tiba menyelimuti diri. Ada perasaan takut yang menguasai jiwaku, jika hanya berdua dengan mas Adam yang masih misterius di mataku. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD