Dino memapah Satria keluar sampai parkiran. Satria membersihkan bercak darah yang keluar dari ujung bibirnya sambil berkaca di spion mobilnya.
"Lain kali kalau bicara dijaga pak, biar nggak kena bogem mentah" Dino terkekeh
"Kamu belain majikan aja"
"Bapak emang nggak nyaring omongan, siapa yang nggak marah kalau adiknya dihina kayak tadi."
"Apa kamu bilang? Adik?"
"Iya, mba Sarah itu adiknya mas Bastian. Dia kembaran mba Elvira yang terpisah sejak bayi."
Tubuh Satria melemas. Dia keluar dari mobilnya lalu berjalan berniat masuk kembali.
"Mau kemana pak?"
"Saya mau minta maaf"
"Baiknya jangan sekarang, mas Bastian masih dalam kondisi emosi yang ada pak Satria bakal babak belur. Pulang aja Pak!"
Akhirnya Satria masuk kembali ke mobilnya dan pulang ke rumah.
Flashback
Jam 4 sore saatnya Sarah berganti shift dan mengganti bajunya untuk segera pulang. Sarah berjalan keluar dari rumah makan tempatnya bekerja menuju tempat menunggu angkot.
Sementara itu Bastian bergegas keluar dari kantornya untuk menyelidiki Sarah. Dilihatnya Sarah dari kejauhan sedang menunggu angkot.
Sebuah sepeda motor dengan dua penumpang tiba-tiba berhenti di depan Sarah dan menarik tas selempang Sarah sampai Sarah terjatuh dan tasnya dibawa pergi mereka.
Bastian mengendarai mobilnya menghampiri Sarah, ia tidak mungkin mengejar penjambretnya karena motor itu melesat sangat cepat dan ia mengkhawatirkan kondisi Sarah.
"Kamu nggak pa-pa?" Bastian membantu Sarah berdiri.
"Nggak pa-pa" Sarah berucap dengan suara bergetar.
"Tangan kamu lecet, biar saya obati"
Sarah bersyukur hanya tangannya yang lecet, karena bajunya tertutup jadi kulitnya terlindungi tidak langsung menyentuh aspal. Beberapa bagian bajunya kotor.
Bastian mengambil kotak P3K di mobil, mengeluarkan betadine dan kapas lalu mengolesi luka Sarah dengan betadine. Plester pun di tempelkannya pada luka lecet Sarah.
"Terima kasih"
"Sama-sama. Saya antar pulang ya? Zaman sekarang makin nggak aman kemana-mana."
"Maaf saya nggak mau pulang sama orang asing." Sarah menggeleng.
"Saya Bastian, saya salah satu pelanggan di rumah makan tempat kamu kerja. Kamu?"
"Sarah"
"Ayo saya antar, kita sudah saling kenal kan."
Perasaan Sarah mengatakan Bastian bisa dipercaya, ia mengiyakan ajakan Bastian mengantarnya pulang. Sarah juga tidak mungkin naik kendaraan umum, tas yang berisi dompet dan hand phone nya sudah raib dijambret. Ia tidak punya uang sepeser pun.
Bastian mengantar Sarah sampai depan kontrakannya. Keluar dari mobil Bastian, Ayu berlari menghampiri Sarah.
"Ibu...!" Ayu langsung memeluk Sarah.
Cup!
Sarah mencium pipi Ayu yang sudah berada di gendongannya.Bastian melihat adegan itu sambil tersenyum.
"Ini anak saya. Ayu ayo salim sama Om Bastian!" Ayu mengulurkan tangannya.
Kalung itu
Bastian memperhatikan kalung yang dipakai Ayu. Bastian bertambah yakin bahwa Sarah adalah orang yang dicarinya selama ini.
Keesokan paginya, Sarah sudah bersiap berangkat kerja. Ia berniat bekerja setengah hari karena harus mengurus surat-surat penting yang hilang karena dijambret.
Tok ... tok... tok!
Sarah membuka pintu dan di depan pintu sudah berdiri Nyonya Wisesa.
"Silakan masuk nyonya!"
"Nggak perlu, saya cuma mau memperingatkan kamu untuk menjauhi Satria. Saya berterima kasih kamu sudah merawat Satria dan bayaran kamu sudah lebih dari cukup sampai anak saya rela menjadi donor anak kamu. Jauhi Satria!"
"Sampai saat ini saya tidak berniat untuk punya hubungan lebih dengan anak nyonya."
"Perempuan seperti kamu pandai bicara bilang tidak ada hubungan tapi merayu anak saya, kamu ingin harta kan? Gold digger! Jangan mimpi!"
" Berhenti bicara! Pergi dari rumah saya sekarang juga!" Sarah tidak sanggup lagi, jika perkataan nyonya Wisesa diteruskan hatinya akan semakin sakit.
Blamm!
Sarah membanting pintu. Nyonya Wisesa terkejut bukan main.
"Dasar perempuan jalang!" Umpatan nyonya Wisesa masih terdengar di telinga Sarah. Tubuh Sarah merosot di belakang pintu, ia menangis.
"Ibu nangis? Ayu sayang ibu, jangan nangis bu!" Ayu memeluk Sarah.
Sarah memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, ia lelah dengan segala cobaan. Hari ini ia ingin beristirahat dan menikmati waktu bersama Ayu.
Menjelang siang Sarah membersihkan sayuran yang akan dimasaknya sementara Ayu ikut-ikutan membersihkan sayuran. Yang dilakukan Ayu justru membuat dapurnya berantakan tapi Sarah tidak keberatan karena itulah cara belajar balita.
Tok... tok... tok !
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Sarah ragu untuk membuka pintu karena khawatir nyonya Wisesa kembali datang. Ia mengintip di jendela ternyata di depan pintu sudah ada Bastian beserta seorang perempuan berusia 50an.
"Eh Mas Bastian, masuk mas!"
"Kenalkan ini mamah saya"
"Sarah" Sarah menjabat tangan ibunya Bastian sementara sang ibu membalas jabatan tangannya sambil menatap Sarah tak percaya.
"Silakan duduk, maaf ya di sini nggak ada kursi jadi lesehan aja. Sebentar saya ke dapur bikin minum dulu."
"Nggak usah repot-repot, ada hal penting yang harus disampaikan. Ayu mana?" Sarah membawa Ayu dari dapur dan duduk di depan Bastian dan ibunya.
"Boleh saya tahu, dari mana kalung yang dipakai anakmu?" Ibunya Bastian bertanya dengan hati-hati.
"Itu... kalung dari orang tua saya kata mbok Nah."
"Mbok Nah?"
"Mbok Nah yang menemukan saya saat masih usia 5 bulan dan merawat saya sampai ajal menjemputnya. Kalung itu ada di leher saya sejak mbok Nah menemukan saya di pasar." Biasanya Sarah tidak suka menceritakan kisah hidupnya pada orang yang baru dikenalnya namun ibunya Bastian berbeda. Sarah merasa ada ikatan batin antara mereka.
"Ka..kamu punya tanda lahir di leher bagian kiri?"
Ibunya Bastian menahan air matanya.
"Kok Ibu tahu saya punya tanda lahir di leher?"
Seketika itu juga Sarah dipeluk oleh ibunya Bastian sambil menangis sesenggukan.
"Anakku! Anakku yang hilang. Elvita"
Sarah tidak mengerti apa yang terjadi tapi ia membalas pelukan sang ibu sambil menatap bingung pada Bastian.
"Dulu saya punya adik kembar Elvira dan Elvita. Elvita diculik saat masih berumur 5 bulan. Penculiknya kecelakaan dan meninggal di tempat saat dikejar polisi. Kami berusaha mencari keberadaan Elvita tapi nihil tidak ada petunjuk satupun sampai kemarin saya bertemu kamu di rumah makan. " Bastian menjelaskan. Elvita (Sarah) melepaskan pelukannya.
"Jadi Anda adalah ibuku?"
"Iya, ini mama nak. Mama kamu ibu kandungmu."
"Mama..."
Sang mama menagngguk dan mereka kembali berpelukan penuh haru.
"Ibu nangis?" Ayu melihat Sarah.
“Nangis karena seneng”
“Seneng kok nangis?”
" Anak cerdas, cucuku , sini!" Ayu menghampiri lalu dipeluk dan dicium oleh neneknya.
Flashback off