JENUH

1278 Words
                “Makanya Mama itu lain kali tanya dulu aku sibuk atau nggak. Kalau gini kan jadwalku jadi berantakan. Nggak enak sama rekan kerja juga Ma, masa aku batalin meeting gitu aja.”                 “Iya, iya Mama minta maaf. Kamu nanti aja ngomelnya, sekarang mending kamu cepet otw. Kasihan Delilah udah nungguin dari tadi.”                 Erlangga menghela nafas, “Iya, ini aku jalan. Aku tutup dulu teleponnya.”                 “Hati-hati...”                 Baiklah, mungkin bagi Kusuma, ibu Erlangga, seorang pria yang telah menginjak usia 30 tahun dan belum menikah adalah sebuah kesalahan yang tak termaafkan. Noda yang harus segera dibersihkan atau apapun itu istilahnya. Jadi hal ini terasa wajar ketika beliau mulai merecoki kehidupan pribadinya.                 Kali ini Erlangga akan menurut. Menerima pertemuan dengan salah satu anak teman orangtuanya mungkin memang pilihan baik. Meskipun ia tidak tahu apakah akan cocok dengan wanita yang disebut-sebut bernama Delilah itu. Namun ia akan mencoba, masalah cocok atau tidak itu urusan nanti. Lagi pula ia sudah kehilangan akal tentang bagaimana menolak kegigihan mama yang selalu ingin mengenalkan anak-anak temannya.                 Erlangga langsung menuju lift begitu tiba di hotel Dharmawangsa. Mama benar-benar totalitas ketika memiliki tujuan. Pertemuan yang diniatkan untuk berkenalan dengan wanita bernama Delilah rasanya terlalu berlebihan jika harus dilakukan di sebuah restoran fine dining.                 “Delilah?” Erlangga sedikit ragu ketika menyebutkan nama itu, namun tidak ada orang lain yang duduk sendirian selain wanita berbaju soft pink yang kini menatapnya kikuk. “Saya Erlangga.” tidak perlu basa-basi.                 “Oh, Delilah.” wanita itu mengulurkan tangan.                 Erlangga menyambut uluran tangan itu lantas langsung menempati kursi tanpa merasa perlu meminta izin terlebih dahulu. “Udah pesan makanan?” tanyanya lebih dahulu, wanita itu terlihat enggan membuka percakapan.                 “Belum.”                 Singkat.                 Erlangga tidak suka dengan wanita pendiam.                 “Kamu mau pesan apa?”                 “Samain aja sama pesanan kamu.”                 Tidak punya prinsip.                 “Yakin?”                 Delilah hanya mengguman tanpa mau menatap ke arahnya.                 Tidak percaya diri.                 “Kamu bisa menolak kalau memang nggak mau bertemu dengan saya.” straight to the point, khas Erlangga. Kalimat itu berhasil membuat Delilah menatap ke arahnya. “Kamu nggak perlu memaksakan diri hanya untuk menyenangkan orangtua kita.”                 “Dari mana kamu bisa berasumsi kalau saya memaksakan diri?” Delilah tidak terima. Dia sudah melakukan riset terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengiyakan perintah orangtuanya. Kalau hasil risetnya mengecewakan, ia tidak akan duduk berhadapan dengan Erlangga saat ini. Lelaki itu bertingkah seolah-olah mampu membaca pikiran orang lain.                 No control emotion.                 Secara fisik, Delilah tentu saja lulus tahap seleksi untuk masuk ke dalam daftar menantu idaman oleh orangtua Erlangga. Tetapi sepertinya mereka lupa bahwa ia tidak akan menjalin hubungan hanya karena tampilan fisik semata. Standarnya terlalu tinggi. Baiklah, untuk kategori bahwa ia tidak suka wanita pendiam mungkin bisa sedikit dikoreksi. Asalkan enak dan nyambung diajak berbicara itu bukan masalah besar. Sedangkan untuk masalah ‘tidak punya prinsip’, oke ia seharusnya tidak men-judge hal itu hanya karena Delilah memilih untuk menyamakan pesanan mereka. Lalu perihal kepercayaan diri dan kontrol emosi mungkin juga ia terlalu cepat menyimpulkan.                 “Maaf kalau kalimat saya terkesan menyinggung kamu. Saya nggak bermaksud seperti itu.”                 Delilah tersenyum tipis. “Nggak masalah. Orang kadang memang suka berasumsi, kan?”                 Erlangga hanya balas tersenyum mendengar kalimat sindiran itu. Kalau asumsinya akurat, hubungan mereka mungkin tidak akan berjalan seperti yang orangtuanya inginkan.                 Delilah bukan tipe Erlangga.                 “Mas Erlan?”                 Tidak hanya Erlangga, Delilah juga ikut menoleh ke arah suara itu berasal. Berdiri sosok wanita dengan dress putih selutut. Dia tersenyum ramah ke arah Erlangga.                 “Nya?” Erlangga mengernyit. “Sama siapa? Sini duduk.”                 Delilah memperhatikan cara mereka berinteraksi. Erlangga yang spontan berdiri untuk memeluk wanita yang dipanggil ‘Nya’ sebelum kemudian menarik kursi supaya si ‘Nya’ itu dapat duduk. Delilah mungkin akan dinilai cemburu ketika melihat mereka dengan tatapan terganggu seperti ini. Salahnya sendiri sudah main hati padahal tahu bahwa pria itu tidak mungkin masuk dalam jangkauannya.                 Delilah tahu wanita itu. Sebagai mantan staf di perusahaan Djokodamono Group siapa yang tidak tahu dengan Prajnya Paramita? Dulu wanita itu sering menjadi perbincangan hangat selepas putus dari Pandu Dirgantara, seorang arsitek di perusahaan itu juga. Delilah tentu tidak akan ketinggalan gosip apabila menyangkut nama Pandu, laki-laki menyebalkan yang sayangnya memiliki pesona luar biasa.                 “Aku tadi sama Mas Sakha. Lho, kamu Delilah kan, yang dulu staf di Djokodamono Group?”                 Perempuan dengan gaya sok akrabnya. Batin Erlangga. ***                 “Mas Sakha bilang kalau dia cuma keluar sebentar kok. Mau minum apa Mas?” Prajnya sebenarnya tidak begitu akrab dengan Erlangga. Kebetulan saja pria itu sahabat Sakha dan Gandi, kakaknya. Jadi tidak mungkin ia tidak bersikap ramah kepada Erlangga.                 “Air putih aja.”                 “Mas Erlan jalan sama Delilah?” tanya Prajnya, ia merasa tidak enak karena Erlangga memutuskan untuk ikut bersamanya daripada mengantar Delilah pulang. Ah, bukan ikut bersamanya, lelaki itu tadi bilang ingin bertemu Sakha, jadi ia memutuskan untuk mengajak Erlangga ke kamar hotel tempat Sakha menginap.                 “Nggak.” Erlangga setengah malas menjawabnya. Kehadiran Prajnya tadi sebenarnya ada untungnya, berkat wanita itu ia jadi tidak perlu repot-repot mengantar Delilah. “Kok Sakha nginap di sini, kenapa nggak ke tempat Gandi aja?”                 “Diminum, Mas.” ia meletakkan air mineral ke atas meja. “Kalau nginap di rumah Mas Gandi kejauhan. Mas Sakha juga di sini karena ada kerjaan, bukan sengaja main.”                 Erlangga mengangguk paham. Ia baru saja meraih air yang diberikan Prajnya ketika mendengar suara pintu terbuka. Tidak lama dari itu sosok Sakha muncul dan mendekat.                 “Woah... sehat Lan?” Sakha menjabat tangan Erlangga dengan gaya khas lelaki. “Lama juga kita nggak ketemu. Kamu kalau capek tidur aja, Nya. Besok pagi Mas antar pulang.” ia kemudian beralih kepada adiknya.                 “Yaudah aku masuk kalau gitu.” Prajnya melempar senyuman sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar. Samar-samar percakapan Erlangga dan Sakha terdengar, membicarakan sesuatu yang semakin lama semakin tidak ia mengerti.                 Prajnya menatap langit-langit tempatnya berbaring. Ia kesulitan tidur sejak sebulan yang lalu. Alasan klasik yang sebenarnya enggan ia akui, patah hati membuat jam tidurnya berantakan. Bukan, bukan karena Prajnya belum bisa melupakan pria itu. Ia patah hati karena egonya terluka dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa hubungan lima tahun mereka herus berakhir begitu saja lantaran ‘jenuh’.                 Bagi siapapun lima tahun jelas bukan waktu yang singkat untuk menjalin suatu hubungan. Selain mengacaukan jam tidur, akibat lain dari hubungan lima tahun itu membuatnya menjadi topik pembicaraan selama beberapa hari di kantor.                  “Anya staf HRD yang diputusin Pandu.”                 “Yaiyalah diputusin, Anya nggak selevel sama Pandu.”                 “Cantik sih, tapi kalau beda level tetap aja susah. Nggak seimbang.”                 “Anya cuma staf HRD biasa sementara Pandu arsitek kondang, dilihat dari sisi mana pun tetap aja nggak bisa bersanding.”                 Itu terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu. Ketika gosip mulai mereda, sekitar sebulan yang lalu ia kembali menjadi bahan pembicaraan hangat saat berita tentang Pandu yang berkencan dengan salah satu junior arsitek di kantor mereka terkuak. Sialan, apa salahnya sampai semua yang berkaitan dengan Pandu selalu dikait-kaitkan dengan dirinya.                 Hampir semua orang di kantor menatapnya dengan pandangan menilai, mengasihani, mencela, dan sebagainya. Prajnya tidak butuh itu semua. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka bahkan ikut menghakimi, seolah apa yang dilakukan Pandu terhadap dirinya adalah benar.                 Seolah Prajnya memang pantas dihukum seperti itu.                 “Lho, nggak jadi tidur? Suara kami ganggu kamu ya?”                 Kalau ada sesuatu yang perlu disyukuri, jawabannya adalah Sakha. Prajnya sangat beruntung memiliki kakak sepertinya.                 “Nggak kok, aku cuma mau ambil minum.”                 “Jangan, Lan.” Suara Saka yang terdengar seperti peringatan, membuat Prajnya ikut menoleh.                 Dua lelaki itu saling melempar pandang dengan tatapan serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD