KARENA kemarin yayasan sudah mengadakan acara wisuda sekaligus perpisahan, maka hari berikutnya dinikmati murid dan santri dengan berlibur di rumah masing-masing. Tak jauh berbeda dengan mereka, Aini meninggalkan kamar pondok dan pulang ke rumahnya yang tak jauh dari sana.
Hari ini, di hari pertama liburan sekolah dan pondok yang akan berlangsung selama dua minggu ke depan, di rumahnya akan diadakan makan-makan, katanya. Aini tahu persis ia akan disibukan dengan aktivitas dapur ketika tiba di rumah. Tapi kalau itu artinya ia bisa bercengkrama kembali bersama keluarganya—terutama kakak keenamnya, Umayyah—kenapa tidak?
Selain orangtuanya yang masih lengkap, Aini memiliki empat kakak laki-kaki dan dua kakak perempuan yang semuanya masih belum menikah. Kalau diurutkan, anak-anak di keluarga ini terdiri dari: Hasan, Basri, Yanti, Imam, Opik, Umayyah, dan Aini. Sebagai anak bungsu dari sepasang ayah dan ibu yang bekerja, kakak-kakaknya adalah figur dan tempat curhatnya sehari-hari. Umayyah bisa dibilang adalah kakak favoritnya dalam bertanya-tanya soal urusan dapur dan keputrian. Aini kecil menemukan figur umi-nya dari sosok Umayyah yang kini berusia sama dengan Yusuf dan menempuh pendidikan di sekolah negeri.
Aini masih ingat sebagian besar masa kecilnya diisi dengan diskusi soal apa saja bersama gadis itu. Bahkan bisa dibilang, ia menghormati satu orang itu melebihi kakak-kakaknya yang lain. Sejak mulai mondok pada umur sepuluh, tiga tahun yang lalu, Aini paling merindukan kakak perempuannya yang satu itu.
“Assalamu’alaikum!” Kini, salam itu menggema riang ke seisi rumah. Saat memasuki rumah panggung itu, Aini menghambur ke pelukan umi-nya yang menyambut di ruang tamu, terlihat sedang beres-beres rumah. Dari kegiatan satu itu saja, Aini tahu persis kalau acara makan-makan kali ini lebih dari sekadar makan-makan silaturahmi keluarga dalam rangka musim liburan. Akan ada yang berkunjung, mungkin saja?
Tak lama kemudian, seseorang ke luar dari kamar Aini. Umayyah. Ia tersenyum lebar melihat kepulangan adiknya yang tepat waktu.
“Kirain mau menetap di pondok,” candanya, seraya menerima salam hormat Aini.
Bercandaan itu ditanggapi acuh saja oleh Aini karena ia lebih memilih meluapkan rindunya dengan memeluk erat Umayyah. “Kak Aya, Ni kangen tauk.”
“Aku juga.” Kakak keenamnya itu membalas dalam kekehan. Tersanjung rasanya bisa mendengar ucapan sejujur itu dari seorang Aini.
Ketika pelukan dilepas, Aini memandang kakak dan uminya bergantian. “Abi sama yang lain mana?” Maksud Aini adalah abi dan keempat kakak lelakinya.
“Mereka lagi ke kebun, panen beberapa buah dulu untuk suguhan nanti malam.” jawab uminya, Mak Atih. “Nanti malam kades dan keluarganya mau silaturahmi ke sini. Ada beberapa alumni dan keluarga santri juga yang mau bertamu sore ini. Jadi kita masak cukup banyak di dapur.”
Ah, makan besar!, batin Aini bersorak seraya menampakan senyum lebar. Ia paling suka kegiatan satu itu. Bukan hanya soal makan-nya, tentu saja, tetapi juga akan banyak orang baru dan penting yang bisa ditemuinya hari ini. Mewarisi lingkup pergaulan dan keterampilan bersosial yang dimiliki orangtuanya, Aini pun termasuk pribadi periang yang mudah bergaul dengan siapa saja.
“Yuk, sama umi bantuin Kak Yanti di dapur. Biar Kak Aya yang beres-beres rumah.” Uminya berkata lagi, kali ini memberikan instruksi langsung kepadanya.
Tanpa membantah, Aini mengiyakan instruksi itu dengan riang, “Siap, Mi!”
Namun bagai gayung yang tak bersambut, kedatangannya ke dapur sepertinya merupakan sesuatu yang ‘agak salah’ jika dilihat dari siapa saja yang ada di dalamnya.
Aini menghentikan langkahnya di pintu, cemberut saat bersitatap dengan wajah putih itu lagi. Ngapain, sih, dia di sini?
“Suf! Jagain itu apinya hei!”
Bentakan khas perempuan yang baru saja keluar dari mulut Yanti membuat orang itu terfokus lagi ke pekerjaannya di sini: menjaga api yang sedang menyala kecil di dalam hawu.
“Aini, sini, tolong masukin kangkung ke panci di situ, tuh.” Yanti yang sedang mencuci potongan daging itu berkata dari tempat cuci di sudut dapur mereka. Kemudian ia menoleh sedikit pada Yusuf yang masih setia di hadapan hawu, “Buka tutupnya, Suf.”
Yusuf melaksanakan suruhan itu tanpa kata, begitupun Aini dengan pekerjaannya sendiri. Tapi setelah Aini selesai dengan kangkungnya, tiba-tiba terdengar suara Umayyah dari depan. Lantang.
“Umi, abi datang! Bawa potongan kayu sama ranting buat dibakar! Eh, batoknya juga buat arang!”
Seisi dapur sama-sama tahu apa artinya itu. Mak Atih yang tengah mengurus potongan tempe, menoleh pada Yusuf, “Ke luar dulu, yuk. Tolong potong batok kelapanya dan sekalian bawain kayu-kayu itu.” Kemudian beliau beralih kepada Aini, “Kamu urusin hawu dulu ya sebentar.”
“Iya, Mi.” Aini mengangguk saja dan mengambil alih peniup hawu itu sementara sebelah tangannya mengambil sinduk kayu, meratakan rebusan kangkung di dalam panci.
Dan, benar saja, tidak lama. Tak sampai setengah jam, Yusuf sudah kembali membawa enam ikat kayu bakar, diikuti abi Aini yang membawa sisa batok kelapa yang sudah dipotong.
Dari sudut matanya, Aini dapat melihat abinya yang langsung ke luar dari dapur, sementara Yusuf meletakan kayu-kayu itu di pojok ruangan ini. Ia kemudian kembali mendekati hawu.
Dalam hatinya Aini menimbang—mau memberikan peniup ini kepada orang itu dan mengambil alih kegiatan dapur yang lain seperti menumbuk bumbu, misalnya, atau ingin tetap berada di balik kompor tradisional itu?
Akhirnya Aini diam, memilih opsi kedua. Mati-matian ia menahan diri agar tidak memandang wajah putih yang sedang mengamati api itu. Tapi kemudian satu kalimat keluar dari Yusuf, sukses membuatnya menoleh.
“Sini, saya saja yang tiup. Nanti kamu sesak napas, lagi.”
A—? Seketika Aini kehilangan kata-kata untuk membalas. Ia mati kutu di hadapan teman kecilnya sekaligus musuh abadinya ini. Kehadiran Yanti yang jelas-jelas mendengar perkataan Yusuf itu makin membuat Aini tak berkutik. Salah-salah membalas, ia bisa menjadi bahan godaan Yanti dan Umayyah semalaman nanti.
Seolah menyahuti dugaan benaknya barusan, benar saja, ketika sudut mata, kakak ketiganya itu tersenyum simpul di sela kegiatan memotong bawangnya.
Haduh. Alhasil Aini keki sendiri, jadi membalas ucapan ‘tumben’ Yusuf dengan tindakan. Ia menyerahkan peniupnya, benar-benar tanpa kata.
Namun sebelum sempat Aini beranjak untuk mengerjakan hal yang lain, Yusuf sudah berulah.
Kuat-kuat, orang itu meniupkan udara melalui tongkat peniup hawu itu, sehingga debu bakaran hawu yang hitam mengotori wajah Aini. Silakan tebak apa kelanjutannya. Wajah hitam manis itu berubah merah padam. Mulutnya seperti berancang-ancang untuk memuntahkan kata-k********r.
Dari hadapan talenan, Yanti menutup telinganya rapat-rapat begitu satu teriakan terdengar.
“YUSUF!! AWAS KAMU!”
***
Hari beranjak sore. Tetamu sudah mulai berdatangan ke rumah abi Aini—Haji Sholeh, atau yang oleh para alumni dan ustadz-ustadzah yayasan biasa dipanggil Buya. Mereka membawa buah tangan bermacam-macam, dari mulai kue kaleng sampai makanan-makanan sederhana.
Aini ikut menyambut beberapa orang pertama yang tak ia kenal dengan mengantarkan minuman dan makanan ke ruang tengah rumah. Bersama Umayyah, ia kompak melempar senyuman kepada mereka semua demi melestarikan adat kesopanan puteri Buya Sholeh.
Obrolan demi obrolan basa-basi nan klise itu tercipta dalam rangka beramah-tamah. Anak lelaki keluarga ini pun tak luput berinteraksi dengan para tamu dalam rangka memperluas relasi. Intinya, hingga sore selesai, Aini bisa memastikan ramah-tamah itu belum habis. Masih ada lagi yang akan datang, selain Pak Kades tentunya.
Kemudian tak terasa, adzan maghrib berkumandang. Seperti biasa, jendela dan pintu ditutup untuk menunjukan penghuni rumah sedang tidak bisa diganggu. Keluarga besar itu—ditambah satu orang tambahan—bersama-sama menggelar sepuluh sajadah di ruang tengah rumah. Tak lama, Hasan, anak lelaki sulung, mengumandangkan iqomah.
“Allahu akbar,” Buya Sholeh memulai sholat tiga rakaat itu.
Dengan khusyuk, rakaat demi rakaat ditunaikan. Seusai sholat, kegiatan dilanjutkan dengan wirid dan mengaji bacaan masing-masing di hadapan abi. Jam-jam ibadah mereka sampai sholat isya’ tak terganggu salam tamu abi. Para tamu itu paham betul baru bisa mengunjungi rumah ini saat jam setengah delapan malam nanti.
Kemudian setelah perlengkapan sholat dan mengaji diangkat, Hasan, Basri, Imam, dan Opik kembali menyalakan penerangan yang semarak sementara para perempuan menggelar suguhan untuk para tamu. Yusuf yang masih tinggal, membantu abi di belakang dengan beberapa ikan hidup yang mau mereka bakar, besok.
Kehadiran satu sosok itu sampai selarut ini membuat Aini jadi bertanya-tanya; mengapa ia tak pulang ke rumahnya sendiri? Yah, Aini tak mau kembali kelepasan mengeluarkan mode gaharnya di depan tamu apabila Yusuf berlaku jahil kepadanya. Seperti insiden hawu tadi pagi, misalnya?
Tapi sore tadi, ketika Yusuf dan Opik keluar sebentar ke kolam untuk menangkap ikan-ikan itu, umi bilang padanya kalau Yusuf tidak pulang karena harus mulai mengurusi persyaratan mengikuti pendidikan pelatihan ikatan dinas agar seusai sekolah bisa langsung bekerja.
Ya, berbeda dengannya, Aini ingin melanjutkan jenjang MTs. atas-nya ke Pendidikan Keguruan, barulah ia bekerja di dinas pada posisi yang ‘lebih atas’. Lagipula Aini masih ingin berlama-lama dengan keluarga besarnya ini, daripada harus cepat-cepat menjadi ‘dewasa’ dengan bekerja begitu lulus sekolah. Ia paham betul Yusuf pun terpaksa melakukannya karena keterbatasan ekonomi keluarga mantan pejuang itu. Tiga adiknya yang masih harus sekolah, memaksa Yusuf untuk secepatnya bekerja demi menggantikan posisi kedua orangtuanya membiayai sekolah adik-adiknya.
Jujur, Aini yakin Yusuf akan cepat diterima kerja begitu lulus dari MTs. atas. Pemuda itu pintar, tampan, dan ramah. Ya. Apa lagi yang kurang? Hanya ekonomi, tepat.
Di beranda depan, sambil menikmati udara malam, akhirnya Aini hanya menghela, tak mau memikirkan sejarah keberadaan manusia satu itu lagi dalam hidupnya. Matanya terpejam, rasanya ia sudah cukup lelah dengan kegiatan menyambut tamu seharian ini. Tapi tak lama, mata itu kembali terbuka. Tepatnya setelah suara Iis menyapa telinganya.
“Assalamu’alaikum, Aini!” Gadis itu melambai, senang. Di belakangnya terlihat ayah dan ibu Iis, juga orang itu—orang yang sempat datang ke pondok dan memberikannya rekomendasi kuliah jurusan tarbiyah.
Begitu mereka bersitatap, Aini memalingkan wajahnya yang memerah. Di beberapa perbincangannya dengan Iis, ia mengaku kalau kagum dengan kakak lelaki Iis itu. Mana ada umur 18 tahun sudah bisa terjaring seleksi Universitas Al-Azhar? Tapi nyatanya ada.
Namanya Sofwan, omong-omong. Lelaki itu beda jauh dengan lelaki-remaja yang ia kenal selama ini. Sofwan seorang yang sopan, tahu adat-istiadat, dan ya—menghormati wanita. Sesempurna itulah sosok Sofwan yang digambarkan oleh Iis. Sejak melihat wajahnya secara langsung, Aini yakin gambaran yang sama benar-benar melekat pada kakak sahabatnya itu.
Aini menepis rasa hangat yang mulai menjalari sekujur tubuhnya, mencoba menjejak kenyataan kalau perbedaan umur mereka yang jauh tidak akanlah menjadi jembatan kedekatan. Aini dan Sofwan hanya dekat sekadarnya saja, seperti hubungan teman-dari-adik-perempuan.
Dari kisah Sofwan yang seringkali diceritakan Iis secara gamblang begitu mereka tiba di kamar pondok, Aini jadi percaya akan satu hal: menjadi pintar dan punya impian setinggi langit itu wajib, tapi akan lebih baik kalau disusul juga dengan rasa rendah hati dan sadar diri—kalau tak akanlah manusia mempunyai otak yang sepintar itu dan bisa mencapai cita-cita masing-masing kalau bukan karena Sang Pemilik Bumi dan Langit. Keseimbangan urusan dunia dan akhirat, itulah yang Aini pelajari dari sosok Sofwan. Ia ingin menjadi seperti orang itu dengan menggapai impiannya menjadi dosen Bahasa Inggris—mata pelajaran kesukaannya—atau minimal menekuni bidang tarbiyah, seperti Sofwan.
Aini menghela, memutuskan menyudahi ungkapan kekaguman diam-diamnya itu dan menyambut Iis dengan pelukan sekadarnya, lalu salam kepada ayah dan ibu gadis itu, dan hanya melemparkan senyum kepada Sofwan.
“Ayo masuk. Abi sama umi ada di dalam.” katanya, seraya membimbing Iis sekeluarga masuk ke rumah.
-YUSUF & AINI-