Dengan mata sembap dan keringat yang semakin membasahi kening dan bajunya, ia memasuki kelas dan berusaha menenangkan diri untuk mengikuti ujian. Beberapa orang bertanya pada Febi mengenai tugasnya yang terlambat kumpul itu. “Diterima kok,” Febi berusaha menguatkan hatinya. “Tapi jadinya cuma bisa dapet C.” jelasnya kepada orang-orang yang prihatin dan menanyakan tentang tugas Febi. Mendengar bahwa tugas Febi dapat nilai C, Ian yang duduk di barisan belakang langsung tersenyum puas. Febi yang melihat senyuman Ian seakan-akan tak percaya. “Dia sengaja!” ucapnya dalam hati. “Apa ini? Kenapa dia melakukan hal yang sejahat itu?” tanya Febi dalam hatinya. Kejadian hari itu membuat gadis mungil ini sangat terpukul.
Selesai ujian, Febi segera berjalan pulang menuju kostnya. Dengan langkah gontai, Febi terus berjalan menyusuri tepian tanah kosong. Terasa tetesan air mata mulai membasahi pipinya. Ini bukan masa kuliah yang ia mau. Ini adalah masa kuliah yang jauh dari harapannya. Bertemu seorang bahkan dua orang psikopat dan kuliahnya hancur karenanya. Oh! Febi seakan ingin menjerit. Tidak tahukah dia? Tidak tahukah pria itu bahwa permainannya itu, taruhannya adalah masa depannya, masa depan Febi. Febi mulai menangis sambil terisak. Sambil berjalan ia terus terisak menangisi nilai tugasnya. Bukan! Yang Febi tangisi lebih dari itu. Ia menangis karena begitu terpukul melihat senyuman Ian yang menikmati kesulitannya. Karena terus menangis, Febi tidak sadar kalau Ian terus mengikutinya berjalan dari belakang. Hanya saja, kali ini wajah Ian terlihat simpati dengan keadaan Febi. Ia seakan-akan ikut prihatin melihat Febi yang menangis terisak-isak di jalanan. Febi berjalan berbelok ke kiri memasuki g**g sempit menuju kostnya. Di dalam g**g, Febi berpapasan dengan 2 orang pria yang terus melihatnya sedang menangis. Kemudian 2 orang pria itu mendekati Febi sambil tersenyum hendak menggodanya. “Kenapa nangis non?” goda seorang dari mereka. “Sama abang aja, sini” sambung orang yang lain membuat Febi sadar dan berubah dari sedih menjadi takut. Febi berusaha menghindari tatap mata dengan 2 orang tak dikenal yang menggodanya itu. Mereka terus menggoda, bahkan berjalan semakin mendekati gadis mungil itu. Wajah kedua orang itu jadi terlihat mengerikan. Febi semakin terdesak dan ia tidak bisa lari. Kedua orang itu semakin mendekat dan terlihat ingin meraih Febi dengan tangannya. Ketika mereka berada dekat sekali dengan Febi, seorang dari mereka, tangannya hendak meraih pundak gadis itu, tiba-tiba,
TASS! Sebuah tangan lain menepis tangan pria yang berusaha menggoda gadis itu.
“Maaf bang!” kata sang pemilik tangan tegas. Gadis itu membulatkan matanya. Dilihatnya ke samping, yang dapat dilihatnya hanya sebuah d**a bidang yang dibungkus dengan kemeja putih. Gadis itu mendongakkan kepalanya agar dapat melihat siapa sosok bertubuh tinggi yang menyela tindakan kedua orang yang menggodanya itu. Dilihatnya Ian, senior psikopat itu sedang menatap tajam kedua orang tersebut. “Cewek ini punya saya,” ucapnya tegas. Kemudian tangan Ian dengan cepat melingkar di pundak Febi, membuat gadis itu shock tidak tahu harus menyangkal atau mengikuti permainan pria psikopat ini. Tidak sedikitpun terlihat rasa takut keluar dari diri Ian ketika berhadapan dengan orang-orang itu. Kemudian Ian masih dengan posisi tangan melingkar di pundak Febi, mengajak gadis itu dengan cepat berjalan maju meninggalkan orang-orang tadi. “Jangan toleh ke belakang,” ucap Ian tegas sambil terus menundukkan kepalanya dan terus mengajak Febi untuk berjalan tanpa ragu. Mereka berjalan meninggalkan kedua orang tadi sampai ke depan pintu kamar kost Febi dan Ian melepaskan dekapannya dari gadis itu. Febi masih belum mendarat. “Apa yang terjadi? Kenapa kak Ian ada disini? Ada urusan apa dia tolongin aku?” Semua pertanyaan muncul dalam benak Febi. Tapi reaksi yang dapat ditunjukkannya di depan Ian hanyalah mulutnya yang sedikit terbuka tanpa ada suara yang keluar. Hal yang hampir sama juga terjadi pada Ian, tanpa berkata apa-apa, pria berwajah dingin itu hanya menatap wajah Febi sesaat. Lalu segera pergi meninggalkan gadis itu terbengong-bengong di depan pintu kamar kostnya yang sudah reyot itu. “Apa mungkin dia bipolar atau sejenisnya?” pikir Febi masih belum dapat menyatukan semua kejadian yang ia alami hari itu. Mereka berpisah hari itu dalam kesunyian.
Keesokan harinya, Febi pergi pagi-pagi ke kampus untuk mengeprint tugasnya yang harus dikumpulkan. Setibanya di kampus, gadis itu bergegas ke ruang komputer. Dilihatnya semua kursi sudah penuh. “Hh, kalo musim ujian gini gak cuma perpus yang penuh, ruang komputer juga full,” gumamnya sambil melongokkan kepalanya agak ke atas agar dapat terlihat kursi yang kosong. Kemudian Febi mencoba berjalan diantara meja-meja komputer yang bersebelahan, siapa tahu ada yang kosong. Tapi apa yang dilihatnya di depan? Alwi ada di sana sedang menggunakan komputer kampus. Melihat wajah Alwi yang lembut, Febi begitu terpesona. Ia terus melihat Alwi dan terpaku di tempat ia sedang berdiri. Tiba-tiba, pria ramah itu mendongakkan kepalanya dan matanya langsung melihat sosok Febi sedang berdiri di depannya. Tatapan mereka bertemu sejenak. Tapi Febi menjadi salah tingkah dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Gadis itu dengan sengaja celingak-celinguk agar Alwi tidak berpikir bahwa ia dari tadi sedang menatap pria berkulit putih pucat itu. Tapi Alwi ternyata tidak mempermasalahkan hal itu, ia langsung tersenyum begitu melihat Febi dan segera berdiri. “Febi,” panggilnya lembut dan setengah berbisik agar tidak mengganggu para pengguna komputer lain yang ada di ruangan itu. Febi menoleh dengan ragu-ragu.
“Kamu mau pake komputer kan?” sambungnya pada gadis pemalu itu.
“he-eh” jawab Febi.
“Ini. Aku dah selesai kok,” ucapnya sambil mempersilahkan Febi untuk duduk di kursi yang baru saja ia duduki.
Sebelum meninggalkan Febi, Alwi sempatkan untuk melempar senyumannya sekali lagi pada gadis yang jantungnya saat ini sedang berdegup kencang itu. Pria itu segera pergi meninggalkan meja komputer di situ agar tidak berlama-lama untuk membuat Febi berdebar-debar. Setelah Alwi pergi keluar ruangan, Febi segera membuka filenya di komputer dan dengan cepat mencetak halaman per halaman tugas yang sudah dibuatnya dengan kerja keras itu. Ketika Febi sedang menunggu lembaran-lembaran tugas yang sedang dikeluarkan oleh mesin print, dia merasa Sandra yang sedang memakai komputer di meja samping kiri-depannya beberapa kali menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahinya. Karena terus-terusan dilihatin, Febi jadi merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk melihat balik ke arah Sandra. Begitu Febi melihat kearahnya, Sandra langsung membuka mulutnya, “Ini kamu ya?” Febi jadi penasaran apa yang dilihat Sandra di layar monitornya. Febi segera berdiri menghampiri Sandra dan melihat layar monitor Sandra. Begitu melihat layar monitor itu, Febi langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Kemudian dengan perangkat mouse, ia men-scroll terus layar monitor itu ke bawah. Cukup lama ia memutar tombol putaran di atas mouse tersebut, “Apa ini!” Febi mengucapkannya dengan nada cukup kencang membuat orang-orang di dekatnya kaget dan mulai berdatangan. “Siapa yang ambil foto-foto ini?” tanya Febi pada Sandra yang prihatin melihat keadaan Febi. Orang-orang yang berdatangan dan melihat foto-foto yang terpampang di layar itu juga kaget. Itu semua foto-foto Febi dalam berbagai sudut, tapi semuanya diambil dari jauh. Tidak hanya foto wajah Febi, tapi bahkan ada foto-foto yang hanya terlihat kaki Febi yang sedang berjalan juga foto-foto yang hanya mengambil bagian pinggang Febi. Wajah Febi memucat. Ini stalking! Febi teringat ia selalu merasa diikuti dalam perjalanan pulang ke kost. Siapa? Siapa yang melakukan ini?