1.Negeri yang Lebih Tua dari Ingatan
Sebelum Medang dikenal sebagai pusat kosmos di daratan,telah lama berdiri sebuah kekuatan lain di laut —
sebuah negeri yang tidak dibangun di atas sawah atau tembok,melainkan di atas arus, angin, dan jalur perniagaan dunia.
Namanya: Śrīwijaya.
Ia tidak menguasai satu pulau.
Ia menguasai jalur hidup dunia.
Di barat, armadanya menguasai Selat Melayu — jalan air sempit yang menjadi urat nadi perdagangan antara dua samudra besar, tempat kapal-kapal dari Bharata, Persia, dan negeri-negeri jauh dari barat bertemu jung-jung dari Tiongkok dan negeri timur. Siapa pun yang ingin berdagang, berziarah, atau menyeberang dunia, harus melewati jalur itu.
Di selatan, pengaruhnya menjangkau Jalan Air Selatan — perlintasan antara pulau-pulau besar yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Tengah Jawa. Di sanalah Sriwijaya memungut bea lintasan, memberi perlindungan, dan menanamkan benderanya di bandar-bandar pesisir.
Dan di tengah, armadanya berlayar bebas di Laut Jawa, menjadikan laut itu bukan sekadar perairan, tetapi halaman dalam kerajaan mereka.
Sriwijaya bukan negeri pedalaman yang membangun angkatan laut.
Ia adalah negeri laut yang membangun daratan.
Kekuatan mereka bukan hanya jumlah kapal,
melainkan penguasaan arus, musim angin, dan simpul pelayaran.
Para nakhodanya dapat membaca langit sebagaimana resi membaca mantra.
Para pelautnya tumbuh di geladak, bukan di tanah.
Dan kapal-kapal mereka — besar, dalam, dan tangguh — sanggup menyeberangi samudra tanpa kehilangan arah.
Tidak ada kekuatan maritim lain yang menyamai mereka pada zamannya.
Kerajaan yang Lebih Tua dari Medang
Ketika Medang masih membangun candi dan kadewaguruan di daratan Jawa,
Sriwijaya telah lebih dahulu menguasai lautan.
Ia bukan kerajaan baru.
Ia adalah kerajaan yang tumbuh seiring dengan perdagangan dunia.
Sejak generasi-generasi lampau, para raja Sriwijaya telah menjalin hubungan dengan negeri-negeri jauh:
Dengan Bharata di barat,
Dengan Tiongkok di timur,
Dengan negeri-negeri kepulauan di selatan dan utara.
Utusan-utusan asing datang ke bandar-bandar Sriwijaya membawa hadiah berupa, kain sutra, emas,
kemenyan, kitab suci, rempah-rempah, dan benda-benda aneh dari negeri yang namanya bahkan sulit diucapkan oleh lidah.
Sebagian datang untuk berdagang.
Sebagian datang untuk belajar.
Sebagian datang untuk meminta izin lewat.
Dan sebagian datang membawa upeti.
Karena di dunia laut, tidak ada keamanan tanpa Sriwijaya.
Takhta Buddhis di Tengah Samudra
Namun kekuatan Sriwijaya bukan hanya militer dan perdagangan.
Ia adalah pusat Buddhisme samudra.
Biksu-biksu dari Tiongkok, Bharata, dan negeri-negeri jauh singgah di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda atau ke pusat-pusat belajar lainnya. Biara-biara berdiri di tepi pelabuhan. Kadewaguruan Buddha tumbuh di sekitar istana. Kitab-kitab suci disalin dan dikirim ke negeri-negeri jauh.
Banyak orang berkata:
Jika Medang adalah pusat kosmos daratan,
maka Sriwijaya adalah pusat kosmos lautan.
Dan dua kosmos itu,
selama berabad-abad,
hidup berdampingan.
Hegemoni Tanpa Tanding
Tidak ada kerajaan yang berani menantang Sriwijaya di laut.
Bukan karena mereka tidak memiliki kapal,
melainkan karena mereka tidak memiliki jaringan.
Sriwijaya tidak hanya menguasai pelabuhan,
mereka menguasai simpul:
Tempat arus bertemu,
Tempat angin berbalik,
Tempat jalur perdagangan bercabang.
Mereka tidak perlu menguasai semua daratan.
Cukup menguasai titik-titik kunci —
dan dunia akan datang kepada mereka dengan sendirinya.
Bahkan raja-raja dari negeri seberang laut,
yang tidak pernah melihat pantai Jawa,
mengirimkan utusan dan hadiah ke Sriwijaya
agar kapal-kapal mereka dapat berlayar aman di bawah perlindungan bendera naga laut.
Di pelabuhan-pelabuhan besar,
nama Sriwijaya diucapkan bukan sebagai ancaman,
melainkan sebagai jaminan:
Jika kau berada di bawah perlindungan mereka,
kau berada di bawah hukum laut.
Dan Maka, Dunia Menjadi Tenang
Untuk waktu yang lama,
dunia laut berada dalam keseimbangan.
Sriwijaya menjaga jalur.
Negeri-negeri daratan berdagang.
Para peziarah berlayar tanpa takut.
Para pedagang menyeberang tanpa senjata.
Tidak ada perang besar di laut.
Tidak ada armada yang berani menantang.
Tidak ada negeri yang membayangkan bisa mengguncang tatanan ini.
2 . Ibukota di Sungai Besar
Ibukota Sriwijaya berdiri di tepi sungai besar yang lebar dan dalam, tempat air tawar bertemu pasang surut laut. Dari kejauhan, kota itu tidak tampak seperti benteng perang, melainkan seperti hutan menara dan atap — gudang-gudang kayu beratap tinggi, galangan kapal, biara-biara Buddha, pasar terbuka, paviliun kerajaan, dan balai-balai pertemuan yang dipenuhi suara bahasa asing.
Di dermaga, jung-jung besar dari Tiongkok bersandar berdampingan dengan kapal India, perahu Melayu, dan perahu Jawa. Tiang layar mereka menjulang seperti hutan tiang, bendera-bendera berwarna berkibar di angin laut, dan aroma damar, kapur barus, lada, cendana, dan rempah lain bercampur menjadi bau khas negeri samudra.
Di balik pelabuhan, jalan-jalan lebar mengarah ke pusat kota.
Di sana berdiri:
balai pajak tempat emas dan barang dicatat,
balai hukum tempat sengketa diselesaikan,
kadewaguruan Buddha tempat biksu-biksu dari negeri jauh belajar dan bermalam,
serta istana kayu bertingkat, berdiri di atas tiang-tiang besar, menghadap sungai dan laut.
Sriwijaya bukan kota sunyi seperti pusat pertapaan.
Ia adalah kota yang hidup siang malam.
Dan kekayaannya mengalir seperti air pasang.
3. Takhta yang Disanjung Dunia
Raja Sriwijaya saat itu dikenal sebagai Śrī Mahārāja Dharmapāla
Ia bukan raja yang suka pamer kekuatan.
Ia juga bukan raja yang mengandalkan teror.
Ia adalah raja yang disegani karena stabilitas.
Di hadapan sahabat, ia tenang.
Di hadapan musuh, ia tidak gentar.
Di hadapan utusan asing, ia ramah — namun tidak pernah tampak lemah.
Ia memahami satu hal yang tidak semua penguasa pahami:
Bahwa kerajaan laut bukan dipertahankan dengan tembok,
melainkan dengan jaringan.
Ia menjaga hubungan dengan:
penguasa pesisir Melayu,
negeri-negeri di barat Sumatra,
bandar-bandar di Segara Jawa,
bahkan pelabuhan jauh di Tiongkok dan Bharata.
Utusan datang silih berganti membawa emas,kain sutra,manik-manik,kitab suci,hewan langka,dan senjata buatan negeri jauh.
Sebagian sebagai hadiah.
Sebagian sebagai upeti.
Sebagian sebagai tanda hormat.
Karena dalam dunia laut,
menghormati Sriwijaya berarti:
mengamankan perniagaan.
4 .Tentara Darat yang Tak Terlihat
Banyak orang mengira Sriwijaya hanya kuat di laut.
Itu keliru.
Di balik pelabuhan dan biara-biara,
Sriwijaya memiliki lapisan kekuatan darat.
Bukan dalam bentuk pasukan besar yang berbaris di medan terbuka,
melainkan:garnisun di simpul-simpul sungai,benteng kayu di jalur perdagangan,pasukan penjaga gudang dan bandar,serta satuan elit yang dilatih khusus untuk pertempuran sungai dan rawa.
Pasukan-pasukan ini jarang terlihat,
tetapi mereka selalu berada di tempat yang tepat ketika kerusuhan muncul.
Mereka tidak mencari perang.
Namun bila perang datang, mereka tahu bagaimana menenggelamkannya —
sebelum api membesar.
5. Para Pandai Besi Negeri Samudra
Di pinggiran kota, dekat bengkel galangan kapal dan gudang kayu keras, berdirilah perkampungan pande besi Sriwijaya.
Api tungku menyala siang malam.
Besi ditempa menjadi jangkar besar, pedang berat, tombak panjang, dan bilah pusaka yang dipercaya mengandung tuah laut.
Beberapa senjata dibuat bukan untuk medan perang biasa,
melainkan untuk:
kapten armada,
pengawal raja,
panglima sungai.
Bilah-bilah itu diberi nama,
dimandikan dengan mantra,
dan dipercaya membawa keberuntungan bagi kapal yang membawanya.
Di Sriwijaya,
senjata bukan sekadar alat membunuh.
Ia adalah simbol kekuasaan laut.
6.Candi Muara Takus: Mahkota di Tengah Hutan
Jauh dari pelabuhan utama,
di dataran tinggi dekat sungai besar,
berdiri kompleks suci yang dikenal sebagai Muara Takus.
Tidak seperti candi-candi Jawa yang menjulang di tengah sawah,
Muara Takus berdiri di tengah hutan dan tanah terbuka,dikelilingi tembok bata merah yang panjang,seolah sebuah kota suci tersendiri.
Bangunan utamanya tinggi,
bertingkat,dan besar —
lebih luas daripada bangunan suci mana pun yang dikenal di Jawa pada zamannya.Para peziarah dari negeri-negeri jauh datang ke sana,
biksu-biksu bermeditasi di paviliun kayu,
dan upacara-upacara besar digelar pada hari-hari tertentu,menghadirkan ribuan orang dalam satu waktu.
Bagi Sriwijaya,Muara Takus bukan sekadar tempat ibadah.
Ia adalah lambang legitimasi kosmos,
bukti bahwa mereka bukan hanya penguasa laut,tetapi juga penjaga Dharma.
Jika Medang adalah kota para dewa di daratan,maka Muara Takus adalah mahkota sunyi di tengah rimba samudra.