BAB I — KOTA PARA DEWA

2046 Words
BAB I — KOTA PARA DEWA 1.Kemegahan dan Kejayaan Angin pagi mengalir turun dari perbukitan timur Jawa seperti napas dewa tua. Ia menyentuh hamparan sawah di lembah Brantas, menggetarkan padi yang mulai menguning, menggeser kabut tipis di atas sungai-sungai lebar yang mengalir menuju laut, dan membawa aroma tanah basah ke jantung negeri: istana Medang di Watugaluh. Dari menara pengawas kayu di sisi timur kompleks kerajaan, seorang prajurit muda memandang ke cakrawala. Dari tempatnya berdiri, dunia tampak teratur — begitu teratur hingga seolah kekacauan tak pernah mengenal tanah ini. Ke arah sungai, layar-layar perahu dagang bergerak perlahan di atas Brantas seperti burung putih di atas air gelap. Dermaga kayu membentang di sepanjang tepian, dipenuhi suara tukang angkut, teriakan nakhoda, dan dentang lonceng perahu yang menandai keberangkatan. Beras dari pedalaman, kayu jati dari hutan, garam dari pesisir, dan rempah dari pulau-pulau jauh mengalir masuk ke kota ini seperti darah ke jantung tubuh. Di kejauhan, hutan-hutan lebat membentuk dinding hijau yang memagari dataran rendah, sementara di baliknya, gunung-gunung besar — Wilis, Arjuno, dan Penanggungan — berdiri seperti para penjaga purba yang menatap negeri ini sejak dunia masih muda. Medang bukan sekadar kerajaan. Ia adalah simpul kosmos. Borobudur dan Prambanan memang berdiri jauh di barat, di tanah leluhur Medang yang lama. Namun nama-nama itu hidup dalam doa, kitab suci, dan nyanyian para pendeta — monumen-monumen batu yang dibangun untuk para dewa, bukan manusia semata, ketika wangsa kuno menata dunia dalam andesit dan mantra. Di Watugaluh, roh yang sama kini menjelma dalam kayu jati, tanah liat, air sungai, dan tata kota yang disusun menurut hukum langit. Di tengah dataran subur lembah Brantas, berdiri kota kerajaan: tembok tanah tinggi, parit-parit air yang dialiri cabang sungai, balai-balai pemerintahan, barak prajurit, pasar-pasar ramai, serta istana yang berlapis-lapis halaman, beratap sirap hitam, berpilar kayu jati, dan dijaga gerbang-gerbang berukir naga serta singa — lambang kekuatan darat dan air, bumi dan langit. Tidak ada negeri di Jawa Timur yang menandingi ini. Dan sedikit sekali di dunia yang bisa menyamai kemegahan semacam ini. Medang bukan hanya negeri. Ia adalah tatanan dunia. Kota para Dewa. Di aula istana utama, Raja Dharmawangsa Teguh duduk di singgasana kayu cendana berukir, cahaya matahari menembus celah atap sirap dan jatuh ke lantai batu yang dipoles halus, membentuk garis-garis keemasan yang bergerak perlahan seiring waktu. Wajahnya tenang, matanya tajam — wajah seorang raja yang tahu bahwa dunia berada dalam genggamannya, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keteraturan. Di luar istana, kota bergerak seperti organisme hidup. Di pasar utama, kain sutra dari India tergantung berdampingan dengan tenun Jawa. Rempah-rempah dari Maluku disusun dalam keranjang bambu. Pedagang Arab berkulit gelap menawar kapur barus kepada saudagar lokal, sementara biksu-biksu berdebu dari perjalanan jauh duduk di bawah naungan pohon sawo, meminum air kelapa sambil berbincang tentang kitab suci dan negeri-negeri yang jauh melampaui lautan. Anak-anak berlari di antara kaki kuda dan kereta, tertawa tanpa beban. Di bengkel-bengkel logam, para pandai besi menempa mata tombak dan keris. Di galangan sungai, perahu-perahu baru ditarik ke air, lambungnya dilapisi getah harum. Di barak, prajurit berlatih dengan perisai rotan dan pedang panjang, suara benturan kayu dan besi terdengar seperti denting lonceng perang yang masih sangat jauh. Di sayap timur istana, seorang pemuda berdiri di balkon kayu, memandang hamparan sawah dan sungai yang berkelok seperti ular perak di kejauhan. Namanya Airlangga. Usianya belum genap tujuh belas. Wajahnya masih menyimpan kelembutan remaja, tetapi di matanya sudah tampak ketenangan yang tidak biasa. Ia mengenakan kain putih sederhana dengan ikat emas di pinggang — busana seorang bangsawan muda tanpa kemewahan berlebihan. Di dadanya tergantung kalung kecil berukir Garuda, lambang wangsa Isyana. Ia bukan putra raja Medang. Ia putra Raja Udayana dari Bali dan putri Medang yang telah wafat. Ia datang ke Jawa bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai calon menantu. Angin lembah Brantas menyapu wajahnya ketika ia memandang halaman luas tempat para prajurit berlatih tombak dan perisai, para pelayan istana berlalu-lalang membawa baki perunggu berisi buah dan bunga, serta para pendeta Brahmana berjalan perlahan menuju bangunan suci di sisi barat kompleks kerajaan. “Pagi ini langit bersih sekali,” katanya pada Rakryan Narottama, pejabat senior yang berdiri di sampingnya. Narottama tersenyum. “Itu pertanda baik, Kakangmas. Para dewa sedang berbaik hati.” Airlangga tertawa kecil. “Para dewa selalu baik hati pada Medang.” Dan memang terasa demikian. Di bawah teras paviliun, halaman istana hidup oleh suara dan warna: denting gamelan latihan untuk upacara mendatang, tawa para dayang yang membawa kain sutra dari bengkel tenun kerajaan, suara palu logam dari bengkel senjata, dan di kejauhan — samar namun konstan — bunyi lonceng bangunan suci dipukul para pendeta saat matahari naik. Tidak ada ketegangan. Tidak ada kecemasan. Tidak ada tanda bahwa dunia bisa menjadi sesuatu yang lain dari apa adanya hari itu. Medang berada di puncak kejayaannya. 2. Putera dari Seberang Laut (Kilas Balik Perjalanan) Perjalanan dari Bali ke Medang memakan waktu berhari-hari. Kapal kayu besar itu membelah laut dalam angin musim timur, layar putihnya menggelembung seperti d**a burung raksasa. Di geladak, Airlangga berdiri memandangi garis pantai yang perlahan menghilang, hijau gunung-gunung Bali berubah menjadi kabut biru di kejauhan, lalu lenyap sama sekali di balik cakrawala. Ia tidak menoleh lagi. Bukan karena tak ingin. Melainkan karena jika ia menoleh, ia tahu, kakinya mungkin tak akan sanggup melangkah maju. Airlangga adalah putera Raja Udayana dari Bali dan seorang puteri Medang yang telah wafat muda. Ia tumbuh di antara pura dan laut, di bawah langit yang terbuka, dalam budaya yang berbeda dari tanah leluhurnya sendiri. Sejak kecil ia tahu bahwa darah Jawa mengalir di nadinya, namun Medang baginya tetaplah negeri asing — negeri kitab dan candi batu, bukan negeri ombak dan angin asin. Ia berangkat bukan sebagai penakluk. Bukan pula sebagai duta. Ia berangkat sebagai calon menantu. Dan itu membuat dadanya terasa lebih sempit daripada baju zirah mana pun. Di sisi kapal, Rakryan Narottama berdiri bersamanya. Pejabat senior Medang itu sudah lama ditugaskan menjemputnya dari Bali dan mengantarnya ke Watugaluh. Rambutnya mulai memutih, janggutnya terawat rapi, matanya tenang seperti permukaan telaga di pagi hari. “Kakangmas tidak bicara sejak fajar,” kata Narottama akhirnya. “Angin laut membuat pikiranmu berat?” Airlangga tersenyum kecil, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Aku hanya bertanya-tanya,” katanya pelan, “apa aku akan diterima di sana.” Narottama memandangnya. “Di mana?” “Di Medang.” Airlangga menatap laut. “Aku bukan orang Jawa. Aku dibesarkan di Bali. Bahasa, adat, cara hidupku… semuanya berbeda. Aku datang bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai raja, bahkan bukan sebagai anak Raja Dharmawangsa. Aku hanya… tamu.” Narottama tersenyum tipis. “Kau datang sebagai darah Medang yang pulang ke asalnya.” Airlangga menoleh. “Itu hanya kata-kata.” “Tidak,” kata Narottama. “Itu silsilah.” Ia lalu berkata dengan suara tenang, seperti sedang membacakan prasasti: “Ibumu adalah puteri Medang. Darah Isyana mengalir di nadimu. Kau bukan orang asing. Kau hanya anak yang tumbuh jauh dari rumah.” Airlangga terdiam. Namun kegelisahan tidak hilang begitu saja. 3. Remaja di Persimpangan Takdir Secara fisik, Airlangga tidak tampak seperti seseorang yang rapuh oleh rindu. Tubuhnya tinggi untuk usianya, bahunya lebar, lengannya kuat. Ia terbiasa berenang melawan arus, mendaki lereng berbatu, dan menempuh perjalanan panjang tanpa banyak mengeluh. Di atas kuda, ia ringan seperti bayangan, mampu berdiri di pelana tanpa pegangan, melompat turun dan naik kembali dalam satu tarikan napas. Para prajurit pengawal sering berbisik bahwa pemuda itu bergerak seperti kijang — cepat, sunyi, dan sulit ditebak. Namun di dalam dirinya, ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh latihan atau perjalanan. Ia merindukan suara ombak Bali di malam hari. Ia merindukan bau dupa pura dan nyanyian mantra yang naik ke langit tanpa tembok candi. Ia merindukan kesederhanaan hidup tanpa gelar, tanpa rencana besar, tanpa takdir yang ditentukan orang lain. Di dek kapal, pada suatu malam ketika bulan menggantung pucat di atas laut, ia berkata kepada Narottama: “Andai aku bisa memilih… aku ingin menjadi rakyat biasa.” Narottama tidak langsung menjawab. “Rakyat biasa?” tanyanya akhirnya. “Ya,” kata Airlangga. “Bangun pagi tanpa upacara. Berlatih tanpa tujuan politik. Menikah karena cinta, bukan karena perjanjian. Hidup tanpa harus membawa nama kerajaan ke mana pun aku melangkah.” Narottama memandangnya lama. “Kau tahu,” katanya pelan, “berapa banyak anak muda di Medang yang berharap berada di posisimu?” Airlangga tidak menjawab. “Bukan karena mereka ingin kekuasaan,” lanjut Narottama. “Tetapi karena mereka ingin memiliki kesempatan untuk membuat hidup orang lain lebih ringan.” Airlangga mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” Narottama menunjuk laut di hadapan mereka. “Lihat ombak itu. Satu ombak kecil tidak berarti apa-apa. Tapi jika kau bisa menggerakkan arus, ribuan ombak akan mengikutinya. Kau tidak diberi takdir besar karena dunia ingin menindasmu. Kau diberi takdir besar karena dunia membutuhkan seseorang untuk memikulnya.” Airlangga terdiam. “Dan kau boleh menolak,” kata Narottama lembut. “Tak ada hukum kosmos yang memaksamu menjadi apa pun. Tetapi menolak takdir tidak selalu berarti bebas dari akibatnya.” “Aku takut,” kata Airlangga akhirnya. “Takut apa?” “Takut kehilangan diriku sendiri.” Narottama tersenyum tipis. “Justru itu yang harus kau cari — bukan siapa dirimu sekarang, tetapi siapa dirimu setelah kau kehilangan semua yang kau kira milikmu.” Kata-kata itu membuat Airlangga tidak tidur lama malam itu. Tentang Negara, Dharma, dan Kekosongan Hati Di hari-hari berikutnya, percakapan mereka semakin dalam. Tentang negara. “Apa itu negara bagimu, Kakangmas?” tanya Narottama suatu pagi. “Tempat orang hidup bersama,” jawab Airlangga. “Dan?” “Tempat orang dilindungi.” Narottama mengangguk. “Itu jawaban prajurit. Tapi negara juga tempat orang belajar menahan diri. Tanpa hukum, yang kuat memakan yang lemah. Tanpa belas kasih, hukum berubah menjadi pedang.” Airlangga memikirkan itu lama. Tentang dharma. “Dharma bukan kebenaran tunggal,” kata Narottama suatu senja. “Ia adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh dalam keadaan yang tidak sempurna.” “Jadi tidak ada pilihan benar?” tanya Airlangga. “Ada,” jawab Narottama. “Tapi sering kali tidak ada pilihan yang sepenuhnya baik.” Tentang kekosongan hati. “Aku merasa kosong,” kata Airlangga suatu malam. “Seolah ada ruang di dadaku yang tak terisi oleh apa pun.” Narottama tersenyum. “Itu bukan kekurangan. Itu ruang. Tanpa ruang, tak ada tempat bagi apa pun untuk tumbuh.” Tentang cita dan cinta. “Bagaimana jika cita-cita bertentangan dengan cinta?” tanya Airlangga. Narottama menjawab, “Maka kau harus bertanya: cinta siapa yang sedang kau lindungi — cintamu sendiri, atau cinta dunia yang mempercayakan sesuatu padamu?” Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memberinya jawaban pasti. Namun justru di situlah ia mulai merasa hidup. 4. Langkah Kuda dan Langkah Takdir Ketika rombongan akhirnya mencapai daratan Jawa dan melanjutkan perjalanan darat menuju Watugaluh, Airlangga sering berada di depan. Ia menunggang kuda cokelat muda dengan surai hitam, tubuhnya condong ringan ke depan, lututnya menjepit pelana dengan mantap. Ia bisa memacu kuda di jalur sempit tanpa ragu, melompati parit kecil, menghindari akar pohon, dan berhenti mendadak tanpa kehilangan keseimbangan. Para pengawal yang lebih tua diam-diam mengaguminya — bukan karena ia pangeran, tetapi karena ia tidak pernah memperlakukan kuda atau senjata sebagai simbol status, melainkan sebagai sahabat gerak. Narottama pernah berkata padanya sambil tersenyum, “Jika takdir menolakku sebagai pejabat, aku akan merekomendasikanmu menjadi ksatria pengembara.” Airlangga tertawa kecil. “Itu terdengar lebih menyenangkan.” “Ya,” kata Narottama. “Dan dunia akan kehilangan seorang raja.” Airlangga tidak menjawab. Namun jauh di dalam dirinya, ada bagian yang berharap Narottama keliru. 5. Menuju Tanah Para Dewa Ketika dataran rendah Jawa mulai terbentang di hadapan mereka — sawah hijau, sungai berkelok, desa-desa dengan atap rumbia, dan candi-candi kecil di kejauhan — Airlangga merasakan sesuatu yang asing. Bukan ketakutan. Bukan pula kegembiraan. Melainkan rasa bahwa ia sedang berjalan masuk ke sebuah cerita yang telah dimulai jauh sebelum ia lahir. “Di sanalah Medang,” kata Narottama suatu pagi, menunjuk ke arah cakrawala. Airlangga memandangnya lama. “Apakah takdir selalu harus diterima?” tanyanya. Narottama menjawab pelan, “Tidak. Tapi kadang, takdir bukan sesuatu yang kau terima… melainkan sesuatu yang kau jalani, sambil tetap mempertanyakan.” Airlangga menarik napas panjang. Ia kuat menempuh perjalanan jauh. Ia cekatan di atas kuda. Ia tangguh dalam latihan. Namun di hatinya, ia masih remaja yang rindu kampung halaman, yang tidak tahu apakah ia akan menemukan rumah baru atau hanya dianggap tamu asing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD