***
Ini awal dari semuanya, aku tahu tidak mudah untuk bertahan.
***
"Bersihkan semua ruangan yang ada di rumah ini. Awas aja kalo sampai saya kembali masih kotor, kamu pergi dari rumah ini!" Wanita paruh baya dengan emosi melihat seorang gadis yang sedang menyapu di ruang tamunya.
Gadis lugu itu menghela napas, ia harus sabar menghadapi mertuanya itu.
"Iya, mah. Aku bakalan bersihin semuanya."
Windy -- wanita paruh baya itu tersenyum sinis mendengar perkataan menantu yang tak ia sukai itu. "Mah? Saya bukan Mamah kamu, panggil Nyonya."
"Iya, Nyonya." Dengan pasrah Navya, menuruti perintah ibu mertuanya itu.
"Bagus. Ingat! Kalo ada di depan suami dan anak saya jangan panggil saya Nyonya." Windy berjalan menjauh dari ruangan itu, sembari jengkel mengingat bahwa Navya sekarang adalah menantunya. Istri dari Reksa -- anak kedua di keluarga itu.
Dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikan Navya yang dengan sabar menerima perlakuan buruk dari Windy.
"Kakak kenapa nggak ngelawan mama, sih?"
Navya tersenyum. "Kita harus menghormati orang tua, dek."
"Tapi kan istrinya kak Reksa harusnya nggak diperlakukan seperti ini." Liam miris melihat kejadian yang baru saja terjadi, apalagi yang melakukan adalah ibu kandungnya.
"Aku juga harus bantuin pekerjaan rumah di sini." Navya terus tersenyum, agar adik iparnya itu tidak khawatir dengannya.
"Kak Reksa juga cuek banget sama kakak. Kak Navya harus sabar ngadepin sikapnya kak Reksa, ya? Gue yakin sedingin apapun cowok kalo dikasih perhatian terus bakalan luluh kok." Liam tersenyum, mencoba memberi dukungan kepada Navya.
"Makasih, Liam. Kamu jangan lupa belajar, ingat kalo pintar kan bisa jadi kebanggaan keluarga. Jangan main mulu." Navya sedikit tertawa, mencoba menasihati saudara iparnya itu.
"Siap, kak. Bantuin gue belajar, kalo ada yang susah, ya? Kakak kan pinter." Liam dengan senyum manisnya.
"Iya, nanti kakak bantuin. Udah sana sekarang istirahat aja. Nanti kalo ketahuan mama ngobrol sama kakak dimarahin."
"Oke, kak. Aku doain kak Reksa cepet cair hatinya, ya. Biar aku cepet dapat ponakan baru. Bye... Kakak cantik." Liam berlari menuju kamarnya, setelah menggoda Navya.
Navya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkat Liam. Namun, ia bahagia bisa mendapatkan adik ipar seperti Liam, karena sedari dulu ia menginginkan seorang adik. Akan tetapi, takdir tidak mengizinkannya.
***
"Minggu kemarin lo kemana, Sa? Kok nggak bisa dihubungin, sih?" Tanya Haza, yang penasaran dengan sepupunya itu.
Reksa terdiam sejenak, mengingat sesuatu yang membuat kehidupannya sekarang berubah. Tak hanya itu, statusnya juga sudah berubah. Takdir memang kejam kepadanya. Bagaimana tidak, ia harus menuruti permintaan ayahnya untuk menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak ia kenal.
"Ada urusan mendadak sama bokap. Kebetulan hape gue lowbat jadi nggak bisa dihubungi." Reksa berusaha mencari alasan agar saudaranya itu tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Haza tersenyum, sedikit mencium kebohongan dari kata-kata Reksa. Namun, ia memang tidak mau mencampuri urusan sepupunya itu.
"Oh gitu... Kalo ada masalah bilang sama gue. Jangan ada yang ditutupi, karena percuma juga bakalan ketahuan sama gue."
Reksa menghela napas, ia tahu Haza memang tidak gampang dibohongi. Akan tetapi, sekarang ia harus menyembunyikan terlebih dahulu status barunya itu.
"Kerjaan lo emang udah selesai, Za? Jangan bilang, lo ke ruangan gue biar gue bantuin? Gue nggak mau ngurusin kerjaan lo." Reksa yang sudah memahami betul kelakuan Haza.
Haza tersenyum simpul. "Tau aja sih, Za. Bantuin ya biar cepet selesai. Nanti gue traktir deh."
"Nggak kebalik? Paling ujung-ujungnya lo minta bayarin ke gue." Reksa benar-benar bosen dengan alasan Haza. "Mending lo resign deh daripada tiap ngerjain sesuatu minta bantuin gue mulu."
"Kalo gue resign nanti nggak punya modal buat nikah sama Sharen dong, Sa. Jangan gitulah kalo ngomong. Tega banget lo nyuruh gue berhenti kerja." Haza dengan muka memelas menghadapi Reksa.
"Makanya kerja yang benar. Fokus. Biar dapat banyak bonus, kan lumayan bisa buat nikah sama orang yang lo sayang." Reksa mengingat bila menjalin hubungan harus saling menyayangi dan mencintai.
"Siap, boss! BTW... Lo sendiri jangan terlalu larut mikirin orang yang udah nggak ada deh. Mending move on nyari yang baru. Banyak yang ngantri buat dapatin lo." Haza mencoba menggoda Reksa. "Atau... Gue cariin yang seksi, terus--"
"Gue nggak butuh! Keluar dari ruangan gue sekarang!"
"Yaelah... Galak banget sih, tapi masih aja banyak yang naksir. Heran gue." Haza menggerutu mendengar kata pengusiran dari Reksa. Ia tahu, cowok itu memang sangat sensitif bila dipancing berbicara mengenai pasangan.
Baru saja Haza keluar. Tiba-tiba ada seseorang tamu tak diundang datang langsung memasuki ruangan Reksa.
"Hai, Sa. Apa kabar? Gue kangen banget sama lo." Tanpa aba-aba orang itu memeluk erat Reksa.
Reksa hanya diam, bingung harus melakukan apa. Ia kaget, melihat seseorang yang sangat dikenal.