Membantu Arwah Bayi

2149 Words
Setelah Marcell dan teman-temannya menjauh dari bangunan terbengkalai itu, mereka dapat bernafas lega. Mudita yang terlihat sangat ketakutan diantara yang lain. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru. "Dita kamu nggakpapa?" tanya Gadis yang pertama kali melihat wajah Dita. "Aku, aku hanya menahan takut Dis, tapi sekarang sudah lebih baik," balas Dita dengan nafas yang mulai stabil. Dita memang sangat penakut, saat di rumah saja dia selalu ditemani seseorang saat mau ke kamar mandi di malam hari, baik itu bibi atau ibunya. Karena Dita memang anak tunggal jadi tak heran jika lebih manja dari yang lain. Namun soal yang lain Dita memang bisa diandalkan. "Yaudah Dita kamu minum dulu ya," ucap Marvell yang mengambilkan botol minum dari dalam tasnya. Marvell memberikan botol minum itu kepada Dita yang nampak sangat lemas. "Ini minum dulu," ucap Marvell yang segera memberikan botol minum yang ia bawa. Walaupun anak laki-laki tapi Marvell tidak malu untuk membawa air minum, karena baginya air minum sangatlah penting. "Makasih Vell," balas Dita yang segera mengambil botol minum dari tangan Marvell dan meneguknya sampai habis. Mereka kembali berjalan ke arah sekolah mereka. "Dita, kamu dan teman-temanmu sekolah naik apa?" tanya Marcell kepada adik-adik kelasnya. "Kita naik bus antar jemput dari sekolah Kak," balas Ratana, Dita terlihat masih belum benar-benar pulih. "Yaudah nanti biar aku sama Marvell anterin kalian ya," balas Marcell yang masih memegang plastik berisi tulang manusia itu. "Iya Kak, balas Ratana dan Paramita bersamaan. "Vell, kamu ambil mobil ya, kita ke krematorium sekarang juga, nanti keburu malam kasian Gadis dan teman-temannya kalo kita pulang kemaleman, pasti orangtua mereka akan cemas," ucap Marcell kepada adiknya. "Siap Kak," balas Marvell lalu segera mengambil mobilnya yang terparkir di area sekolah. Sekolah mereka memang sekolah khusus sultan jadi ada area parkir khusus mobil untuk para siswa yang membawa mobil. "Sembari menunggu Marcell ambil mobil, kalian telfon orangtua kalian dulu ya," ucap Marcell menasehati adik-adik kelasnya. "Iya Kak," balas Gadis dan teman-temannya. Gadis dan teman-temannya segera menelfon orang tua mereka untuk memberikan kabar bahwa mereka akan pulang telat hari ini. Tak lama setelah mereka menelfon orangtua mereka, Marvel datang dengam membawa mini cooper berwarna putih. "Tin tin," suara Marvell menyalakan klakson mobil. "Ayo naik," ucap Marvell mengajak adik-adik kelasnya naik kedalam mobil mininya itu. "Tapi Kak, mana muat untuk kita berempat di belakang," ucap Ratana yang memprotes mobil Marcell yang terlalu kecil untuk mereka berenam. "Hehe, dimuat-muatin ya, karena kebetulan Kakak dan Marvell bawanya mobil mini ini," balas Marcell. Mereka mengikuti apa yang diperintahkan Kakak kelasnya itu. "Kak aku bawa plastik putih, Kakak ganti plastik itu ya, plastiknya itu sudah kotor dan sobek-sobek," ucap Paramita sambil memberikan plastik putih kepada Marcell untuk membungkus tulang itu. "Iya, Makasih ya Mita," balas Marcell yang segera mengambil plastik yang diberikan oleh Mita. "Iya Kak," balas Mita singkat. "Astaga Mita, kalau kamu bawa plastik kenapa nggak bilang dari tadi, kan kasian Kak Marcell tangannya kotor," ucap Tana yang memprotes temannya itu. "Hehe aku baru inget Na, tadi Bibi masukin plastik ini di tasku untuk menyimpan baju kotor," balas Mita sambil tertawa meringis. "Sudah-sudah kalian nggak perlu bertengkar," balas Marcell mencoba melerai kedua adik kelasnya yang sedang berdebat. Sementara Dita terlihat menjauh dari Marcell. Dita takut dengan tulang-tulang manusia yang di pegang oleh Marcell. "Dita kamu kenapa?" tanya Gadis kepada Dita yang berlagak aneh. "Nggakpapa Dis, aku hanya takut sama tulang-tulang itu," balas Dita sambil menunjuk kearah tangan Marcell yang memegang tulang-tulang manusia itu. "Yaudah masuk yuk, nanti kesorean lo," ucap Marvell yang ada didalam mobil. Ratana dan Paramita segera masuk ke bangku belakang, disusul oleh Dita. Mereka bertika sudah duduk berdesakan di dalam sana, mereka memberikan tempat untuk satu orang lagi. "Gadis, kamu di depan aja ya," ucap Marvell yang menginginkan Gadis duduk di belakang. "Kamu ya Vell cari kesempatan dalam kesempitan aja," balas Marcell yang terheran-heran dengan sifat adiknya itu. "Gimana nih Kak jadi aku duduk dimana?" tanya Gadis kepada Marcell. "Yaudah Dis kamu di depan aja ya, di belakang sesak," balas Marcell yang langsung dituruti oleh Gadis Gadis dan Marcell segera masuk ke dalam mobil dan menempatkan diri. Ternyata keberadaan Marcell disana tidak disukai oleh Dita yang duduk disebelahnya. Dita sangat ketakutan ketika Marcell duduk di sebelahnya sambil memegang plastik berisi tulang manusia itu. "Kak, tolong jauhin tulang itu dariku ya, aku takut," ucap Dita dengan badan berkeringat padahal di dalam mobil full AC. "Iya iya," balas Marcell sambil mengarahkan badannya ke jendela mobil. Kini dita dapat bernafas lega. "Gadis, seat belt nya dipake ya," ucap Marvell sambil memasangkan seat belt pada Gadis. "Ehmm," suara Marcell berdehem, ia sedikit cemburu saat adiknya melakukan hal itu pada gadis pujaan hatinya "Apa sih Kak, kan aku cuma bantuin Gadis, iya nggak Dis," balas Marvell kepada Kakaknya yang terlihat cemburu. "Yaudah ayo kita berangkat," balas Marcell dengan nada jutek. "Iya deh, kita ke krematorium Nirvana kan Kak?" tanya Marvell yang bersiap melajukan mobilnya. "Iya, lumayan deket kan dari sini," balas Marcell kepada adiknya . "Oke otw ya, mari kita jalan," ucap Marvell yang kemudian melajukan mobil mininya dengan tenang. "Gadis, aku boleh minta nomor kamu?" ucap Marvell membuat Marcell cemburu. "Eh Vell kamu ini apa-apaan sih, baru kenal udan berani minta nomor Gadis, jangan dikasih Dis, dia Anaknya emang gitu playboy," ucap Marcell yang sangat tak rela jika adiknya mendapatkan nomor Gadis, sedangkan dia saja belum punya. "Alah bilang aja Kakak cemburu kan?" balas Marvell meledek kakaknya. "Nggak, siapa yang cemburu," balas Marcell yang nampak malu-malu kucing. "Kak jangan bohong lo, nanti keduluan Marvell Kakak nyesel loh," bisik Dita yang duduk di samping Marcell. "Udahlah ayo nyetirnya yang bener, awas ya kalo nggak hati-hati," ucap Marcell yang mengalihkan pembicaraa . Marcell dan Marvell memang sering beradu argumen, tetapii dibalik semua itu sebenarnya mereka saling menyayangi. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah krematorium nirvana. Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah kremasi itu. Lagi-lagi Dita yang sangat penakut terus berpegangan pada Paramita, disama ada beberapa keluarga yang sedang menunggu proses kremasi anggota keluarganya. Marcell dan Marvell mengurus semuanya, sedangkan Gadis dan teman-temannya hanya menunggu. Tiba-tiba Gadis kedatangan sosok bayi sekitar umur 1 tahun, namun sudah bisa berjalan. Bayi itu menghampiri Gadis dan mengatakan sesuatu pada Gadis. "Kak," panggil bayi itu sambil tersenyum manis pada Gadis. "Iya Sayang, kamu siapa?" tanya Gadis kepada bayi itu. Gadis sadar jika bayi yang mengajaknya berbicara itu bukanlah manusia. Melihat Gadis yang sedang berbicara sendiri membuat teman-teman Gadis bergidik ngeri. Mereka mengingat ucapan Marcell jika setelah kejadian tadi Gadis akan bisa melihat makhluk tak kasat mata. Mereka bertiga hanya diam mematung dan mencoba meredam perasaan takutnya. "Aku, aku bayi yang Kakak dan teman-teman Kakak tolong," balas bayi itu dengan wajah yang sangat bahagia. "Oh, sebentar lagi kamu akan lebih tenang Adik bayi, selamat jalan ya, semoga Adik bayi selalu mendapatkan jalan ketenangan dan kebahagiaan, semoga setelah ini adik bayi dapat terlahir di alam yang lebih bahagia," ucap Gadis kepada bayi malang itu. Gadis membacakan doa pelimpahan jasa bersama teman-temannya. Ketika mendapatkan pelimpahan jasa dari Gadis dan teman-temannya bayi malang itu tampak sangat bahagia dan penuh suka cita. "Semoga jasa kebajikan yang kita lakukan hari ini dan semoga pancaran cinta kasih yang kita pancarkan kepada Adik bayi dapat membawa Adik bayi ke jalan kedamaian dan ketenangan sehingga dapat terlahir ke alam yang lebih bahagia. Semoga semua makhluk berbahagia," ucap Gadis saat mengakhiri doanya. "Terimakasih Kak," balas bayi kecil yang wajahnya nampak lebih bersinar dan telah mengenakan baju yang layak. "Dita, Tana dan Mita, adik bayi mengucapkan terimakasih kepada kalian semua," ucap Gadis menyampaikan ucapan terimakasih dari bayi itu kepada ketiga temannya. "Iya sama-sama adik bayi, semoga setelah ininadik bayi selalu mendapatkan jalan kedamaian dan segera terlahir kembali di alam yang lebih berbahagia ya," balas Ratana yang lebih pemberani dari teman yang lain. Tak lama kemudian Marcell dan Marvell kembali membawa guci kecil yang berisi abu dari jasad bayi malang itu. Saat mereka mencari bayi kecil tadi tiba-tiba bayi itu menghilang. "Sudah yuk kita larung abu jenazah bayi ini ke laut, kita harus buru-buru biar nggak kemalaman pulangnya," ucap Marcell kepada adik-adik kelasnya yang sedang duduk menunggu mereka. Mereka semua berjalan keluar dan segera menuju ke mobil. "Kak aku tadi di datangin arwah bayi itu Kak, kondisinya sudah membaik, nampak raut muka bahagia pada bayi itu, dan bayi itu juga sudah mengenakan baju yang layak," ucap Gadis kepada Marcell yang duduk di belakangnya. "Syukurlah Dis, tapi tadi pas proses kremasi juga prosesnya cepet banget loh, semoga saja itu pertanda baik jika setelah ini bayi malang itu akan terlahir di alam yang lebih bahagia," ucap Marcell yang menceritakan apa yang dia alami. "Saddhu," balas mereka serentak. Mereka semua menuju ke laut yang biasa digunakan untuk melarung abu jenazah. Tak butuh waktu lama mereka sampai di laut tersebut. Mereka berenam menaiki speedboat yang telah disewa oleh Marcell. Marcell juga membeli beberapa bunga untuk ditaburkan di laut bersamaan dengan abu jenazah itu. Setelah sampai di tengah laut Marcell meminta Gadis untuk menaburkan abu jenazah itu sedangkan bunga taburnya dipegang oleh semuanya. Marcell memimpin doa untuk pelarungan jenazah itu diikuti oleh semua teman-temannya. "Adik kecil, Kakak sudah menjalankan apa yang kamu minta, Kakak berharap setelah ini Adik dapat menjalankan kehidupan yang sepanjutnya dengan tenang. Semoga Adik kecil selalu mendapatkan jalan kedamaian dan ketenangan." "Semoga jasa kebajikan yang kita lakukan dan pancaran cinta kasih yang kita limpahkan kepada Adik kecil bisa membantu Adik kecil terlahir kembali di alam yang lebih bahagia. Semoga semua makhluk hidup berbahagia," ucap Marcell yang membuat mereka semua meneteskan air mata, Air mata haru dan bahagia. "Saddhu," ucap mereka serentak. Gadis segera melarung abu jenazah itu kelaut dibantu oleh Marcell. Dita dan kawan-kawan menaburkan bunga tabur yang berwarna putih itu. Saat Marvell menatap ke arah langit, samar-samar ia melihat ada bayangan wajah bayi yang nampak tersenyum bahagia ke arah mereka semua. "Eh coba kalian lihat ke atas deh," ucap Marvell yang kemudian diikuti oleh mereka semua. "Itu wajah bayi yang kita tolong ini, sekarang dia sudah bahagia," ucap Gadis yang membuat mereka kembali meneteskan air mata haru dan bahagia. Mereka semua membalas senyum ke arah langit yang tergambar wajah bayi itu. Mereka semua meletakkan kedua tangan di depan d**a membentuk teratai dan menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan. Setelah mereka melihat kearah langit kembali bayangan itu sudah tidak ada. Mereka semua kembali ke daratan setelah proses pelarungan selesai dan berjalan dengan lancar. Beberapa menit kemudian mereka sampai di darat. "Yaampun Dis, aku seneng banget loh bisa ikut membantu Adik bayi itu sampai selesai," ucap Dita yang sudah mulai aktif lagi. "Tuh kan nggak terjadi apa-apa kan, gitu kok takut," balas Paramita yang diikuti kekehan mereka semua. "Syukurlah kita bisa membantu Adik malang itu sampai tuntas dan tak ada kendala apapun," ucap Marcell. "Iya Kak, aku juga ikut seneng loh sekarang Adik bayi itu sudah tenang," sahut Marvell. "Makasih ya buat kalian semua, aku sangat bahagia memiliki teman yang berhati mulia seperti kalian," ucap Gadis yang kemudian dipeluk oleh Mudita, Ratana dan Paramita. "Iya kita juga bahagia banget memiliki sahabat sepertimu Dis," balas Ratana yang masih dalam posisi berpelukan. "Mulai sekarang kita jadi besti ya, sahabat dalam suka dan duka," sahut Paramita. Mereka berempat tertawa bahagia. "Aku boleh ikut peluk nggak?" ucap Marvell yang membuat semua teman ceweknya menggerutu. "Idih, cowok ikut-ikutan aja," balas Mudita. "Kan siapa tau boleh ikut jadi sahabat kalian," balas Marvell bercanda. "Untuk sahabatan kamu boleh ikut, tapi untuk pelukannya big no no," balas Mudita diiringi tertawa mereka semua "Sudah-sudah sini Kakak peluk," ucap Marcell yang meledek adiknya. Dengan pasrah Marvell menerima pelukan dari kakaknya. "Ih so sweet banget sih," ledek Ratana untuk Marvell dan Marcell. Akhirnya mereka saling berpelukan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok laki-laki dan perempuan. "Yaudah kita pulang yuk, rumah kalian searah nggak? Rumah siapa yang paling deket dari sini?" tanya Marcell kepada Adik-adik kelasnya itu. "Rumahku Kak," balas Gadis yang paling pertama menjawab. "Untuk kamu Kakak anter paling belakang Gadis, Kakak ingin bertemu dengan orangtua kamu," balas Marcell yang membuat suasana heboh. "Ciee ciee yang mau ketemu camer," ucap Paramita meledek Marcell dan Gadis. "Apa camer," tanya Marvell yang kudet. "Calon mertua," balas Mudita, Ratana dan Paramita serentak diiringi dengan suara tawa terkekeh mereka. "Eh nggak ada ya yang namanya apa tadi?" balas Marvell yang lupa dengan yang dikatakan teman-temannya. "Camer," balas Mudita. "Nggak ada ya camer-cameran, Gadis itu masih sekolah, masa depannya masih panjang," ucap Marvell yang tak terima jika Gadis akan didapatkan oleh kakaknya. "Idiihh bilang aja kamu cemburu," balas Paramita meledek Marvell yang nampak kesal. "Yaampun satu cewek direbutin cogan, Adik Kakak lagi, hayolo kamu pilih yang mana Dis, bingung kan lo, malah semuanya ganteng lagi," ucap Mudita yang terus nyerocos. "Kalian ngomong apa sih, kita semua kan temen," balas Gadis yang tampak malu-malu. "Temen tapi mesra ya," sahut Paramita yang membuat mereka bertiga terkekeh, membuat wajah Gadis nampak memerah. "Yaudah yuk antar kalian sekarang, sudah hampir malam nih," balas Marcell yang membuat suasana kembali tenang. "Rumahku yang lebih deket dari sini Kak," balas Ratana. Akhirnya mereka segera masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD