Mayra kini tengah terbaring di salah satu kursi yang ada di apartemen, sejak tadi air matanya tidak pernah berhenti berlinang jika mengingat bagaimana nasib suaminya di luar sana, yang belum dapat di temukan, kenapa kebahagiaan selalu saja datang hanya sebentar lalu kesedihan membuat hati dan pikirannya kacau. Mayra ingin suaminya kembali, meski dalam keadaan tidak bernapas, namun ia tidak pernah berhenti berharap, suaminya kembali dalam keadaan baik-baik saja. “Mayra, berhenti lah menangis,” kata Shofie, lalu duduk di dekat Mayra yang kini terbaring lemah tak berdaya. “Shofie? Kamu datang? Damian mana?” tanya Mayra, lalu beranjak dari pembaringannya, dan menyeka air matanya. “Damian langsung ke Dewan Keselamatan Transportasi Nasional, aku kemari langsung menemanimu, karena Tari harus

