BAB 2

1602 Words
Seperti biasa, aku berkutak dengan tugas yang di berikan oleh Pak Harjum untuk ku selesaikan, Rahmadi sesekali membantuku menyelesaikannya dan mencopy beberapa dokumen yang harus menjadi arsipku, ku lihat beberapa pramugari lagi-lagi bergosip di ruangan sebelah yang merupakan pantry, semenjak pria asing itu bekerja di perusahaan ini, semua pramugari yang biasanya bermalas-malassan ketika sedang free, sekarang malah lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Lucu, ‘kan? Namun, itu menarik karena kantor jadi ramai meski bising. “May, aku bisa izin gak sore ini untuk pulang cepat?” tanya Rahmadi, membuatku mendongak dan menatap wajahnya yang kini penuh harap. “Izin kemana?” “Aku ada janji dengan Sonia, sepulang dari penerbangannya, kami akan˗” “Jalan-jalan?” “Hehe, kamu kok tahu?” “Tentu saja tahu, bukannya kamu menyukai Sonia?” “Aku menyukainya, sangat.” jawab Rahmadi, spontan, membuatku tertawa kecil. “Baiklah, jika memang kamu meminta izinku, aku pasti akan mengizinkanmu.” kataku. “Thanks, ya, May, kamu memang rekan kerja yang pengertian.” “Ya sudah … selesaikan dulu pekerjaanmu, aku membutuhkannya untuk memberikannya kepada Pak Harjum, dia akan mengomeli kita, jika kita belum selesai.” kataku, membuat Rahmadi bergegas menuju foto copy dan mencopy semua dokumen yang sudah ku pisahkan. Suara ketukan pintu terdengar, membuatku menoleh, pria asing itu mengetuk pintu ruanganku? Ada apa? Apa urusannya? Apa dia akan membahas tentang toilet restoran waktu itu? Aku mencoba menyadarkan kepalaku, ketika melihatnya mendekati meja kerjaku. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku, santun, karena dia memang pria yang harus di santuni, seperti kata Ibu Danessa. “Apa saya sudah memiliki jadwal penerbangan?” tanyanya. “Jadwal penerbangan? Jadwal penerbangan pilot bukan saya yang mengurusnya, saya hanya mengurus jadwal penerbangan pramugari dan pramugara.” jawabku. “Siapa yang mengurusnya?” “Staf Ibu Danessa.” jawabku.” “Saya mau, kamu yang membuatkan jadwal penerbanganku, konfirmasi saja pada Ibu Danessa, agar kamu bisa mengurusnya dan sore ini bisa saya ambil.” kata pria asing ini, Siapa dia? Kenapa dia memerintahku? Dasar! “Baiklah, akan coba saya bicarakan pada Ibu Danessa.” jawabku. “Pokoknya sore ini jadwal penerbangan saya harus ada, agar saya bisa menyesuaikan  dengan jadwal saya yang lainnya.” Pria asing ini benar-benar memerintahku, jadwalnya yang lain? Apa dia selebriti? Oh tuhan … aku tidak ingin berurusan dengannya. Namun, perusahaan memberiku tanggung jawab akan hal itu. “Terus, katakan juga pada Ibu Danessa, siapa yang bisa membersihkan apartemenku?” “Apa kamu tidak bisa berurusan sendiri pada Ibu Danessa?” tanyaku. “Jika saya bisa, saya pasti akan berurusan sendiri.” katanya. “Baiklah, akan saya bicarakan pada Ibu Danessa.” kataku, dengan terpaksa, pria ini benar-benar aneh dan dia berhasil membuatku tidak fokus pada pekerjaanku. Setelah bertemu pria asing yang bernama Rafael itu, aku lalu berjalan menuju ruangan Ibu Danessa, tentu saja hal yang sangat jarang ku lakukan adalah berkunjung di departemen lain, Ibu Danessa tentu melihatku dengan heran. “Tumben kamu berkunjung, Mayra.” sambut Ibu Danessa, aku tersenyum dan duduk di hadapan meja kerjanya. “Maaf, Bu, saya kemari karena pria asing itu˗ maksud saya Pak Rafael menyuruh saya untuk membuatkan jadwal penerbangannya dan menyuruh saya menanyakan siapa yang bisa membersihkan apartemennya.” kataku, membuat Ibu Danessa mendengkus. “Pak El itu aneh loh, May, dia maunya kamu yang mengurus jadwalnya, dia tidak ingin jika staf saya yang mengerjakannya, jadi saya minta tolong sama kamu untuk membuatkan jadwalnya.” kata Ibu Danessa, membuatku kehilangan akal, konyol emang. Namun, mau bagaimana lagi. Pilot tampan itu merepotkan. “Baiklah, Bu.” jawabku, hendak beranjak dari duduknya. “Duduk dulu, May, saya akan menelfon seseorang untuk membersihkan apartemen Pak El.” kata Ibu Danessa, lalu mendial nomor seseorang. Sesaat kemudian setelah mendengar Ibu Danessa berbicara dengan seseorang di seberang telpon, akhirnya Ibu Danessa menatapku, aku sudah seperti orang bodoh di sini. Seperti tak memiliki pekerjaan lain saja. “Bagaimana, ya, ini, orang yang saya percayakan untuk membereskan apartemen Pak El, malah tidak bisa datang karena ada urusan mendesak, sedangkan kita harus membuat Pak El nyaman di kantor dan di rumahnya.” keluh Ibu Danessa. “Apa kamu mengenal seseorang? Kami sudah menyediakan dananya.” kata Ibu Danessa. “Baiklah, Bu, saya yang akan membersihkan apartemen Pak El.” kataku, karena hal ini, melibatkan uang, aku bisa menambah uang keseharianku jika menerima dana dari Ibu Danessa untuk orang yang akan membereskan apartemen pria asing itu. “Benarkah? Kamu bersedia? Apa kamu tidak ada pekerjaan?”  “Saya lepas tugas sore ini, jadi sore ini, saya akan langsung ke apartemen Pak El.” “Baiklah, ini dananya, karena kamu akan membereskan rumah dinas Pak El, kamu harus membeli beberapa makanan dan persiapan  di kulkasnya.” kata Ibu Danessa, memberikan sebuah amplop coklat padaku. “Baiklah, Bu.” Aku menerima amplop berisi uang itu dengan senang hati. “Di sini juga sudah ada uang lelah kamu.” bisik Ibu Danessa. “Iya, Bu, tapi saya minta Ibu tidak memberitahu Pak Harjum.” Pintahku. “Baiklah, kamu tenang saja, kamu juga sudah membantu saya, jadi saya harus membantu kamu, ‘kan? Jadi kita saling menjaga rahasia ini saja.” kata Ibu Danessa. “Baiklah, Bu, saya permisi.” aku beranjak dari dudukku dan meninggalkan Ibu Danessa dengan napas lega, karena jika aku belanja persiapan pria asing itu, aku bisa membeli yang murah saja, dia, kan, orang asing, dia tidak akan tahu, makanan apa saja yang aku beli, astaga… apa yang ku pikirkan? Kenapa demi uang, aku bisa berpikiran jelek seperti ini? Aku kembali masuk ke ruanganku, menghempaskan pantatku di kursi kerjaku dan melihat layar komputer yang menjadi salah satu fasilitas yang mempermudah pekerjaanku. Suara ponselku terdengar. Dear mantan, apa yang sedang kamu lakukan? Apa? Raihan mengirimiku pesan, apa maksudnya dasar, pria tidak tahu malu. Aku berceletuk dan mengabaikan pesannya, lalu kembali menekuri layar komputer, setelah mengumpulkan berkas dan di berikan kepada Pak Harjum, aku lalu fokus untuk membuatkan jadwal penerbangan untuk pria asing itu, pria asing yang dingin. Namun, terlihat tampan meski dengan rahang yang mengeras. Kembali membahas Raihan, pria itu selalu saja menggangguku meski kami sudah berpisah dan dia sudah menikah dengan wanita yang lebih cantik dariku. Namun, keanehan terjadi ketika Raihan selalu mengirimiku pesan dan memberikan sarapan untukku, aku akui, Raihan adalah pria yang harmonis dan dia selalu memberikan apa yang ku butuhkan, Raihan bekerja di salah satu hotel di Jakarta, pemilik hotel itu memiliki anak perempuan yang usianya masih 23 tahun, wanita cantik yang bernama Helena Baskoro. Karena, Raihan membutuhkan jabatan yang lebih tinggi lagi, ia pun menggaet Helena sebagai batu loncatannya untuk menuju karir yang sukses. Namun, Raihan tak menyangka jika Helena meminta Raihan untuk melamarnya, demi kelangsungan hidup dan jabatan yang Raihan inginkan, ia pun menikahi Helena, meski masih memiliki hubungan denganku, Raihan pernah mengatakan kepadaku, bahwa ia hanya menikahi Helena sebagai batu loncatannya menuju kesuksesan. Namun, aku tidak menerimanya dan memilih mengakhiri hubungan kami, siapa pun itu tak akan pernah terima jika suaminya mencintai dan berhubungan dengan wanita lain. Aku hanya staf biasa dengan gaji yang rendah di salah satu perusahaan maskapai penerbangan. Namun, memiliki pekerjaan ini membuatku bangga pada diriku sendiri, meski aku bukan lulusan terbaik dari universitas terbaik. Aku melirik jam dinding, siang baru menunjukkan pukul 2, Tari belum kembali dari penerbangannya menggantikan Vica. “Rahmadi, apa kamu sudah makan?” tanyaku, ketika melihat Rahmadi baru kembali. “Iya, May, aku sudah makan, kamu makan juga gih.” kata Rahmadi. “Aku lupa menitip sesuatu untukku.” “Ya ampun, May, aku gak kepikiran, maaf, ya.” jawab Rahmadi. Aku mengangguk, “Gak apa-apa, aku akan membelinya sendiri.” “Kenapa gak menyuruh Ibu Numi?” tanya Rahmadi. “Aku gak mau merepotkan orang lain. Aku akan kembali sebentar lagi, aku ke warung makan sebelah dulu, ya.” kataku, beranjak dari dudukku dan meninggalkan ruangan. Aku benar-benar lapar, karena permintaan Pak Harjum baru selesai dan secara bersamaan harus mengerjakan permintaan pria asing itu, aku sampai melewatkan jam makan siangku. Aku memasuki warung makan yang ada di dekat perusahaan, warung makannya kecil dan mungkin hanya aku juga Tari yang sering makan di sini, karena harganya murah dan terjangkau dengan menu yang sederhana, aku suka makan di sini, daripada harus makan di restoran depan.             Hidup sendiri di kota besar ini, memang sering kali membuat keuanganku menipis, apalagi ongkos transportasi setiap hari dan juga bayar kost setiap bulannya membuatku harus mengirit dana dari gajiku, meski di kost aku dan Tari patungan.             “Neng Mayra, mau makan seperti biasa?” tanya Ibu Darmi, pemilik warung makan kecil ini. Namun, sumpah! Makanan di sini sangat lah enak dan mengenyangkan, jika di ukur dengan perut besarku. “Iya, Bu, seperti biasa.” jawabku, memilih duduk di pojokan. “Neng Tari kemana? Tumben gak sama-sama?” “Tari lagi ada penerbangan, Bu.” “Enak, ya, jadi Neng Tari, keliling kota dan keliling Negara.” kata Ibu Darmi. Ternyata aku mengingat sesuatu di kepalaku, aku dan Tari memang berbeda, meski kita berteman. Namun, dia sudah bisa keliling kemana pun, beda denganku yang hanya menghabiskan waktu di kantor dan menekuri layar komputer. “Bu, pakein sambel, ya.” pintahku pada Ibu Darmi, karena sering makan di sini, aku jadi lebih mengenal sosok Ibu Darmi yang seumuran dengan ibuku. “Iya, Neng.” jawab Ibu Darmi, sesaat kemudian membawa nampan berisi sepiring Nasi pecel telur dan es teh kesukaanku. Begini lah aku, meski bekerja di perusahaan besar. Namun, aku sudah terbiasa hidup sederhana. Keinginanku hidup sederhana memang sering ku terapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena aku tahu, aku membiayai Babe dan Nyak yang kini berada di kampung. Jadi, tidak mudah bagiku menghabiskan semua gajiku hanya untuk diriku sendiri. BERSAMBUNG.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD