"Mau kuanter gak, Ren?" tanya Dokter Fredy yang sedang duduk di ruang tengah. Rena menggeleng pelan.
"Gak usah. Kalau aku diantar jemput, nanti pada curiga," tolak Rena, kemudian berlalu dari hadapan suaminya. Dokter Fredy menghela napas kasar. 'Diantar orang lain mau, tapi sama suami sendiri gak mau,' pikirnya.
Baru saja Rena keluar dan menutup pintu, sudah bertemu dengan perempuan yang semalam mengirim pesan padanya.
"Hai, Ren! Berangkat kursus ya?" sapa Dewi ramah seraya menaruh helmnya di kaca spion. Dia turun dari motornya lalu menghampiri Rena yang sedang memasukan kakinya ke sepatu. Rena menoleh sekilas.
"Eh iya, Mbak. Langsung masuk aja, Pak Dokter ada di dalam kok," jawab Rena. Dewi makin mendekat.
"Ren, sini deh. Mbak mau minta tolong. Bisa gak nanti kamu tanyain sama Dokter Fredy, dia lagi pengen apa saat ini?" Wajah Dewi nampak memelas. Kening Rena mengernyit.
"Maksudnya gimana, Mbak?" tanya Rena memastikan.
"Emh, Mbak mau ngasih hadiah buat Dokter Fredy, tapi ... setiap hadiah yang kukasih gak pernah dia pake, 'kan sedih jadinya," jelas Dewi.
"Kebetulan sekarang ada kamu di sini. Kamu kan bisa pura-pura nanyain. Bisa gak? Please," pinta Dewi lagi, kedua tangannya ditangkup di d**a. Rena tersenyum hambar.
"Bisa aja sih, Mbak. Coba nanti aku tanyain ya. Aku berangkat dulu," ucap Rena hendak berlalu.
"Oh iya, Mbak tau nomor pin BB-ku dari siapa?" Rena menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Dari Dokter Fredy lah. Kemarin aku bilang pengen kenal sama kamu." Dewi nyengir kuda. Rena balas tersenyum ke arahnya. 'Pinter juga nih cewek,' pikir Rena.
"Ok, aku berangkat dulu ya, Mbak," pamit Rena kemudian berlalu. Dewi mengangkat jempol kanannya.
"Nanti jangan lupa tanyain ya!" ujarnya. Rena tersenyum tipis dan berlalu.
Jelas terlihat jika Dewi menaruh hati pada suaminya. Ada suatu perasaan yang entah apa namanya mulai muncul dalam hati. 'Apa benar aku cemburu?' bisik hati Rena. Dia menggeleng keras. Menyangkalnya.
***
"Hai, Ren!" sebuah sapaan menghentikan langkah Rena menuju kelasnya. Rena menoleh.
"Eh, Pak Arya."
Lelaki itu tersenyum manis lalu menyerahkan sebuah modul.
"Ini, bisa kamu pelajari nanti di rumah. Ayo, sebentar lagi kita mulai pelajaran," ujar Arya. Rena mengangguk.
"Makasih banyak, Pak."
"With my pleasure, Princess," jawab Arya terkekeh. Lelaki ini betul-betul bisa membuatnya berbunga-bunga.
Dua jam kemudian, kelas privat Rena berakhir. Rena segera membereskan alat tulisnya. Di kelas itu hanya ada dua orang murid dan satu orang guru. Teman sekelas Rena sudah beranjak, meninggalkan Rena dan Arya yang masih di ruangan.
"Kamu mau langsung pulang, atau ... mau makan dulu?" tanya Arya. Rena ragu.
"Kamu udah coba kedai bakso di seberang belum?" tanya Arya lagi. Rena menggeleng.
"Enak, lho! Mau coba? Yuk, temani aku. Laper nih! Dari pulang kuliah langsung ke sini," ajak Arya tanpa menunggu jawaban Rena. Gadis itu hanya mengangguk pasrah.
Mereka keluar gedung bersama. Beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Ada yang kagum melihat kecocokan di antara mereka. Ada juga yang merasa cemburu karena guru favorit di tempat itu dekat dengan seseorang.
Jalanan cukup padat saat mereka akan menyeberang. Rena terlihat ragu. Namun, sepertinya Arya mengerti. Tanpa ragu dia meraih jemari Rena dan menuntunnya menyeberang. Rena terpaku sesaat. Melihat ke arah tangan yang bertaut. Degup jantungnya berdebar tak keruan.
Kedai bakso itu ternyata ramai. Hampir semua meja dipenuhi pengunjung. Arya celingukan mencari meja yang masih kosong. Hanya tersisa meja di ujung ruangan, itu pun agak berdesakan. Untung saja pengunjung di sana mengerti, mereka menggeser tempat duduknya agar bisa tersisa sedikit meja untuk Arya dan Rena.
Arya mempersilakan Rena untuk duduk duluan. Kemudian dia menyusul duduk di sebelahnya.
"Ramai sekali ya, Pak?!"
"Kamu masih panggil saya bapak aja ya?" ujar Arya terkekeh.
"Kalau di luar kelas panggil abang aja," pintanya. Rena tersipu.
"Kamu mau apa? Di sini ada mi ayam bakso, ada bakso geranat, bakso beranak. Kamu mau yang mana?" Arya menawarkan beberapa pilihan.
"Emh, Samain aja deh sama Bapak."
Sepertinya Rena masih canggung jika harus memanggil dengan sebutan abang.
"Susah ya kalau panggil abang? Aku berasa tua kalau dipanggil bapak." Arya terkekeh.
"Maaf, Pak, masih belum terbiasa," ucap Rena dengan mata fokus pada mangkuk bakso yang baru saja diantarkan pelayan. Sepertinya Arya mengerti.
Mereka melahap bakso geranat yang super pedas. Saking pedasnya, sampai-sampai keringat mengalir di wajah Rena. Arya bisa melihatnya. Dia ambil dua lembar tisu yang ada di depannya. Tanpa ragu, pemuda itu mengusap keringat di dahi dan hidung Rena. Gadis itu menghentikan kunyahannya. Bola matanya bergerak ke arah pemuda di sampingnya.
"Eh ... emh, maaf. Aku reflek tadi." Arya terlihat gelagapan lalu menaruh tisu di tangannya. Rena menyunggingkan seulas senyum dan melanjutkan suapannya.
"Selesai ini, kamu mau langsung pulang?" tanya Arya memecah kecanggungan. Rena menoleh sekilas dan mengangguk.
"Gak mau jalan-jalan dulu? Lihat suasana kota." Arya kembali menawarkan.
"Emh, itu ... aku ... gak mau bikin khawatir orang rumah," tolak Rena.
"Owh, kamu anak rumahan juga ya?! Atau ...." Ucapan Arya terjeda. "Takut ketahuan pacar kamu?"
Pertanyaan yang membuat Rena tersentak.
"Eh, ng-nggak kok. Saya gak punya pacar. Apaan sih Pak Arya?!" Rena terlihat gugup. Arya terlihat manggut-manggut. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Oh ya, Ren, lusa aku ulang tahun. Aku mau ngadain syukuran di rumah. Kamu bisa dateng?" Sebuah undangan yang mencengangkan. Tanggal yang sama dengan suaminya, tapi sepertinya tidak ada acara apa-apa untuk memperingatinya.
"Eh, i-iya. Insya Allah saya datang. Jam berapa?"
"Malem sih ... abis Isya. Mau aku jemput?" tanya Arya lagi. Rena menggeleng cepat.
"Nggak usah, Pak. Saya minta alamatnya aja," jawab Rena. Arya mengangguk.
"Ok, nanti aku kirim alamatnya. Ayo kuantar pulang!"
???
Pasien terakhir terlihat keluar dari klinik Dokter Fredy. Dewi pun tampak segera bersiap untuk pulang saat Rena sampai di depan gerbang. Terlihat juga Arya yang melambaikan tangannya sebelum berlalu.
"Hai, Ren, jangan lupa yang aku minta tadi ya!" bisik Dewi seraya menuntun motornya ke luar. Rena balas dengan senyuman.
"Iya, nanti aku tanyain, Mbak."
"Thank you, Cantik. Kamu baik banget deh!" Dewi tampak semringah.
"Nanti chat jangan lupa ya!" ucapnya, lalu meninggalkan rumah itu.
Saat masuk rumah, Rena melihat suaminya telah berganti pakaian, dengan hanya kaos putih dan celana selutut tapi justru membuatnya tampak jauh lebih muda. Rena melengos saat pandangan mereka bertemu.
"Ganti baju dulu, kutunggu di meja makan!" perintah Domter Fredy. Rena hanya mengangguk, tanpa kata.
Saat Rena hendak duduk, terlihat di meja sudah tersaji aneka makanan yang menggugah selera. Dia menarik kursi, duduk, lalu membalik piring di depannya.
"Tolong sekalian ambilkan nasinya ya, Ren!" pinta lelaki berkaos putih itu. Rena mengangguk. Dia ambil dua centong nasi merah ke piring suaminya.
"Makasih," ucapnya lirih. Rena tak menjawab.
"Tumben gak ngajakin Dewi makan bersama lagi?" sindir Rena. Dokter Fredy yang hendak menyuap menghentikan tangannya.
"Nggak. Takut ada yang cemburu lagi," balasnya terkekeh. Bibir Rena mencebik. Melirik sekilas pada suaminya yang melanjutkan suapannya. Mereka makan dalam sunyi. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring terdengar seperti menertawakan sepasang suami istri yang canggung ini.
"Dok, katanya sebentar lagi ulang tahun?" Akhirnya Rena memutuskan untuk memulai obrolan. Dokter Fredy benar-benar menghentikan suapannya.
"Dak-dok, dak-dok. Emangnya aku kodok?" kekeh lelaki itu. Wajah Rena tetap datar menanggapinya.
"Kok katanya? Kata siapa emang? Kenapa? Mau ngasih hadiah?" tanya Dokter Fredy tanpa jeda.
'Ya, kegeeran nih orang,' batin Rena.
"Ada yang bilang. Dia juga minta tolong aku buat nanyain apa yang lagi kamu pengen." Mata lelaki itu terbelalak.
"Kamu, kamu. Gak sopan amat sama suami. Gak bisa ya manggil dengan sebutan sayang, gitu?" sindirnya lagi. Wajah Rena terlihat jengah.
"Udah deh jangan mulai!" ketus Rena. Dokter Fredy terkekeh.
"Kalau belum bisa manggil sayang, panggil abang 'kan bisa," ujarnya lagi.
"Iya deh. Abaaang ...," ucap Rena tampak agak kesal, tapi justru membuat suaminya mengulum senyum.
"Nah, gitu 'kan enak dengernya." Senyuman tak henti-henti tersungging di bibir lelaki itu.
"Yang namanya hadiah itu kan gak boleh diminta. Jadi apa pun orang itu mau ngasih, pasti aku terima." Dokter Fredy bersedekap sambil memandang lekat gadis di depannya.
"Ya, apa kek. Jam, parfum, atau apa aja, biar aku gak bingung bilang ke orangnya." Rena masih tampak sinis.
"Aku kan sudah bilang, apa aja! Jadi terserah kamu mau bilang apa sama orang itu."
"Emang gak ada yang lagi dipengen gitu?" tanya Rena penasaran.
"Ini siapa yang nanya? Orang itu atau kamu?" Dokter Fredy menatap lekat istrinya. Rena tampak kikuk.
"Gak penting juga kan siapa yang nanya?!" sergah Rena.
"Ya penting dong! Kalau kamu yang nanya, aku akan jawab ... aku pengen kamu!" Dokter Fredy terkekeh sambil menaikan alisnya.
"Ih, dasar m***m!" umpat Rena lalu bangkit meninggalkan suaminya yang masih senyam-senyum dan melanjutkan melahap makanan di piringnya.
"Aku harus bilang apa sama Dewi?" gumam Rena setelah berada di kamarnya. "Apa aku bilang aja pengen jam?" Rena mengetuk-ngetuk jari di pipinya sedangkan tangannya yang lain bersedekap.
"Ah, bodo amat. Dia bilang apa aja. Jadi terserah aku mau bilang apa sama Dewi."
Rena buru-buru mengambil ponsel dan mencari kontak Dewi. Setelah ketemu dia langsung mengetik.
[Kata Dokter Fredy, dia pengen dikasih CD]
Tak lama terlihat huruf D di samping pesannya, yang kemudian langsung berubah R, yang artinya sudah dibaca. (Nostalgia pakai BBM ye, tahun 2008 ini)
[What CD? CD apa? Bon Jovi? Gun N Roses? Siapa penyanyi favoritnya?] tanya Dewi. Rena terkikik.
[CD, maksudnya celana dalem, Mbak] Lalu Rena juga mengirim beberapa emoticon ketawa. Tak lama kemudian Dewi membalas dengan banyak emoticon kaget, melongo dan ngakak guling-guling.
[Biar akrab, kali] balas Rena lagi.