Sebuah mobil berhenti tepat di depan halte bus di dekat kantor tempat Cila bekerja. Wanita ini mengernyit, seperti mengenali mobil tersebut. Lalu, dia pun mengingat jika itu adalah mobil Reynart. Untuk apa pria ini berhenti di sana?
Kaca jendela mobil turun. Dan benar saja, itu adalah Reynart. Pria ini mengkode Cila menggunakan tangannya, menyuruh wanita tersebut untuk masuk ke dalam mobil. Cila pun menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan apakah dia yang pria itu maksud. Reynart mengangguk. Sembari mendengar bisikan beberapa pekerja yang kebetulan menunggu di halte tersebut juga, wanita ini mendekat ke arah mobil atasannya itu.
“Masuk,” perintah Reynart. Cila tak perlu berpikir dua kali untuk mengangguk. Tadinya saat ada Elijah dia terpaksa menolak karena melihat Reynart yang seperti tak ingin dirinya ikut satu mobil dengannya. Dan kini Reynart sendiri yang menyuruhnya masuk mobil, jadi Cila merasa dia tidak perlu menolak lagi.
Mobil berjalan menembus jalanan ibu kota. Tidak ada pembicaraan dalam perjalanan itu, namun Cila mencoba untuk bersikap lebih tenang. Cila pun baru menyadari bila kepala Reynart tidak di perban lagi melainkan hanya di beri plester.
Perjalanan cukup memakan waktu untuk sampai di toko kue yang akan Cila kunjungi. Setelah mobil berhenti, Cila pun membuka sabuk pengamannya. “Terima kasih untuk tumpangannya, Pak.” Dia tidak lupa mengatakan terima kasih banyak. Reynart mengangguk, Cila pun turun dari mobil.
Lalu wanita itu mengernyit ketika melihat Reynart yang ikut turun dari mobil. “Pak Reynart mau membeli kue juga?” tanya wanita itu. Reynart pun mengangguk mengiyakan. Lalu pria itu pun memimpin jalan masuk ke dalam toko yang cukup ramai. Maklum, ini jam pulang kerja, pasti ada banyak orang yang mau membawa kue yang terkenal itu ke rumah masing-masing.
Cila pun menuju ke area pemesanan lebih dulu yang nantinya akan dapat nomor tunggu. Karena sebenarnya ini hanya dia jadikan alasan, jadi wanita itu pun mau tidak mau harus memesan kue agar Reynart tak curiga.
“Tolong tiga kue cokelat itu ya, Mbak,” tunjuk Cila ke kue yang didominasi berwarna cokelat. Dia hanya memesan tiga saja, sesuai jumlah orang di dalam rumahnya.
“Saya kue itu ya, Mbak.” Reynart menunjuk kue yang memiliki rasa vanila. “Satu saja,” lanjutnya.
“Baik. Untuk Mbaknya total 105 ribu. Dan untuk Mas nya 35 ribu ya.”
Cila pun mengangguk dan langsung merogoh tas untuk mengambil dompet. Namun, sebuah kartu kredit yang diberikan kepada kasir membuat wanita ini tertegun. “Untuk punya dia ambil dari sini saja, Mbak,” kata Reynart. Sang kasir pun mengangguk dan mengambil kartu kredit milik Reynart itu.
Cila menoleh. “Ini, Pak.” wanita itu memberikan uang 110 ribu kepada Reynart.
“Tidak usah,” tolak pria tersebut.
“Ini nomor antriannya ya. Silakan menunggu.”
Reynart mengambil dua nomor antrian di sana. Lalu pria ini berjalan menuju ke kursi tunggu yang tersedia di toko tersebut. Cila pun tampak mengekori terus pria ini.
“Kalau Bapak mau pulang duluan tidak apa-apa. Saya yang akan menunggu di sini, nanti saya akan antar ke rumah Bapak,” tutur Cila. Karena keadaan cukup ramai, ada beberapa orang yang menoleh dan memperhatikan kedua orang ini. Terlebih lagi Cila yang memanggil Reynart dengan sebutan ‘bapak’.
“Berhenti memanggilku bapak di tempat umum. Apa kau pikir aku setua itu?” bisik Reynart yang bisa membaca pikiran orang-orang di sekitar yang tampak seperti mengolok dirinya. Cila pun berkedip beberapa saat, lalu dia mengangguk.
“Jadi bagaimana, Pak—eh maksud saya jadi bagaimana? Apa kamu tidak pulang saja lebih dulu?”
Cila merasa aneh menggunakan kata ‘kamu’ dalam percakapan mereka. Reynart pun juga merasa aneh juga.
Pria ini memperhatikan sekitar, kemudian nomor antrian miliknya dan Cila. Mereka berada di urutan seratur lebih. Ini pasti akan memakan waktu lama. Reynart pun berdiri dari tempatnya, Cila berpikir mungkin pria ini memutuskan untuk pulang lebih dulu.
“Ayo kita pergi,” kata Reynart tiba-tiba.
“Eh? Kuenya bagaimana, Pak? Maaf, maaf. Maksud saya bagaimana dengan kuenya?” tanya Cila panik. Sayang sekali jika mereka mengikhlaskan kue dengan harga semahal itu.
“Nanti ke sini lagi. Lihatlah, nomor antrian yang kita dapat,” kata Reynart. Cila pun mengangguk lalu ikut mengekori pria itu lagi masuk ke dalam mobil.
Mobil mulai memasuki komplek rumah elite milik Reynart. Cila baru menyadari jika rumah-rumah di sini besar dan di tiap rumahnya dijaga oleh satpam. Sepertinya hanya rumah Reynart saja yang tak memiliki penjaga. Atau pria ini tak memerlukan hal itu?
Mobil berhenti di depan rumah Reynart. Keduanya pun langsung turun. Cila kembali mengingat perkataan temannya di mana tidak ada karyawan lain yang boleh masuk ke dalam rumah atasan mereka. Lalu, sekarang apa lagi? Kenapa pria itu mengijinkan Cila ke rumahnya?
Mereka memasuki rumah mewah tersebut. Cila duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Reynart menuju ke kamarnya untuk berganti baju. Karena bosan menunggu, wanita ini memutuskan untuk berkeliling saja di rumah itu. Sejak awal Cila sudah penasaran dengan rumah besar ini yang hanya ditinggali oleh satu orang saja. Atau jangan-jangan perkataan teman Cila tadi adalah benar? Bila Reynart menyimpan sesuatu di dalam rumahnya sendiri.
Saat masih berganti pakaian, Reynart tiba-tiba saja mendapat panggilan lagi dari Wizard Berta. Mereka akhir-akhir ini seringkali melakukan panggilan satu sama lain. Bukan apa-apa, hanya saja jika terlalu sering maka tenaga mereka bisa terkuras banyak apalagi jauhnya jarak antara kedua dunia ini.
“Ada apa, Wizard?”
“Aku hanya ingin memberi kabar mengenai keluargamu. Ibumu sedang jatuh sakit, katanya sudah dua minggu ini dia terbaring di atas tempat tidur.”
Pria ini pun melotot. “Seberapa parah? Apa aku harus segera pulang sekarang?” tanya Reynart cepat.
“Tidak usah. Aku akan mengurusnya. Aku akan membuatkan ramuan agar ibumu cepat pulih. Lalu, kita tunggu perkembangannya,” balas sang wizard. Reynart mengangguk patuh. “Lalu … bagaimana penyelidikanmu? Apakah sudah ada perkembangan?”
“Belum. Akan aku usahakan dengan cepat, Wizard. Hari ini aku sedang menyelidikinya,” tutur pria ini.
“Baiklah, semoga berhasil.”
Reynart pun menyelesaikan acara mengganti pakaiannya, lalu dia keluar kamar untuk menemui sosok Cila, namun dirinya mengernyit ketika tak menemukan wanita itu di area ruang tamu.
Cila sendiri ternyata sudah sampai di lantai dua. Dia mengingat jika waktu itu dirinya sempat membantu Reynart mendekor sebuah ruangan yang katanya akan dijadikan ruang kerjanya. Akan tetapi wanita ini tidak ingin ke tempat itu, melainkan ke pintu yang sejak awal membuat rasa ingin tahu Cila menjadi tinggi.
Pintunya berwarna merah gelap. Sungguh berbeda dengan pintu-pintu yang lainnya. Wanita ini menempelkan telinganya di daun pintu, berharap bisa mendengar sesuatu di dalam sana. Namun, hanya kesunyian saja yang tersisa.
Cila mengembuskan napas beratnya, lalu tangannya berada di gagang pintu. Dia menurunkan gagang pintu tersebut, namun tampaknya terkunci. Wanita ini mengumpat dalam hati.
Grep. Tangannya tiba-tiba saja dicekal dan dijauhkan dari gagang pintu itu. Cila pun melotot ketika sosok Reynart sudah berada di dekatnya, dia ketahuan. Namun wanita ini reflek memegang bagian dadanya karena bagian itu kembali mendapat getaran aneh.
Reynart menatap Cila nyalang. “Apa aku perlu memotong tangan lancangmu ini, hah?!” teriaknya dengan begitu marah sembari memperlihatkan tangan wanita itu. Lalu, Reynart menghempaskan tangan Cila dengan begitu kasar. Karena saking kuatnya tarikan dan pegangan yang pria itu lakukan, ada sedikit bekas kemerahan yang membekas di pergelangan tangan wanita ini.
“Maaf,” ucap Cila dengan sedikit menunduk. “Tadi saya hanya—”
“Turun!” perintah Reynart. Cila mengembuskan napas berat, dirinya memang wanita yang bodohh. Karena tak mendapat respon dari wanita itu, Reynart menarik bagian jaket di bahu Cila dan menyeretnya turun ke lantai satu. Dengan tergesa-gesa, Cila pun mencoba menyamakan langkah kakinya dengan pria itu.
Lalu Reynart memberikan nomor antrian di toko kue tadi. “Kau bawa pulang semua kuenya, aku sudah tak berselara. Sekarang pergilah.”
Cila menganga di tempatnya. Apa ini? Reynart mengusirnya begitu saja? Cila tau jika dia salah, tapi dirinya bahkan tidak bisa masuk ke ruangan dengan pintu aneh itu, dan jangan lupakah dia juga sudah memint maaf. Kenapa pria ini malah membesar-besarkan masalah? Sial, Cila pun langsung mengambil tas kerjanya dan berjalan dengan langkah kesal menuju ke pintu keluar. Reynart sama sekali tak merasa bersalah sedikit pun.
Setelah kepergian Cila, barulah pria ini tampak menampilkan wajah anehnya, seperti menahan sesuatu di sana.
***
“MENYEBALKAN! ARGGH!”
Cila berteriak keras di dalam kamarnya. Menumpahkan segala kekesalannya terhadap sosok Reynart. Beberapa kali dia memukuli bantal dan memikirkan seperti kepala pria itu. Ini adalah bentuk pelampiasan semata.
“Aku benar-benar membencimu! Sial! Berani-beraninya kau mengusir mate mu sendiri! ARHGHH. AKU MEMBENCINYA!”
Cila merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Lalu dia menatap kosong ke arah plafon sembari mengatur jalannya keluar masuk oksigen di tubuhnya. Sial, kenapa dia sampai sekesal ini?
Dan wanita ini semakin kesal jika perkiraan ibunya adalah benar. Benar jika Reynart adalah takdir yang pencipta berikan untuk wanita ini.
Mengingat hal itu membuat Cila kembali kesal, dia pun meredam teriakannya dengan bantal. Di luar kamar tampak ibu dan adiknya mengernyit bingung melihat dan mendengar Cila marah-marah saat baru pulang kerja.
“Kakak kenapa, Bu?” tanya bocah ini.
Sang ibu pun mengedikkan bahu. “Mungkin ada masalah di kantor. Ya sudah kamu bantu Ibu siapkan piring di meja ya.” Ajil pun mengangguk dan langsung membantu sang ibu menyiapkan makan malam.