Tiga-puluh-tujuh menit. Butuh waktu sekitar tiga puluh tujuh menit, sampai akhirnya Alex memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran. Aku menghitung setiap detik nya sambil menahan rasa sesak di dadaku. Tidak menentu. Berharap momen mencekam ini berakhir. Lucunya, Alex tidak butuh mengatakan atau melakukan apapun untuk menghukumku. Tidak, Alex tidak memaki ku. Dia hanya duduk di sana mengemudi seperti orang gila. Setiap Alex memotong jalan mobil lain, jantungku melompat. Aku pikir ini akan menjadi hari terakhir dalam hidupku. Alex yang hanya terdiam di sana justru memberi ku tekanan yang lebih dalam. Jangankan untuk mengecek iPhone-ku yang terus bergetar. Untuk bernafas pun, susah. “Keluar.” Hanya itu kata yang ia katakan padaku setelah aku masuk kedalam mobil. Aku terburu-buru merapik

