Sungguh aku benar-benar jengkel dibuatnya. Mama seolah mengusirku dari rumah. Aku tahu maksudnya baik tapi kali ini aku tidak mau pergi. Mobil berhenti di depan sebuah restaurant. Aku menatap Pak Supir penuh tanya. “Pak Sup, kenapa berhenti?” tanyaku. “Kata nyonya saya harus berhenti di tempat makan kesukaan Non Ana. Non belum makan, kan?” Aku menghela napas mendengar penjelasan Pak Supir. Aku tidak heran Pak Supir tahu tempat makan kesukaanku karena ia bekerja lebih dari 10 tahun di keluarga kami. Bisa dibilang Pak Supir ini sudah dianggap keluarga sama papa. “Bapak sudah makan?” tanyaku. “Sudah Non,” jawabnya singkat. “Ya sudah saya masuk dulu. Pak Supir tunggu di sini ya.” Aku keluar dari mobil. Matahari terasa menyengat, langit hitam mulai mengepung. Aku yakin beberapa jam lagi

