Sekembalinya dari restoran, Elardo menatap daun pintu kamar di mana Ryu ia belenggu. Wanita itu hanya bisa bergerak sejauh jarak rantai yang terikat di salah satu kakinya. Balkon, hanya tempat itulah jarak terjauh yang bisa Ryu jangkau.
Lingkaran kebiruan di pergelangan kakinya kian hari kian jelas terlihat. Itu karena sudah tiga bulan lamanya, Ryu terikat oleh rantai yang terikat erat di kaki kanannya.
Klek
Elardo membuka pintu kamar Ryu perlahan. Di balik cahaya remang kamar Ryu, Elardo masih bisa melihat dengan jelas bagaimana wanita malang itu meringkuk kedinginan. Ia lupa, jika selimut terakhir yang Ryu memiliki telah dirinya buang siang tadi seusai mereka bercinta.
Dan seperti perintahnya, tak boleh ada yang memberikan selimut pada wanita itu tanpa instruksi darinya. Dan sekarang ia bisa menatap dengan jelas tubuh kurus kering Ryu dalam keremangan cahaya lampu, juga terpaan sinar rembulan dari balik jendela yang tak tertutup gorden.
"Jika saja kau menjadi peliharaanku yang penurut, malam ini kau tak akan tidur dalam keadaan kedinginan seperti ini." Gumam Elardo berbicara sendiri.
Entah mengapa hatinya tiba-tiba mencelos melihat bagaimana Ryu memeluk lututnya dalam posisi meringkuk. Elardo lekas menggeleng cepat. Ia tak ingin terlarut dalam rasa iba yang belakangan sering menghantui pikirannya.
Dan seperti biasanya, hanya keheningan malam yang menjadi saksi bisu di mana Elardo sering diam-diam mengunjungi kamar Ryu. Pria itu hanya ingin memastikan Ryu masih bernafas dalam kerangkengnya.
Setelah keluar dari kamar Ryu, Elardo berjalan menuju ruang kerjanya. Ruangan yang berada tepat di sebelah kamar Ryu. Dan ada pintu penghubung yang tak di ketahui oleh siapapun selain orang-orang yang Elardo percaya.
Sehingga setiap kali dirinya di landa kecemasan, maka Elardo akan mendatangi kamar Ryu seperti ninja dari balik sebuah rak buku. Hanya dengan melihat wajah teduh Ryu, hatinya seketika merasakan ketenangan yang tak dapat ia gambarkan. Elardo sangat membenci fakta itu. Kenyataan di mana Ryu lebih mampu membuat ia merasakan sensasi yang menenangkan jiwa dan raga.
Moza bahkan tak pernah membuat moodnya menjadi sebaik saat ia bersama Ryu. Satu-satunya hal yang membuat hatinya kesal adalah, Ryu tak pernah sekalipun merespon sentuhannya setiap kali menyentuh wanita itu.
Ryu hanya diam dan membuang pandangan tanpa sudi menatap ke arahnya walau sejenak.
"Apa kau sudah menemukan titik terang mengenai Moza, Harlan?" Pertanyaan itu bukan sekali dua kali terlontar dari mulut Elardo. Dan sang asisten hanya bisa menjawab sesuai dengan informasi yang bisa ia peroleh dari orang-orang suruhannya.
"Sampai sekarang orang suruhanku masih belum bisa menemukan keberadaan nona Moza, tuan. Tapi aku mendapatkan informasi mengenai tempat terakhir yang di kunjungi oleh nona Moza. Yaitu kota kecil bernama Guarda. Namun itu informasi yang belum tentu bisa di pastikan kebenarannya. Saya akan..."
"Besok bawa aku ke sana!" Potong Elardo cepat. Harlan akhirnya menyetujui meski dirinya sendiri tak yakin akan informasi yang ia dapatkan. Terlalu mudah untuk menemukan seseorang jika hanya berkeliaran di kota kecil seperti Guarda. Namun untuk membantah sang tuan, Harlan tak mungkin bisa melakukannya.
Pagi tiba, Harlan telah bersiap di halaman kastil milik Elardo. Harlan harus menempuh jarak satu setengah jam perjalanan menuju ke sana dari pusat kota. Kastil rahasia yang bahkan tak satupun keluarga Aarav mengetahuinya. Kastil tersebut adalah hadiah dari mendiang kakeknya. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 30 tahun, satu bulang sebelum sang kakek berpulang.
Kastil rahasia yang sebenarnya milik turun temurun keluarga Aarav. Namun hanya segelintir keluarga yang mengetahuinya.
Dan di sanalah Elardo menyekap seorang wanita untuk melampiaskan amarah juga dendamnya.
"Kau rupanya lebih bersemangat dariku, Harlan." Tukas Elardo dengan suara basnya. Pria itu baru saja keluar dari pintu utama dengan penampilan yang selalu memukau mata kaum hawa. Harlan lekas membungkuk hormat pada sang atasan.
"Aku hanya ingin memastikan agar semuanya berjalan tanpa kendala, tuan. Keselamatan anda adalah tanggung jawabku sepenuhnya." Balas Harlan dengan nada sopan.
Elardo menyunggingkan seulas senyum tipis. Bahkan Harlan sendiri tak meyadarinya.
"Ayo kita pergi. Aku harap Moza benar-benar ada di kota itu, atau minimal pernah berkunjung ke sana dalam pelariannya. Akan aku bawa kembali wanitaku dan memberikan pelajaran berharga pada wanita sia lan itu." Desis Elardo menekan intonasi suaranya yang menggambarkan sebuah kemarahan.
Harlan tak berani menanggapi. Hal pertama yang ingin ia pastikan adalah, kebenaran tentang menghilangnya Moza tepat di hari pernikahan tersebut. Lalu tiba-tiba seorang wanita di jadikan sebagai pengantin pengganti, namun di perlakukan layaknya seorang bu dak bagi tuannya.
Harlan segera membuka pintu mobil untuk Elardo. Sebelum meninggalkan kastil, Elardo menatap balkon kamar yang di tempati oleh Ryu. Entah mengapa ia berharap Ryu berada di sana melihat kepergiannya.
Namun wanita itu tak terlihat di setiap sudut balkon bahkan dari balik jendela kaca lebar di lantai dua kastil. Riak wajah Elardo menyiratkan kekecewaan. Harlan melirik dari balik kaca spion, dan dapat melihat dengan jelas mimik kecewa di wajah sang tuan
Anda tampak sangat kecewa tuan, hanya karena peri kecil malang anda tak terlihat mengiringi kepergian anda menjemput wanita ja la ng itu kembali.
Gumam Harlan dalam hatinya. Namun pria itu bersikap seolah tak melihat apapun, begitu pula dengan sang sopir yang turut mengatup mulutnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
********************
Akhirnya, perjalanan menuju desa guarda yang memakan waktu dua setengah jam, telah mengantarkan Elardo untuk menjemput sang pujaan hati.
"Apa kita perlu beristirahat sejenak malam ini tuan? Saya sudah menghubungi pihak hotel untuk...."
"Nanti saja! aku ingin segera menemukan Moza, lebih cepat lebih baik." Potong Elardo cepat. Harlan hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kalau begitu kita langsung menuju restoran di mana informasi tentang nona Moza aku peroleh, dari seorang pelayan restoran tersebut." Tukas Harlan kembali bersuara.
Elardo hanya mengangguk, lalu mengisyaratkan agar sang sopir segera melajukan kuda besi tersebut menuju restoran yang di maksud.
Setiba di tempat tujuan, Elardo lebih dahulu membuka pintu mobil dan turun. Harlan hanya bisa menghela nafas panjang melihat kobaran semangat yang tampak menyala bagai nyala api tersebut.
To be continue
Tarraaaa readers tercinta....
Kita jumpa lagi dalam cerita penuh kehaluan ini.
Bagaimana bab pertamanya? Sudah bikin greget belum? next kita lanjut ke bab dua ini, semoga semakin membuat kalian menari-nari dalam khayalan tingkat tinggi Heheee
Nasib Ryu tak semulus kisah percintaan kedua sang ibu. Meski di pernikahan pertama sang ibu harus menuai luka, namun tak sebanding dengan kehidupan Ryu yang harus menanggung siksaan fisik juga batin yang tak terkira.
Berikan komentar terbaik kalian, pastikan semua untuk membuat semangat author kian membara. Mood author berada di jari-jari lentik kalian, jadi, bijaklah dalam memberikan koreksi, kritik dan saran. Jika hanya ingin mengatakan "Novelnya terlalu biasa" lebih baik tinggalkan saja dan tak perlu untuk membacanya lagi.
Kolom komentar dibuat untuk menyatukan penulis dan pembaca, bukan lahan untuk menjatuhkan karya seseorang.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose_Ana.