Azam tak bisa berbuat banyak jika pagi tiba. Selain menemani Asha di depan wastafel dan mengelus punggung wanita itu. Entah apa yang coba dikeluarkannya, sebab sejak kemarin Asha tak mengkonsumsi makanan apapun kecuali segelas air putih. Azam coba memasakkan bubur, tapi Asha memuntahkannya dalam sekali cicip. Cemas? Tentu, apalagi wajah Asha terlihat begitu pucat. Selama proses itu, Azam tidak berkata-kata. Berdiri dengan dasi miring, kancing kemeja yang masih acak-acakan, dan muka yang ikutan pias melihat Asha yang—amat menderita. “Aku izin saja hari ini, oke?” Bisiknya, menatap Asha yang mendongak lewat cermin. Garis bawah matanya membayang hitam. Wanita itu menggeleng, lalu kembali muntah. Azam mengambil napas, mana mungkin ia tega meninggalkan Asha dalam kondisi seperti ini? “Aku aka

