2

1187 Words
"Dokumenmu pada jatuh tuh, ambil tar ilang semua." Rafli berlalu meninggalkan Silvi yang masih tertegun menatap punggung tegap itu menjauh. "Ya Allaaaah mimpi apa aku semalam, mbak Neta tahu bisa ngompol di sini dia lihat cowo kok grepeable, astaghfirullahal adziiim jauhkan hambaMu ini ya Allah dari godaan cowo berpenampilan nganu." Silvi berjongkok mengambil dokumen yang berhamburan dan memasukkan lagi ke dalam map yang juga ikut jatuh bersama dokumen kantornya. Setelah selesai Silvi memberanikan diri mencari Rafli. "Mas Rafliiiii di mana yaaaa?" "Aku masih mandi." Teriakan suara Rafli membuat Silvi segera menoleh ke arah suara itu berasal, ia melihat Rafli yang mandi di sebelah kolam renang di bawah shower yang mengalir deras ke badan liatnya, membelakangi Silvi. Badan Rafli ditutup tembok setinggi dadanya, ingin rasanya Silvi melihat dari sisi lain di area kolam renang itu agar melihat utuh badan bagus Rafli hanya otak warasnya masih melarangnya. Ya Allah maha benar Allah dengan segala firman-nya wkwkwkwk bisa gila aku lama-lama di dekat cowok mode es balok ini ... Masa dia mandi di tempat terbuka gimana kalo ada yang liat perabotan dia ... "Gak usah bengong, di sini cuman kita berdua gak akan ada yang liat aku telanjang kayak gini, lagian ini sudah selesai aku mandinya." "Ii ... iya." "Udah sana tunggu aja di kursi dekat kolam itu, nanti pingsan liat aku gak pake baju." "Galak amat Mas." "Gak papa kan gak gitu kenal juga sama kamu." Silvi hanya menghela napas, untung dia ganteng kalau tidak pasti sudah di ajak bertengkar oleh Silvi. Silvi segera melangkah menuju kursi yang ada di pinggir kolam renang itu. Dari ekor matanya ia melihat Rafli yang melangkah menuju kamarnya hanya menggunakan handuk yang dililitkan ke pinggangnya. "Allahu Akbaaar, duh ya Allah godaan kok nggak ada habisnya." Tak lama kemudian Rafli melangkah ke arahnya dengan dengan rambut yang masih basah, bercelana katun dan t-shirt putih, tampak otot-ototnya seolah berteriak ingin keluar dari t-shirt yang seolah kekecilan itu. "Ada perlu apa? Bilang aja aku gak bisa lama-lama mau nyiapin baju yang ntar aku bawa balik ke kota tempat aku kerja." Rafli duduk di sebelah Silvi. "Anu mas apa itu, Ibu tadi curhat kalo dia kayaknya enggan nikah cepetan karena mikir Mas Rafli, Ibu nggak ingin di hari bahagianya, Mas gak hadir, makanya ibu sedih aja, mereka pisah kan karena salah paham aja, komunikasi gak bagus, jadinya ya akhirnya saling tuduh, kenapa sih Mas nggak ngikhlasin aja Ibu nikah sama Pak Abdi lagi?" Rafli menatap makhluk kurcaci yang duduk di sampingnya. Ia tak akan berbicara banyak pada orang yang tidak tahu bagaimana penderitaan ibunya saat ibunda Abdi mencaci maki hingga ibunya sakit dan meninggal. "Aku nggak akan bicara sama orang yang nggak tahu bagaimana penderitaan ibuku hingga beliau meninggal karena mikir terus omongan orang yang nggak tau kejadian yang sebenarnya, kamu pulang aja, percuma aku ngomong sama kamu, aku nggak ngalangin kakakku kalo dia mau nikah lagi, silakan aja, trus kesalahanku di mana?" Silvi ingin marah pada makhluk tampan yang tetap tanpa ekspresi dan terus memandanginya. "Aku nggak bilang Mas salah, tapi gak ada salahnya kan Mas datang ke pernikahan Ibu Redanti?" "Kamu memaksaku datang? Kamu siapaku?" Silvi masih menatap makhluk manis yang rasanya ingin ia timpuk batu bata. "Percuma deh kayaknya aku ngomong sama Mas, aku hanya ingin ibu bahagia, dia orang baik." "Aku juga ingin bahagia tanpa melihat wajah laki-laki itu lagi, lalu apa salahku?" Silvi bangkit dari duduknya, ia merasa percuma berbicara dengan orang yang mungkin tak pernah jatuh cinta. "Kayaknya aku percuma deh ngomong sama Mas Rafli, kayak nggak pengen lihat kakak Mas bahagia, makanya pacaran biar tahu rasanya dicinta dan mencinta." Silvi berlalu dengan wajah marah. "Hei wanita sok tahu, apa kamu yakin kakakku akan bahagia sama laki-laki itu? Lalu apa pacaran bisa menjamin kita pasti dicintai? Aku pacaran tujuh tahun ditinggal hanya karena wanitaku bertemu dengan laki-laki yang hanya bertemu satu kali dan dia langsung hamil, apa menurutmu pacaran menjamin pasti dicinta dan mencinta, aku benci orang sepertimu yang menilai orang dari kulit luarnya, jangan pernah menampakkan diri di depanku?" Silvi menoleh menatap Rafli yang kini juga berdiri hingga mereka berhadapan meski jarak mereka tak dekat lagi. "Aku ke sini hanya karena meletakkan dokumen Ibu Re dan tiba-tiba saja ingin mengajakmu bicara agar tahu bahwa kakakmu sangat ingin menikah dengan orang yang ia cintai, itu saja, bukan khusus ingin bertemu denganmu, akupun tak ingin bertemu  denganmu lagi." "Yah aku juga tak ingin bertemu lagi denganmu, kau tak tau rasanya melihat ibu yang kita cintai meregang nyawa hanya karena ucapan busuk seseorang." Silvi yang hendak berlalu berbalik lagi dengan wajah marah bercampur sedih. "Yah, aku memang tak tahu, karena aku bahkan tak pernah tahu siapa ayah dan ibuku, yang aku tahu wajah-wajah tanpa harapan teman-teman kecilku di panti asuhan." Rafli terperangah ia sama sekali tak menyangka jika wanita yang sejak tadi bicara tanpa henti hidup dalam dunia yang tak pernah ia kira. . . . Redanti baru saja sampai di rumahnya, wajah bahagia tak dapat ia sembunyikan. Sambil bersenandung ia masuk ke ruang kerjanya untuk meletakkan tas kerja dan melihat map berisi sketsa yang akan ia lanjutkan nanti malam. Saat akan menuju kamarnya ia melihat Rafli yang duduk termangu sendiri di tepi kolam renang entah sedang berpikir tentang apa. Redanti mendekati adiknya dan mengusap bahunya perlahan. Rafli diam saja, ia tahu pasti kakaknya yang mengusap bahunya. "Tadi sekretaris Kakak yang bawel sok nasehatin aku, dia loh siapa, tahu-tahu datang ngajak ngobrol pake nuduh aku sembarangan lagi." Redanti kaget, rasanya ia tak percaya jika Silvi melakukan itu karena setahunya ia juga tidak begitu kenal pada Rafli. "Masa sih?" "Masa aku bohong, dia ngomong panjang lebar seolah aku nggak ingin Kakak bahagia, aku nggak ngelarang kakak balikan lagi sama laki-laki itu, silakan tapi untuk bermanis-manis padanya, aku butuh waktu kayaknya." "Tumben anak itu kayak gitu, setahuku dia tak mudah bicara pada laki-laki yang tak begitu ia kenal." Redanti duduk di sebelah Rafli, mengusap punggung tangan adikmua "Kau juga adikku, tak inginkah kamu menikah dan bahagia? Aku yakin luka itu akan sembuh jika kau belajar mencintai yang lain." "Aku yang lebih tahu hatiku Kak, tujuh tahun bersama bukan hal mudah untuk melupakan." Rafli mengembuskan napas dengan berat. "Itu karena kau tak mencoba." "Apa Kakak akan menjamin aku bisa melupakannya setelah mencoba dengan yang lain?" "Aku tak mengatakan kau pasti bisa melupakan tapi setidaknya jika kau mencoba mengenal wanita lain, kau akan bisa membuka hati malah syukur-syukur kau bisa jatuh cinta lagi, tak ada salahnya mencoba." Rafli menggeleng, ia pejamkan matanya, berkelebat wajah wanita yang ia cintai dan eh ternyata tak lama muncul wajah wanita yang tadi marah tanpa sebab padanya juga ikut menari di pelupuk matanya. "Dasar!" "Kenapa Raf?" "Nggak Kak, nggak papa, mangkel aja sama tuh cewek sok tahu, dan kalo diliat dari cara dia ngeliat aku, dia kayaknya naksir aku." Redanti tertawa lirih sambil menepuk-nepuk bahu adiknya. "Kamu ini, Silvi bukan tipe kayak gitu, dia cuman ingin bantu aku tapi dia gak tau cara yang bener gimana." "Halah tadi pas dia ke sini, dia lihat aku dari atas ke bawah pas aku cuman pake boxer, napsu amat, pura-pura aja sok bantuin kakak, modus aja!" Dan Redanti hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD