Tekan

839 Words

“Kau tahu apa yang paling berbahaya dari tujuh hari itu?” Suara Manggala pecah pelan di ruang arsip yang pengap. Ia berbicara pada dirinya sendiri, tapi gema kalimat itu seperti ditujukan pada seluruh dinding penuh berkas yang selama ini dikubur ayahnya. “Bukan waktunya,” lanjutnya lirih. “Tapi keyakinan bahwa aku bisa kehabisan.” Ia menutup map terakhir dengan tangan bergetar. Nama Cassie tercetak samar di sudut dokumen bukan sebagai korban, bukan pula sebagai pelaku. Hanya sebagai ‘penghubung’. Kata itu membuat perutnya melilit. Cassie tidak diseret ke dalam ini. Ia dijadikan jembatan. Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal lagi. Manggala tidak ragu. “Apa lagi?” “Kau sudah sampai di bagian itu,” suara di seberang terdengar lebih dekat dari sebelumnya. Lebih nyata. “Aku bisa dengar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD