Seharusnya aku senang Hiro nggak ganggu aku ataupun Mbak Vanya lagi. Seharusnya aku lega karena sejak sehari yang lalu Hiro sama sekali nggak nyari aku. Dan seharusnya aku sudah ada di tempat tidur sambil baca novel yang ku beli beberapa waktu yang lalu. Tapi, dengan nggak tau dirinya, kakiku malah menyeret ku ke gedung berlantai sekian, tempat seorang Hiro Admaja bekerja. Astaga! Aku yakin aku udah nggak waras. Kenapa diriku kesal saat Hiro nggak nyari aku lagi? Kenapa aku menyesal karena pernah kabur-kaburan darinya? Dan kenapa aku punya perasaan semacam merindu ke Hiro? Jawabannya, karena aku jatuh cinta sama Hiro. "Aisshhh!!" aku mendengus. Ini sama sekali bukan gaya seorang Litia. Tapi, baiklah, demi menjemput masa depan, maka aku kejar Hiro ke mana pun ia berada. Huhh lihat saja n

