Di Baperin Hiro

1095 Words
Aku menutup pintu setelah melambaikan tangan ke Hiro. Setelah insiden memalukan itu, dapat dipastikan aku nggak mau melihat muka Hiro lagi. Tapi, mana bisa coba? Aku aja satu mobil sama dia. Serius, satu jam perjalanan pulang benar-benar buat aku mati kutu. Gimana nggak mati kutu, kalau dipikiran aku tuh cuma ada rasa takut. Pertama, takut hasil tamu bulananku ini mengotori jok mobil Hiro, dan kalau itu sampai terjadi, pasti Hiro bakalan ilfiel banget sama aku. Iwwwww amit-amit, kan? Kedua, aku takut banget mukaku kelihatan kesakitan karena si tamu mulai nakal. Iya, aku dan si merah itu musuh bebuyutan. Kenapa bisa bilang gitu? Karena kalau lagi datang bulan, dibagian perutku rasanya sakit banget. Kalau nggak minum obat, kayaknya bakal pingsan deh. Nah, masalahnya obatku tuh nggak aku bawa alias tinggal di Jakarta. Mampuslah aku. Tapi untungnya si Hiro agak nggak peka. Dia nggak tau kalau aku tuh mulai kesakitan. Oke! Fokus ke aku yang sekarang lagi nyandar di belakang pintu. Perutku makin lama makin nggak bisa diajak kompromi. Ini sakit banget. Aku mulai nempel di dinding demi sampai ke tempat tidur. Aku mau istirahat, syukur-syukur diriku tertidur. Tapi sebelum aku ke tempat tidur, aku harus cuci muka terlebih dahulu. Kalau sampai nggak cuci muka, bisa-bisa besok pagi mukaku hancur banget gara-gara make up yang belum di hapus. Tambah kalah dong aku sama si mantannya Hiro. "Ya Allah mak!!! Aku mikir apaan sih?" Masih sempat-sempatnya mikirin mantan Hiro dibalik perut yang makin sakit ini. Aduh! Kayaknya aku deh yang kerasukan. Sambil gerutu nggak jelas, aku menarik keluar 'roti jepang' yang Hiro belikan. Aku cengar-cengir sendiri lihat ekspresi tuh orang pas keluar dari supermarket tadi. "Ini! sesuai merk yang kamu mau." Katanya sambil melempar tu 'roti jepang'. Merah banget mukanya. pasti diledikin. Bodoh amat lah ya, kapan lagi bisa ngerjain si Hiro. "Selesai!" ya, aku sudah selesai dengan segala t***k bengek permasalahn wanita yang sedang datang bulan. Saatnya tidur. Itupun kalau bisa tidur ya. Semoga keajaiban datang padaku malam ini sehingga aku nggak perlu megangin perut mulu karena nggak minum obatku. Sayangnya, harapan itu nggak terkabul. Sampai pagi menjelang, aku masih merintih kesakitan. Biar ku tebak, Hiro pasti datang lagi ke sini karena aku nggak balas satupun pesan atau angkat telponnya. Dia pasti marah karena hari ini aku nggak bisa bantuin dia bikin scandal. Bodoh amat ah, pokoknya hari ini aku mau tiduran aja sampai perutku nggak nyeri lagi. Aku menoleh saat mendengar pintu terbuka. "Litia!" mataku melotot. Itu Hiro ngapaian?  "Kok kamu di sini?" Suaraku lemes banget. Hiro berdecak. Dia mendekat dengan tampang yang tegang banget. Matanya aja sampai merah. Aku nggak paham dia kenapa, dan lebih nggak paham lagi dia lewat mana sampai bisa masuk ke sini? Makin nggak paham saat tiba-tiba tubuhku terangkat karena ulahnya. Refleks, aku langsung melingkarkan tangan ke lehernya. "Kita mau ke mana?" bayangin aja posisi kami sekarang udah kayak pengantin baru yang mau anu. Bodoh! masih aja nih otak nggak beres. Ingat Litia! kamu lagi sakit perut! "Rumah sakit." Jawaban singkat Hiro membuat mataku melotot. "Ngapain?" teriakku. Dia keliahatan kayak orang yang mau marah. Kok bisa? Kita berdua udah sampai di parkiran. Hiro membawaku masuk ke mobilnya. Aku duduk di sampingnya yang sedang bekerja. Eh, nyetir maksudnya. Emang Hiro 'pak kusir'? Mauku terkakak tapi nggak bisa. Ini nyeri banget. Aku masih sibuk sama semua isi pikiranku saat mobil Hiro sudah berhenti di parkiran rumah sakit. "Ayo!" aku kaget. Lebih kaget lagi saat dia bilang, "mau saya gendong atau jalan sendiri?" Mampus. Lupa sama nyeri perut, cepat-cepat aku membuka pintu mobilnya. Sesampainya di ruang serba putih ini, aku bingung musti ngapain.  Dokter datang, aku lihat Hiro mulai menjelaskan apa yang terjadi. Lah, emang dia tau aku ini kenapa?? Dengan senyum ramahnya, si pak dokter mulai mengarahkan alat yang menggantung di lehernya itu. Sudahlah aku nggak tau apa namanya. "Aku nggak apa-apa, Pak Dokter." Dia tersenyum. "Tapi Masnya ini nyuruh saya untuk periksa kamu," katanya. Aku mau tertawa saat Pak Dokter bilang 'Masnya' yang merujuk pada Hiro. Mana ada muka kayak Hiro cocok dipanggil mas. Tunggu, Pak Dokter ngomong pakai bahasa Indonesia? "Periksa saja Dok. Kalau perlu di suntik," suara Hiro serem amat. Dia pasti dendam karena aku nggak jadi nemenin dia bikin scandal. Duh, maaf ya Hiro. Jarum suntik nggak mempan sama aku. Emang dia pikir aku ini cewek manja yang anti banget sama benda runcing itu apa? Sorry, aku nggak takut sama jarum suntik. Tapi masalahnya aku nggak mau di suntik. Itu nggak ngaruh sama nyeri perut yang sedang aku rasakan ini. Aku cuma butuh obatku. Makanya ku jelaskan ke Pak Dokter kalau nyeri haidku bisa reda dengan satu obat saja. Setelah ku sebutkan merknya, Pak Dokter langsung meresepkan obat itu, dan semua selesai. Hehe Setelah menebus obat itu, Hiro menghentikan mobilnya di salah satu restoran yang nggak jauh dari rumah sakit. Dia maksa banget nyuruh aku makan. Serius, kalau lagi halangan gini, aku jadi nggak napsu makan apa-apa. Tapi karena Hiro ngancem bakal turunin aku di jalan, jadi dengan sangat terpaksa dan butuh perjuangan ekstra, satu piring kecil berhasil masuk ke mulutku.  Usai makan, Hiro berubah. Lembut banget. Dia minta obatku, dibukanya, terus dikasih ke aku. Seperti terhipnotis, aku mengikuti semua perintahnya. "Pait!" bahkan aku lupa minum air putih saat pil itu ku masukan ke mulut. Astaga!!! "Pelan-pelan," tuh kan lembut banget. Apa jangan-jangan Hiro di ikutin dedemit rumah sakit tadi ya? Makanya jadi kalem gini. Kami kembali ke hotel.  Tapi belum hilang perasaan bingung karena drama manis yang dilakukan Hiro di restoran tadi, seolah mau nambah kadar kebingunganku, Hiro semakin menjadi. Ya Allah, dia baik banget. Dia jagain aku dari sempitnya lift. Dia juga siaga banget, takut kalau-kalau aku nggak sengaja kesentuh orang lain yang juga berada di dalam lift. Nggak hanya itu. Senyum Hiro juga bikin jantung aku nggak karuan. "Eumm Hiro, aku minta maaf karena hari ini aku harus izin sama kamu," ucapanku berhasil membentuk kernyitan di kening Hiro. Aku buru-buru melanjutkan, "maksudnya aku izin nggak bisa bikin scandal," ku lihat Hiro mengangguk. Ya, aku yakin dia ngerti komdisiku saat ini. "Litia!" Panggilnya. Kini giliran ku yang penasaran. "Kalau hari ini kamu izin karena nggak bisa bikin scandal, aku mau izin juga," ucap Hiro. Aku bingung dia ini mau izin buat apaan? Lama juga aku nungguin sampai dia mau lanjutin omongannya itu. "Aku mau izin buat jagain kamu." Katanya sambil memalingkan mukanya. Aku menganga sangking kagetnya dengar dia ngomong kayak gitu. Apaan tadi? Aku mau izin buat jagain kamu. Astaga Hiro kenapa lagi? Wajahnya juga merah kalau aku nggak salah lihat. Wajahku juga ikutan merah. Duh, bahaya! Aku di baperin sama si Hiro sableng.    . . TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD