001. Pulau Predator

1447 Words
Daniel mengerjapkan matanya sembari merintih samar, merasa perih bekas luka memar karena pukulan Nicholas tadi. Terasa makin perih saat terkena air laut asin yang sudah membasahi semua pakaiannya. Cowok berambut hitam legam yang hampir menutupi matanya itu kini berdiri bergerombol bergabung dengan teman kelas dan juga anak kelas lain di tepi pantai. Bersama guru-gurunya yang terlihat cemas dan berusaha tenang. Padahal kelihatan jelas mereka ketakutan kini. Apalagi mendadak mereka terdampar entah di pulau mana. Kapal pesiar yang mengantar pun tidak ada jejaknya. Yang lebih membingungkan adalah barang-barang mereka ada di sana. Ransel, koper dan segala macam yang mereka sediakan dari rumah ada bersama mereka semua. Walaupun dalam keadaan basah. Tapi, setidaknya mereka tidak akan mati kelaparan nanti. "Kalian semua jangan terlalu cemas akan situasi yang terjadi sekarang. Kita semua pasti akan menemukan jalan keluar," jelas guru perempuan berkulit eksotis itu. "Miss Jessi, ini dimana? Tempatnya kayak horor." Kata salah satu murid membuat yang lain membenarkan. "Miss juga belum tahu, tapi sepertinya tempat ini aman. Kita semua akan mencari tempat untuk tidur sementar, jadi kita semua akan telusuri pulau ini." Tambah Miss Jessi dengan tersenyum samar. "Jangan sampai berpencar ya, perhatikan teman-teman kelas kalian." Lanjut perempuan itu lagi sembari membubarkan semua muridnya. Miss Jessi, Mr. Paul, Mr. Edhan dan juga Mr. Betran yang bertugas sebagai guru pembimbing pun berjalan lebih dulu diikuti para murid di belakang. Keheningan pulau itu makin terasa karena tidak ada suara apapun yang terdengar. Hanya suara benturan ombak pada batu karang di sana. Di sekeliling tempat sana terlihat menyeramkan dan juga gelap. Semak-belukar setinggi pinggang mereka tanda tempat yang mereka datangi sekarang tidak pernah terawat. Semakin dalam mereka memasuki pulau itu, semakin terasa mencekam pula suasananya. Bahkan, mereka semua yang sedang melangkah dengan ketakutan itu ingin segera pulang saja. Namun, sayangnya tidak ada cara lain selain masuk ke sana. Ponsel tidak ada sinyal, bahkan mati karena terendam air laut. Langkah mereka terhenti dengan mata berbinar, seakan mendapat satu harapan. Di hadapan mereka ada villa tua yang lampunya masih menyala, bisa mereka lihat dari jauh. "Anak-anak, sepertinya pulau ini aman. Di depan sana ada sebuah vila, jadi kemungkinan kita nanti bisa balik dan pulang." Jelas Mr.Betran dengan tersenyum menenangkan murid-muridnya. "Sekarang kita harus lanjut ke sana," lanjutnya mengajak semua muridnya untuk melanjutkan perjalan. Di hadapan mereka kini ada sebuah villa dua lantai di sana. Mungkin karena sudah lama tidak terawat. Dinding villa sudah ditempeli tumbuhan menjalar sampai ke lantai atas. Sarang laba-laba dimana-mana. Dan bau menyengat entah bangkai apa membuat indera penciuman terganggu. Villa yang designnya klasik eropa itu masih mencoba mereka telusuri sampai di dalam. Tidak ada tanda-tanda penghuninya di sana. Pilar-pilar tinggi dan motif ukiran pada tiang serta tembok rumah sudah diselimuti debu tebal. Lantai atas yang memiliki serambi atau balkon menjorok keluar nampak ada dua kursi di sana yang entah kenapa, semakin dilihat semakin menakutkan. Bulu kuduk jadi merinding sendiri. Sudut mata seakan menangkap kelebat bayangan hitam misterius. Dan ternyata itu hanyalah imajinasi karena ketakutan mereka. Daniel berdiri paling belakang, sedikit menjauh dari teman-temannya dengan memegang ranselnya yang basah. "Setelah Miss dan guru-guru lain mengecek tempat ini, syukurnya masih bisa kita pakai untuk tidur." Jelas Miss Jessi dengan suara serak basahnya. "Sekarang kalian ke kamar yang sudah dibagikan, lantai atas untuk perempuan dan lantai bawah untuk anak laki-laki." Sambung Miss Jessi kemudian berbalik pergi bersama murid perempuan. "Ck, kita harus nginap di tempat kotor begini?" Decak Nicholas tidak terima, "debunya saja sudah membuat sesak napas. Guru-guru ini gila apa ya, memaksa kita semua buat tidur di sini." Gerutu cowok itu sama sekali tidak terima. "Nic, tidak ada tempat lain lagi. Dan kita juga terjebak ke tempat ini, apa ya ... kita harus bersyukur setidaknya menemukan villa tua ini." Sahut Nathan langsung merapatkan bibir saat Nicholas menatapnya tajam. "Kau kira aku harus bersyukur tinggal di tempat seperti ini, hah?" Sentak Nicholas sudah ingin maju menendang tulang kering Nathan, namun terhalang oleh Rein salah satu teman mereka. Yang buru-buru melerai. "Jangan berkelahi, suasana sekarang sudah tidak terkendali, Nic. Kita semua sudah kebingungan karena apa yang terjadi sekarang. Lebih baik, kita berusaha keringkan pakaian saja." Ajak Rein berusaha membujuk Nicholas yang sedang dalam mode tidak baik. "Ck, aku pengen dapat hiburan." Balas Nicholas sembari menggerakan kepalanya ke belakang dan tersenyum begitu saja saat bertatapan dengan Daniel di ujung teras. "Kalau begini aku jadi semangat." Kekehnya sembari mengajak teman-temannya untuk menyeret Daniel masuk bersama mereka. Nicholas melangkah memimpin, menerobos masuk tanpa permisi pada guru-gurunya yang berdiri di koridor kamar. Berusaha untuk mengatur tempat tidur semua murid. "Kamar yang paling kotor dimana?" Tanya Nicholas pada salah satu gurunya, Mr. Betran langsung menunjuk salah satu kamar di ujung yang dekat dengan gudang. Nicholas tersenyum puas sembari kembali mengajak teman-temannya yang sudah memegangi kedua lengan Daniel. Mereka pun masuk ke dalam salah satu kamar yang langsung membuat mereka kompak menutup hidungdan terbatuk kuat. Lampu di kamar sempit itu pun remang-remang, sesekali mati dan menyala sendiri. "Sepertinya kamar ini rada horor, Nic." Bisik Nathan sedikit takut. "Ya, bagus dong kalau begitu. Biar dia punya teman baru." Sahut Nicholas dengan nada ringan. "Dengan begitu dia tidak akan merasa kesepian nantinya." Lanjut pemuda itu sembari mengirim sinyal pada teman-teman melalui tatapannya. Nathan mendorong Daniel ke lantai dengan kuat sampai kepala pemuda pendiam itu sedikit terbentur dinding. Rein membuka paksa baju dan juga celana Daniel, menyisakan boxernya saja yang melindungi tubuh putih bersih itu. Daniel tidak bergerak melawan, hanya pasrah saja saat Nathan berjongkok di depannya. Kemudian menamparnya kuat berulang kali sampai darah mengalir pada sudut bibir Daniel. Setelah itu Beno maju, menendang-nendang Daniel sembari tergelak sendiri merasa puas. Bahkan, sengaja menyerang d**a Daniel yang membuat cowok pemilik mata cokelat itu terhenyak kesakitan. "Sepertinya malam ini benar-benar dingin ya, apa tidak sebaiknya kita seret dia ke hutan di seberang sana. Bagus juga kalau badut kita ini makin tersiksa. Bagaimana?" Beno menjelaskan idenya pada Nicholas dengan kakinya yang masih menginjak telapak tangan Daniel yang sudah kemerahan. "Ide bagus." Nicholas tersenyum lebar, kembali berdiri menegakan tubuh sembari menghampiri Daniel yang meringkuk di lantai dingin itu. "Semoga kau nanti mati saja di sana ya, itu harapanku." Ujar Nicholas tersenyum lebar dengan tangan kanannya yang menepuk-nepuk pipi lebam Daniel pelan. "Ayo, kita berangkat sekarang. Jangan lupa minta senter di Betran." Titah Nicholas pada Rein menyebut nama sang guru tanpa hormat. Rein mengiyakan kemudian melangkah keluar lebih dulu. Nicholas mengikuti dengan langkah santainya, diikuti Nathan dan juga Beno yang menyeret tubuh polos Daniel yang penuh lebam itu. Koridor kamar sudah tidak ada murid-murid lain. Hanya ada guru-guru di sana yang menoleh pelan saat melihat Daniel diseret secara tidak manusiawi di depan mereka. "Jangan terlalu kemalaman ya, mainnya." Pesan Miss Jessi pada Nicholas membuat pemuda itu tersenyum saja lalu melangkah pergi begitu saja dengan perasaan senang. Rein melangkah memimpin karena pemuda itu yang memegang senter. Mengarahkan jalan setapak yang gelap dan juga penuh dengan semak-belukar itu. Nicholas menolehkan kepala kanan-kiri memandangi villa tadi yang sudah jauh dari pandangan mereka. Keelima pemuda itu sampai di sudut jalan yang buntu. Disekeliling mereka ada pohon-pohon rindang yang seakan menyapa dengan suara dan juga bisikan aneh. Nicholas berjongkok di hadapan Daniel yang menyayukan kelopak matanya sudah tidak bertenaga. Melihat itu Nicholas makin merasa puas dan akhirnya bisa menyaksikan sendiri bagaimana Daniel bisa tersiksa begini. "Balik, semoga besok anak ini mejadi bangkai." Kata Nicholas penuh harap langsung berjalan lebih dulu dengan bersenandung senang. "Bentar, aku mau buang air dulu." Tahan Beno membuat ketiga temannya mendecak kasar. "Ck, cepetan ke sana." Usir Nicholas sembari mengibaskan tangan. Beno pun berlari kecil, menjauh dari Nicholas dan kedua temannya yang sudah melangkah pergi tanpa menunggunya. Sedangkan, Beno sudah menurunkan celana. Buang air kecil di depan pohon sana dengan posisi berdiri. Pemuda itu menaikan alis samar merasa ada seseorang yang mengintainya. "Ck, mana ada setan." Decaknya dengan  terkekeh sendiri, kembali menaikan celananya lalu menegak kaget saat kembali mendengar suara krasak-krusuk semak-semak di hadapannya. Beno melebarkan matanya kaget saat sebuah benda tumpul menghantam kepalanya kuat. Dan pemuda itu pun akhirnya tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dan merembes ke tanah penuh rumput liar itu. Keesokan paginya, salah satu murid perempuan melangkah keluar ingin mencari udara segar. Meregangkan otot-ototnya karena merasa kaku tidur di kasur yang terasa asing baginya. Gadis itu menghentikan langkahnya di depan pintu di lantai satu. Ia melebarkan matanya melihat seseorang tergantung di sana dengan darah yang masih menetes pada telapak kakinya. Ia pun memekik kuat membuat semua orang perlahan berlari mendekat ke arahnya. Guru-guru memandangi itu dengan mata melebar sempurna. Seorang murid di hadapan mereka kini digantung dan terlihat di keningnya ada luka menganga yang terlihat seperti angka 1. Semua mendadak terdiam dengan ketakutan, merasa tempat mereka berada adalah sarang predator. Karena sekarang ada salah satu murid yang terbunuh dan ditandai juga. Murid itu adalah Beno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD