Bab 6. Penyusupan

1135 Words
Thanapat terdiam sejenak, matanya gelisah. Dia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya bisa menjadi hukuman mati, entah dari Mr. X atau dari tim Mr. Midnight sendiri. “Katakan,” desak Arma, suaranya tenang tapi penuh ancaman. Thanapat menarik napas dalam, lalu menunduk. “Markas utama Mr. X ada di bawah tanah… tersembunyi di balik klub malam di pusat Bangkok. Dari luar, tempat itu hanya terlihat seperti klub elite, tapi di dalamnya, ada ruangan-ruangan rahasia. Itu pusat kendali semua bisnis kotor yang dia jalankan.” Raka bersedekap. “Kau yakin?” “Aku bekerja di sana,” jawab Thanapat dengan nada getir. “Aku tahu bagaimana sistemnya bekerja. Ada akses khusus yang hanya bisa dibuka dengan kode dan sidik jari orang-orang tertentu.” Adrian bertukar pandang dengan Gilang. “Kalau begitu, kita harus masuk tanpa menimbulkan kecurigaan.” Rena menyeringai. “Klub malam? Itu spesialisasiku.” Thanapat tertawa kecil, tapi nada suaranya getir. “Masalahnya, kalian bukan hanya harus masuk. Keluar dari sana dalam keadaan hidup adalah tantangan yang lebih besar.” Arma menatapnya tajam. “Biar kami yang mengkhawatirkan itu.” Gilang mengeluarkan peta digital dari ponselnya, menandai titik lokasi yang sesuai dengan deskripsi Thanapat. “Ada tiga jalur masuk. Pintu utama, akses layanan di belakang, dan kemungkinan ada terowongan bawah tanah.” Dirga menambahkan, “Kalau ini pusat operasi mereka, pasti keamanannya ketat. Kita butuh rencana matang.” Rena tersenyum tipis. “Kebetulan, aku punya koneksi di sana.” Semua mata tertuju padanya. “Kau kenal seseorang di klub itu?” tanya Adrian. Rena mengangguk. “Seorang bartender yang pernah berutang budi padaku. Dia bisa membantu kita masuk tanpa menarik perhatian.” Arma mempertimbangkan sejenak. “Baik. Kita mulai dari sana.” Thanapat menelan ludah. “Kalian gila kalau berpikir bisa menjatuhkan Mr. X dengan cara ini.” Raka menepuk bahunya dengan keras. “Mungkin. Tapi kami lebih suka bertindak daripada sekadar berbicara.” Tim Mr. Midnight kini punya tujuan yang jelas—menyusup ke pusat kendali Mr. X. Mereka tahu ini akan menjadi misi paling berbahaya yang pernah mereka lakukan. Tapi mereka juga tahu, inilah saatnya untuk mengakhiri semuanya. ... Suasana di dalam mobil terasa hening. Tim Mr. Midnight sedang menyusun strategi. “Kita masuk dengan dua tim,” kata Arma akhirnya. “Rena dan Adrian akan masuk sebagai pelanggan VIP. Raka dan Dirga menyusup lewat akses layanan di belakang.” Gilang menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku?” “Kau akan tetap di luar, memantau dan memberi tahu kami jika ada pergerakan mencurigakan,” jawab Arma. “Aku akan berada di posisi cadangan.” Adrian melirik Rena. “Kau yakin bisa mempercayai bartender itu?” Rena tersenyum penuh percaya diri. “Dia berutang banyak padaku. Percayalah, kalau dia berani menjebakku, aku sendiri yang akan menghabisinya.” Mereka tiba di dekat klub malam yang dimaksud. Dari luar, tempat itu terlihat seperti klub mewah biasa, dengan lampu neon yang berkilauan dan antrean panjang di pintu masuk. “Kita masuk sekarang,” ujar Rena. Dia turun dari mobil dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya sempurna, memancarkan aura seorang sosialita kelas atas. Adrian, yang kini berambut pirang dan bermata biru karena penyamaran, merapikan jasnya sebelum mengulurkan tangan pada Rena. “Ayo.” Mereka berjalan mendekati pintu masuk, di mana seorang penjaga keamanan berjas hitam menghentikan mereka. “Nama Anda ada di daftar tamu?” tanyanya curiga. Rena tidak ragu sedikit pun. Dia mengeluarkan kartu VIP berlapis emas dari tas kecilnya. “Kami tamu spesial.” Penjaga itu melihat kartu itu, lalu memberi anggukan kecil sebelum membuka pintu. “Silakan masuk.” Begitu mereka melewati pintu, musik elektronik yang menghentak langsung menyambut mereka. Klub itu penuh dengan orang-orang kaya dan kriminal kelas atas yang bersenang-senang. Adrian tetap waspada, sementara Rena langsung menuju bar, mencari kontaknya. Di sisi lain, Raka dan Dirga sudah bergerak menuju pintu belakang. Mereka berdua berpakaian seperti staf klub—Raka sebagai teknisi, Dirga sebagai petugas kebersihan. Seorang petugas keamanan menghentikan mereka. “Apa keperluan kalian di sini?” Raka mengangkat kotak peralatan di tangannya. “Ada laporan masalah listrik di ruang bawah tanah.” Petugas itu masih tampak curiga. Dirga langsung berinisiatif mengeluarkan uang tunai dari sakunya. “Kau tahu kan? Semuanya bisa lebih mudah kalau kita bekerja sama.” Pria itu melihat uang itu, lalu mendesah sebelum membuka pintu. “Cepat. Jangan macam-macam.” Begitu pintu tertutup, Raka berbisik, “Mereka tidak akan mencurigai kita untuk sementara waktu.” Dirga menoleh ke lorong panjang yang menuju ke ruang bawah tanah. “Ayo kita cari jalan masuk ke markas Mr. X.” Di dalam klub, Rena akhirnya bertemu dengan bartender yang dimaksud. “Aku butuh akses ke ruangan khusus,” katanya tanpa basa-basi. Pria itu menatapnya dengan ketakutan. “Rena… kau tahu ini gila, kan?” Rena tersenyum. “Aku selalu suka sedikit kegilaan.” Bartender itu menelan ludah, lalu menggeser napkin di meja bar, mengungkapkan kunci elektronik kecil. “Pakai ini. Tapi aku tak pernah memberikannya padamu, mengerti?” Rena mengambil kunci itu dan menyelipkannya ke dalam tasnya. Dia berbalik dan menatap Adrian. “Kita punya jalan masuk.” Adrian mengangguk. “Saatnya bergerak.” Di sisi lain klub, Raka dan Dirga menemukan sebuah pintu dengan sistem keamanan ketat. Misi baru saja dimulai. ... Rena melihat ke sekeliling klub dengan tatapan tajam. Dia tahu tempat-tempat seperti ini—di permukaannya penuh dengan kemewahan dan hiburan, tapi di bawahnya ada sesuatu yang jauh lebih kotor. Adrian tetap berada di sisinya, berpura-pura menikmati suasana. Sementara itu, tangan Rena dengan cekatan mengambil kunci elektronik dari dalam tasnya dan menyelipkannya ke tangan Adrian tanpa menarik perhatian. “Ikuti aku,” bisiknya pelan. Mereka berdua berjalan santai menuju area VIP, di mana hanya tamu-tamu terpilih yang bisa masuk. Seorang pria dengan jas hitam berdiri di depan pintu, matanya penuh kewaspadaan. Rena tersenyum, meletakkan tangannya di lengan Adrian, lalu menatap penjaga itu dengan percaya diri. “Kami diundang.” Pria itu menatap mereka sebentar, lalu mengangguk dan membukakan pintu. Begitu masuk, suasana langsung berubah. Musik masih berdentum, tapi ada sesuatu yang berbeda di sini—lebih eksklusif, lebih rahasia. Beberapa pria berjas sedang berbicara dengan suara pelan di sudut ruangan, sementara beberapa wanita dengan gaun mahal duduk di sofa sambil memegang gelas sampanye. Rena merapat ke Adrian. “Ruangan utama ada di bawah,” bisiknya. “Tempat Mr. X beroperasi.” Adrian melirik ke sekeliling. “Bagaimana cara kita masuk?” Rena menyeringai, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik pesan singkat. Satu langkah lagi. Tunggu isyaratku. Pesan itu dikirim ke Raka, yang saat ini pasti sudah dekat dengan akses bawah tanah bersama Dirga. “Aku punya rencana,” kata Rena pelan. “Tapi kita butuh sedikit gangguan.” Adrian tersenyum kecil. “Aku bisa mengaturnya.” Dia melangkah ke arah bar, sementara Rena tetap di tempatnya, memperhatikan situasi. Malam ini, Mr. X tidak akan tahu apa yang menghantamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD