Melati Tanpa Wangi 19 Tak ada perasaan takut meski ia adalah majikanku, orang yang menggajiku, aku menatapnya terang-terangan penuh waspada, seolah pria itu akan segera menerkamku begituaku lengah. Di sana yang dilakukannya hanya berdiri menatapku. Datar, baik sorotnya maupun ekspresinya. Simon tak mengatakan apa-apa, diam menyandarkan setengah badannya pada pintu dapur, sementara kedua tangannya dilipat ke d**a. Kopi pekat netranya mengingatkanku akan singa yang melihat seekor kijang, mengintai dan siap menerkam. Entahlah, timbul rasa tak suka kepada pria itu, dan aku tidak mampu menutupinya. Memutuskan kontak mata, aku melengos, menyembunyikan dengusan keras dan raut tak suka di wajahku. Aku kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan, mengabaikan Simon di belakang mengawasiku tanpa k

