Russel terus saja berjalan mondar-mandir di tengah-tengah sarang milik Aura, sejak wanita itu tiba dan menceritakan apa yang terjadi pada Aurel. "Menurutmu, Aurel baik-baik saja, saat ini?" tanya Russel, yang terdengar sangat khawatir. Pria itu sangat gusar sejak semalam, ditambah Aurel yang belum juga meneleponnya untuk memberi kabar. Aura mengerti akan kecemasan itu, namun ia rasa Russel sudah sangat berlebihan. "Hei, kemarilah. Mendekat padaku," panggil Aura. Russel pun mendekat ke hadapan Aura, hingga jarak mereka hanya terpaut satu jengkal. Aura menatapnya sambil mencengkram kedua otot bisep milik Russel dengan tegas. "Sekarang, cobalah tarik nafasmu dalam-dalam," tuntun Aura. Russel pun menarik nafasnya dalam-dalam. "Lalu hembuskan perlahan-lahan." Russel menghembuskan nafasn

