Aura menatap ke arah hutan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, dari balik jendela kamar. Tangannya ia letakkan pada kaca, seakan ingin meraih dedaunan yang tengah bergoyang akibat hembusan angin. Dua puluh lima tahun ia berada di sana, membuatnya merasa asing ketika lama-lama berada di dalam sebuah rumah. Tok..., tok..., tok...!!! Suara ketukan di pintu membuat Aura menoleh seketika, dan membuyarkan lamunannya. Ingatannya mengenai pertemuan pertama dengan Aurel, masih terasa nyata di dalam kepalanya. Membuat dirinya melamun ketika ingatan manis itu melintas. "Ya, masuk saja," ujar Aura, mempersilahkan. Adriana membuka pintu kamar, dengan penuh semangat. Wanita itu tersenyum ke arah Aura sambil memperlihatkan semangkuk popcorn, dan dua gelas jus sirsak yang dibawanya. "Ayo Aurak

