Pagi itu Aurel memeriksa isi tasnya sekali lagi, sambil tetap mendengarkan ponselnya yang sedang dalam mode loudspeaker. Saling menelepon dengan Joseph sudah menjadi rutinitas harian yang takkan terlewatkan, bagi Aurel. Karena jika sampai terlewat, Aurel sendirilah yang akan uring-uringan sehari penuh. "Kau sudah yakin dengan pilihan warnanya, sayang?" tanya Joseph. "Ya, aku suka warna pilihanmu sayang. Peach yang dipadukan dengan swarovsky. Bagaimana denganmu, sendiri? Sudah menentukan warna tuksedo yang akan kau pakai di pernikahan kita, nanti?" Aurel balik bertanya pada Joseph. "Aku menyarankan warna kuning!" celetuk Ben, yang - tentu saja - ikut mendengarkan pembicaraan antara Joseph dan Aurel di telepon. HAHAHAHAHA!!! Aurel tertawa terbahak-bahak. "Akan jadi apa kami di pernikah

