Bab 4 - Kehamilan Ayana

1063 Words
Syarat Baca! Follow Akunnya, tap love ceritanya! *** Hangyul duduk berhadapan dengan Ayana. Wanita itu masih memandanganya dengan penasaran dan meminta untuk segera dijelaskan. Hangyul kemarin membuat Ayana kepikiran. Sementara Hangyul bingung harus menjelaskan keadaannya seperti apa. Dia takut kalau wanita yang kini berhadapan dengannya, malah nekat masuk ke hutan setelah mendengar perkataannya nanti. "Bayi serigala memang sangat kuat Ay, karena bayi itu kamu bisa mencium aroma yang bahkan terselip diantara banyaknya barang. Tapi ... Ketika berada di dalam kandungan, bayi itu cukup lemah dan tidak bisa jauh dengan ayahnya," ucap Hangyul, suaranya memelan ketika berada di kalimat akhir. Ayana tertegun dia menjadi gelisah setelah sadar beberapa detik. Wanita itu refleks mengelus perutnya yang sedikit membuncit kemudian menggeleng. "Gak mungkin kan gyul, kamu pasti bercanda dna maaf gyul, candaan kamu sama sekali gak lucu." Hangyul menghela nafas, "Ini bukan candaan ay, ini kenyataannya. Bahkan saat ibuku mengandungku, dia bilang kalau dia gak bisa jauh dari Ayahku. Bayi serigala hanya akan bertahan tiga bulan, ketika jauh dari Ayahnya."  Ayana segera menggeleng, "Gak mungkin gyul, aku gak bisa ngelepasin bayiku. Aku juga gak bisa kalau harus berada di dekat Seungwoo," lirih Ayana. Hangyul mengangguk paham, "Kamu benar Ay, mengetahui kalau Seungwoo adalah Raja serigala, memang tidak mungkin membuatmu berada di dekatnya." "Jadi, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangan bayiku, hanya dia keluarga yang aku punya sekarang." Hangyul juga bingung, entahlah dia tidak tau harus berkata seperti apa. Karena kenyataannya, hal tersebut akan sulit direalisasikan. "Bagaimana kalau kita pikirkan lagi besok, berapa usia kandunganmu?" Tanya Hangyul, sedikit canggung ketika menanyakannya. "Masih dua bulan," jawab Ayana, suaranya bergetar tak yakin. "Tenanglah Ayana, jangan cepat tertekan seperti itu. Karena sekarang fokus saja menuruti keinginan bayimu, biasanya bayi serigala akan sering merepotkan."  Ayana menghela nafas, selain menghirup aroma sampe ke tulang, Ayana tidak pernah merasakan kesulitan lainnya. Tapi mungkin apa yang dikatakan oleh Hangyul memang benar. "Aku akan membantumu Ay, hanya saja mungkin akan sulit ketika memikirkan cara bagaimana Bayi wulf di dalam kandunganmu itu bisa terus bertahan." Ayana mengangguk paham, "Aku berharap ada keajaiban yang bisa membuat baby wulf dekat dengan pria itu." Setelah Hangyul pamit, kini Ayana tidak bisa menahan untuk tidak menangis. Memang perasaannya mendadak sensitif dan mellow.  Kenangan masa lalu yang ingin dia segera lupakan, malah terus terbayang di pikirannya. Bagaimana ekspresi penghinaan Seungwoo padanya ketika ada seorang pria menjemputnya. Seharusnya waktu itu Ayana tidak membantu Seungwoo. Seharusnya dia membiarkan Seungwoo mencari orang lain, dan tidak membuat kisah cinta dengannya. Ayana kamu memang bodoh!  Disaat Ayana berharap dia bisa melupakan Seungwoo, dia malah hamil anak pria serigala itu. Sementara disaat dia sudah bisa menerima dan bahagia dengan kehamilannya, kenyataan kalau bayi ini tidak bisa tinggal berjauhan dengan Ayahnya kembali membuat Ayana merasa di hantam. "Apa lagi yang bisa lebih buruk dari ini?" Ayana mengeluh. "Ada apa dengan takdirku?" Monolognya kembali. Tok ... Tok ... Tok ... Baru beberapa saat yang lalu Ayana menangis, seseorang sepertinya sedang menunggunya. Ketika Ayana melangkah untuk membuka pintu tersebut, dia bisa mencium aroma kue coklat yang enak. "Nenek," panggil Ayana ketika melihat wanita tua baya sedang berdiri membawa nampan berisi cookies hangat. "Ayana, ini Nenek baru saja memanggang cookies. Nenek sisihkan untuk kamu dan makanlah selagi hangat," ucap Nenek. Ayana tersenyum, "Terimakasih banyak Nenek." "Sama-sama." Beruntunglah masih ada orang yang mau memperhatikan Ayana. Setidaknya Ayana bisa merasa tenang ketika mengetahui ada yang masih menyayanginya. *** "Para Pack akan kembali ke kediaman mereka. Yang mulia, apa anda permintaan sebelum mereka benar-benar kembali?" Seungwoo melirik sekilas kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak ada sesuatu yang special yang ada pada pack itu, selain para ucapan mereka yang begitu tinggi. Seungwoo merasa muak dan berharap mereka segera kembali ke tempat mereka. Seungyoun pergi setelah Seungwoo menyuruhnya. Pria yang mengenakan mantel tanpa dalaman itu duduk menatap bulan sabit yang jauh disana.  Ada perasaan hampa aneh yang dia rasa. Namun Seungwoo tidak tau pasti, apa yang sebenarnya dia cari dan rasakan. "Apa karena wanita itu?" Gumam Seungwoo. Satu sudut bibirnya terangkat, kemudian segera menggeleng. Tidak mungkin, karena Seungwoo juga tidak akan membiarkan dirinya Memikirkan seorang wanita. Seungwoo bahkan pernah berpikir untuk tidak menikah, dan membiarkan seseorang yang memang pantas mengambil tahtanya sebagai Raja Serigala, ketika waktunya telah tiba. Sementara itu Hangyul kembali ke hutan. Dia sudah memikirkan hal ini matang-matang, berharap apa yang dia pikirkan memang terjadi. "Gyul, kamu kemana aja? Tumben kemarin gak kelihatan batang hidungnya, padahal Raja mengundang kita pesta bersama para pack bangsawan. Bukankah kita bisa sekalian cari mate." Hangyul menggeleng, "Tidak apa-apa, kamu silahkan cari sendiri. Aku belum cukup mapan untuk bersama dengan mateku." "Memangnya mate mu sudah ditemukan?"  Hangyul menggeleng, "Tidak tau, tapi aku tidak perlu seseorang untuk menjadi mateku, aku hanya butuh seorang wanita yang suka diam dirumah dan menunggu suaminya pulang, entah itu mate ku atau wanita lain yang mungkin bisa aku cintai," ucap Hangyul penuh percaya diri. Ketiga pria yang saat ini sedang bermain karambol, menoleh kemudian menatap heran kearah Hangyul.  "Apa yang kamu katakan, gyul?" Hangyul berdecih, "Memang tidak akan pernah benar, jika mengobrol dengan kalian." Pria jangkung dengan tubuh kurus segera menarik Hangyul untuk ikut duduk, "Bagaimana kalau ikut main karambol saja?" Hangyul menggeleng, "Ah, iya, tujuanku kesini cuma ingin menanyakan, apa istana Raja Seungwoo membutuhkan seseorang misalnya pelayan?"  Pria bertubuh jangkung tadi---Jungwoo namanya---mengangguk dengan penuh semangat. "Tadi! Ada kejadian di kerajaan. Raja Seungwoo hampir diracuni, hal itu membuat Raja Seungwoo menyuruh prajurit untuk mengumpulkan pelayan dan mengecek mereka satu persatu." Mata Hangyul terlihat berbinar, "Benarkah apa yang kamu katakan?" Tanya Hangyul lagi. "Itu benar, kemungkinan 60 orang pelayan dipecat saat ini. Orang yang dipecat ini bekerja di dapur dan bertugas menyiapkan makanan untuk Raja Seungwoo." Hangyul menganggukan kepalanya paham, "Aku boleh minta tolong? Jika ada info mengenai perekrutan pelayan baru, tolong kabari aku." "Ada apa, kamu kan penjaga perbatasan. Apa kamu mau gabung jadi pelayan?"  Hangyul segera menggeleng, "Adik sepupuku membutuhkan pekerjaan. Jadi tolong kabari jika Raja Seungwoo sudah memberikan akses untuk merekrut pelayan barunya. *** "Apa kamu pernah bertemu dengan wanita itu?"  Seungyoun yang sedang menyiapkan beberapa surat, menoleh kearah Raja Seungwoo kemudian menggeleng. Selama ini dia sibuk dengan urusan kerajaan, Seungyoun tidak sempat untuk sekedar keluar. "Tidak, yang mulia." "Ada apa?" Tanya Seungyoun lagi. "Aku hanya bertanya, karena aku cukup merasa aneh. Kenapa rasanya sangat hampa dan sepi, apa karena wanita itu?" Seungyoun tidak berani berkomentar, lagipula mungkin sudah saatnya sang Raja memikirkan pendamping. Kalau memang benar, Seungwoo sudah bisa merasakan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD