Sharlynn tampak ragu-ragu membuka pintu. Sebelum membukanya, ia mengintip dari lubang di dekat pintu, seketika Sharlynn beringsut mundur. Kedua matanya membulat sempurna disertai detak jantung yang tak beraturan. “Ba-bagaimana dia bisa tahu keberadaanku?” gumam Sharlynn dengan takut-takut. Wanita itu masih terdiam di tempatnya. Ia tak beranjak, seolah telapak kakinya begitu lengket. Kepalanya seolah penuh sesak dengan pemikiran buruk. “Aku harus menghubungi pihak keamanan apartemen untuk mengusirnya.” Baru saja Sharlynn mulai menggerakkan kakinya, suara teriakan bernada mengancam terdengar di luar. “Sharlynn, keluar! Aku tahu kau ada di dalam. Kau ingin aku merusak pintu ini!” Suara bariton di luar terdengar menyeramkan. Sharlynn benar-benar dilanda rasa takut. Ia masih menatap pintu t

