Ambisi Jahat

1217 Words

Mata lentik Sharlynn terlihat mulai sedikit sayu, tetapi kakinya masih ingin terus melangkah menyusuri tiap lorong Mall of Berlin. Seperti yang dulu pernah ia lakukan hampir setiap hari dan bahkan hampir satu hari penuh demi menghindari melihat air mata buaya Odette yang selalu merajuk jika meminta sesuatu. “Kau masih lapar?” Suara bariton itu seolah menyadarkan Sharlynn yang berjalan sembari mengingat masa lalunya. “Kau seperti cenayang saja, memang benar perutku masih lapar setelah kita sudah berkeliling mall,” jawab Sharlynn dengan jujur. “Tapi, aku belum menemukan yang kucari. “Barang apa yang kau maksud?” Richie mengerutkan dahinya tanda penasaran. Sharlynn menghentikan langkah, ia memutar badan sembilan puluh derajat agar berhadapan dengan Richie yang berjalan di sisi kanannya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD