“Kenapa aku masih di sini?” Sharlynn menepuk-nepuk kedua pipinya. Melihat ekspresi dingin Richie membuat kesadarannya seolah ikut membeku. Baru dua hari pria itu mulai membuat hati Sharlynn menghangat, tiba-tiba hanya karena sebuah kalung pria itu kembali membeku seperti kutub gunung es. Sharlynn memutuskan kembali ke dapur dan mengeluarkan buah-buahan juga sayuran dari dalam kantung lalu menatanya ke dalam lemari es. Sorot netra hazelnya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. “Hanya berdiri di depan pintu kamar Richie aku sudah menghabiskan waktu lima menit. Ya Tuhan, aku benar-benar bodoh!” rutuk Sharlynn sembari memotong lima macam buah, ia memutuskan membuat salad buah untuk mengganjal perut kecilnya setelah sebelumnya

