BOY - Episode 14

1831 Words
"Maaf Ma, tapi ini keputusan Vinka. Izinkan Vinka memilih untuk mundur jika Mas Azhar sudah melakukan hal itu dengan wanita lain. Vinka cuman gak mau menyakiti perasaan wanita lain. Lelaki gak berbekas, tapi wanita? Vinka gak mau hidup dalam rasa bersalah terus menerus" ucap Vinka. "Hmm.... nak, Mas Riko cuman bercanda. Jangan berpikir yang nggak nggak ya?". "Kalaupun itu benar, Vinka harap Papa dan Mama menerima keputusan Vinka membatalkan perjodohan ini. Maaf Ma.... Vinka masuk dulu" ucap Vinka segera menutup pintu. Blam!. Tante Lita melotot ke arah Riko. Riko segera berlari ke kamarnya. "Mas, pokoknya Mas bujuk Vinka" ucap Tante Lita mulai menangis. "Aduh, jangan nangis Ma, iya nanti Azhar bujuk Vinkanya" ucap Azhar. "Kamu beneran gak pernah ada main sama wanita itu bukan?" tanya Tante Lita. "Ah si Mama, percayaan banget sama mulut Riko!" ucap Azhar. "Habisnya ucapannya tuh bikin Mama kepikiran tau. Jangankan Mama yang bukan tunangan kamu, apalagi Vinka. Dia sakit hati pasti, takut ngerusak hidup cewek itu ya karena dia kan gak mau menyakiti cewek itu Mas. Mas paham kan?" tanya Tante Lita. "Iya Mama ku sayang, yang cantik di keluarga Pak Sultan Adzana" ucap Azhar memeluk Mamanya itu sayang. "Mama sayang banget sama Anak Anak Mama, semuanya. Tapi Mama berharap banyak sama Mas Azhar ya? Mas anak ganteng Mama yang paling mengerti Mama" ucap Tante Lita mengusap air matanya, "Dan Mama sayang banget sama Menantu Mama, Vinka". "Azhar juga sayang Mama. Mama surganya Azhar" ucap Azhar. ~ Vinka mengemas pakaian-pakaiannya yang ada di lemari kamar milik keluarga Om Sultan. Ya, ia merasa sudah waktunya pergi. Ia gak bisa terus terusan berada disini. Ia berhak bahagia, tidak menyakiti dan merasa bersalah pada siapapun. Setelah dirasa siap, ia menggeret kopernya keluar dari kamar. Azhar sedang duduk di sofa ruang tamu, bersama Om Sultan. Dan Tante Lita, sibuk menyusun bunga baru dalam vas bunga besar seukuran setengah tubuh Tante Lita, vas bunga itu berada di samping jendela dekat televisi ruang tamu. "Om Tante...." panggil Vinka. Yang ada di ruang tamu segera menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah sumber suara. "Kok panggil Om Tante nak?" tanya Om Sultan, "Kok bawa koper?". "Mau kemana Vin, udah malam lohh?" Tante Lita mulai menunjukan wajah sedihnya. "Vinka mau pamit Om Tante, Vinka mau sendiri dulu. Dan soal pertunangan dan pernikahan, maaf Vinka gak bisa melanjutkannya. Vinka gak bisa" ucap Vinka melepaskan cincin pertunangannya yang dipasangkan Azhar ketika hari pertunangan mereka. Tante Lita sudah menangis. "Tolong terima keputusan Vinka ya Om, Tante. Maafin Vinka, kalau mungkin ini akan membuat Om dan Tante kecewa. Tapi Vinka gak bisa melanjutkan ini semua. Vinka punya orang yang harus Vinka perjuangkan. Vinka gak mau menikah tanpa rasa cinta, dan Vinka gak mau menyakiti semua perasaan keluarga Om dan Mama Vinka. Vinka gak mau menikah kalau berujung perceraian, Vinka gak mau menanggung malu dengan omongan orang orang" ucap Vinka sudah mulai menangis. "Maksud kamu gimana Vin?" tanya Tante Lita. "Maaf Tante, Vinka sudah punya pacar. Sama seperti Mas Azhar, dan Vinka gak mau menyakiti perasaan pacar Vinka, dan Vinka gak mau menikah karena terpaksa" ucap Vinka. "Tapi Mama gak mau kalau menantu Mama selain kamu nak, kamu menantu impian Mama" ucap Tante Lita mengusap air matanya ia menghampiri Vinka. "Tapi Vinka gak bisa Tante, Vinka gak punya perasaan apapun buat Mas Azhar. Begitupun Mas Azhar. Tolong jangan paksa kami untuk menuruti keinginan Om dan Tante serta keinginan Papa dan Mama Vinka. Sementara kalian gak mengerti perasaan kami berdua" ucap Vinka, "Vinka mencintai orang lain". "Vinka benar Ma, sebaiknya sudahi saja semuanya. Mungkin ini ide Papa, Vinka.... Sini nak, duduk disamping Om" ucap Om Sultan memberi kode untuk Vinka duduk disisi kanannya. Vinka dan Tante Lita beriringan duduk di samping Om Sultan. "Maafkan Om Sultan, mungkin ini ide Om yang terlalu egois, dan gak memikirkan perasaan Anak dan Keponakan Om. Maafin kami ya nak. Kalau kamu memang sudah memutuskan untuk menghentikan pertunangan dan pernikahan, Om yang akan bicara sama Papa dan Mama kamu. Besok Om akan hubungi Papa dan Mama kamu ya" ucap Om Sultan mengusap puncak kepala Vinka sayang. "Terimakasih banyak Om" ucap Vinka segera memeluk Om-nya. Azhar hanya memandangi dan mendengarkan setiap pembicaraan Papanya dan Vinka. Kalau tau seenak ini bicara sama Papa, sudah gue suruh ngomong dari dulu si Vinka. "Pa...." Tante Lita mewek. "Gak apa apa Ma, mengerti perasaan Anak Anak kita ya" ucap Om Sultan mengusap punggung istrinya yang rapuh dan perasa. "Aku berharap banyak sejauh ini" ucap Tante Lita. "Sudah Ma, Azhar juga berhak bahagia. Dia anak kita, kebanggaan di keluarga kita" ucap Om Sultan. "Maafin Vinka Om, Tante" ucap Vinka pelan. "Gapapa nak panggil aja Papa Mama, kamu udah Papa anggap anak kami paling cantik dirumah" ucap Om Sultan, "Karena kami gak punya anak perempuan Vin". "Vinka, maafin Mama ya, terlalu berharap untuk kalian, gak memikirkan perasaan kalian" ucap Tante Lita. "Jangan minta maaf Tante, Vinka yang minta maaf. Udah bikin Om sama Tante kecewa". "Maafin Papa Azhar, udah memaksa kamu juga, sekarang kamu boleh bawa wanita pilihan kamu ke rumah ya. Kenalin ke Papa sama Mama". "Oke Pa, secepatnya Pa" ucap Azhar antusias. "Yaudah, Papa ke kamar dulu mau telpon Om Fahri sama Tante Rini" ucap Om Sultan berdiri disusul Tante Lita. Merekapun berjalan beriringan dengan Om Sultan merangkul pundak istrinya sayang. "Thanks Vin" ucap Azhar buka suara. "Thanks buat apa?" tanya Vinka. "Thanks dengan pengakuan Lo kita gak jadi dijodohin" ucap Azhar. "Buat kebaikan kita semua" ucap Vinka. "Tapi Lo gimana? Gak malu sama ocehan keluarga besar?" tanya Azhar. "Kalau sekarang masih bisa diselamatkan, daripada pas nikah dan kita cerai amit amit, gue gak bisa hidup mungkin" ucap Vinka. "Mau gue traktir makan diluar?" tanya Azhar. "Boleh, tapi gak bisa hari ini, gue udah minta tolong Bagas buat jemput gue. Gue mau balik ke kosan aja. Biar gak ngerepotin keluarga Lo terus menerus. Gue gak bisa" ucap Vinka. "Lah, tinggal disini juga gapapa kali. Lo juga bentar lagi lulus. Ngapain ngekos lagi. Aneh lo" ucap Azhar. "Gak enak Mas, biar aja deh gue balik ke kosan aja. Udah izin ke Papa kok" ucap Vinka. "Tapi Lo gak izin ke Papa sama Mama?" tanya Azhar. "Oh iya ya, gimana dong?" tanya Vinka. "Izin dulu lah" ucap Azhar, "Ayo ke kamar beliau". "Okedeh" Vinka berdiri dan berjalan ke Kamar Om dan Tantenya. Tok tok tok.... "Om, Tante...." Vinka memanggil hati hati. "Iya nak, sebentar" ucap Om Sultan. Pintu terbuka Om nya yang membuka pintu kamarnya. "Tante kamu lagi di Wc Vin. Kenapa nak?" tanya Om Sultan. "Om, Vinka lupa pamit. Vinka mau balik ke kosan aja Om" ucap Vinka. "Malam malam begini? Gak nak, Om gak mengizinkan" Om Sultan menggeleng dengan tegas. "Tapi Om.... Temen Vinka udah dijalan mau jemput" ucap Vinka, "Lagi pula kan baru jam 19.25 Om". "Om tetap gak mengizinkan. Suruh teman kamu balik lagi aja. Kalau nggak jalan sebentar sama dia, jangan ke kosan" ucap Om Sultan, "Temen kamu Cewek apa Cowok nak?". "Cowok Om....". "Jangan pulang dulu ya, keluar sebentar boleh. Soalnya besok kan kita mau bicara sama Papa dan Mama kamu. Daripada bolak balik" ucap Om Sultan. "I, i, iya Om" ucap Vinka. "Kita bicarakan besok ya. Kalau kamu gak enak sama temen kamu tadi keluar aja cari makan atau apa, tapi jangan balik ke kosan ya". "Iya Om kalau gitu Vinka pamit keluar sebentar aja ya" ucap Vinka. "Yasudah, hati hati nak...." ucap Om Sultan. Vinka segera kembali ke sofa ruang tamu. Azhar masih disana dan sibuk dengan ponselnya. Sambil tersenyum-senyum sendiri. Dilihatnya lelaki itu dari dekat, Kakak sepupunya ini memang ganteng, tapi dia gak pernah kepikiran berjodoh dengannya. Lelaki ini pantas bahagia dengan pilihannya, begitupun dia. "Gak jadi balik? Pasti Lo dilarang sama Papa yaa?" tebak Azhar. "Iya, mana Bagas udah mau nyampe" ucap Vinka mencek ponselnya dan membaca pesan w******p dari Bagas. "Ya udah suruh balik aja tuh anak" ucap Azhar santai. "Gak enak lah, dia habis balik main bulu tangkis gak disuruh mampir dulu atau makan" ucap Vinka. "Pengertian juga Lo Ama cowok ya" ucap Azhar. "Ya iyalah, dia cowok gue" ucap Vinka. "Kapan jadiannya? Perasaan kemarin dia bilang belum jadian sama gue" ucap Azhar. "Baru tadi pagi gue terima ucapan dia beberapa hari yang lalu" ucap Vinka malu malu. "Idih jijay gue lihat muka elo kayak begitu deh!" Azhar melempar pelan bantal sofa. Vinka tak urung membalas juga keusilan Azhar. Azhar tak mau kalah, ia mendekati Vinka dan menggelitiki perut gadis itu. Vinka tertawa terbahak-bahak ia mencoba menarik lengan Azhar agar oleng, benar saja, Azhar oleng dan menindih tubuhnya. Jarak wajah mereka hanya 15 cm. Hembusan nafas strawberry Vinka, Dan nafas maskulin Azhar terasa dimasing masing Indra penciuman mereka. Azhar mendekatkan wajahnya lagi lebih dekat. Vinka hanya bisa tahan nafas dan memejamkan matanya. Azhar tertawa ketika melihat ekspresi Vinka dan hanya bisa menyentil hidung gadis itu, lalu berdiri. Deru mobil di depan pagar Vinka, Vinka segera mengambil tas kecilnya. Ia berdiri di depan pintu besar utama rumah Om Sultan. "Sayang, lama nunggunya?" tanya Bagas keluar dari mobilnya. "Nggak kok, masuk dulu? Mau minum?" tanya Vinka. "Nggak usah sayang, kita langsung aja yuk. Koper kamu di dalam? Aku ambilin dulu ya. Eh ada Abang Ipar" ucap Bagas ketika sudah berada disamping Vinka dan melihat ke dalam rumah yang pintunya memang terbuka. "Gak usah sok dekat deh lo" ucap Azhar. "Eh, kan Lo Kakak sepupunya Vinka pacar gue, jadi wajar gue simpan sama elo. Kalau gak suka, ya gue bisa aja gak sopan sih" ucap Bagas santai, "Itu kopernya sayang? Gue izin masuk ya Bang". "Gak usah sayang, kita makan diluar aja yuk. Aku gak jadi pergi malam ini" ucap Vinka. "Loh kenapa? Gimana janji sama Ibu kosnya?" tanya Bagas mengacak rambut Vinka yang super super berkilau dan cantik terawat. "Om bilang gak usah pergi, lagipula aku kan bentar lagi wisuda. Jadi mending disini aja" ucap Vinka. "Ih gitu. Yaudah yuk kita makan" ucap Bagas. "Ayo!!!" ucap Vinka manja, "Mas kami pamit keluar sebentar ya". "Pamit ya Bang. Mau ikut kah?" tanya Bagas. "Gak lah, kalian aja. Gue juga mau keluar jemput cewek gue" ucap Azhar. "Yaudah, pamit ya Bang" Bagas segera merangkul pundak Vinka, sesekali di usapnya rambut Vinka. Azhar memandangi pemandangan itu. Ya, Vinka wajahnya bahagia, kelihatan sekali. Ini yang dia inginkan, tidak ada perjodohan dan mereka bahagia dengan pilihan masing masing. Dan Vinka, harus ia apresiasi dengan keberaniannya bicara dengan Papanya yang keras kepala. "Thanks sekali lagi Vin...." batin Azhar. ~ Keesokan harinya, Vinka bangun pagi pagi sekali, membantu Tante Lita memasak masakan. "Papa sama Mama kamu jam 9 pagi berangkat Vin, nyampenya mungkin jam 11 siang. Kita bicaranya malam aja ya nanti sama Papa Mama kamu" ucap Tante Lita bicaranya tidak bersemangat lagi, matanya juga sedikit sembab. "Tante, maaf ya...." ucap Vinka tidak enak hati melihat Tantenya. "Gak apa apa sayang, Tante gak apa apa. Maafin Tante yang terlalu memaksakan kamu ya" ucap Tante Lita. "Vinka tetap anak keponakan Tante kan?" tanya Vinka hati hati. "Selalu jadi keponakan Tante yang cantik dan Tante sayangi. Keponakan impian Tante buat jadi menantu" ucap Tante Lita, "Tapi sayang, nggak bisa kita wujudkan". ~BERSAMBUNG~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD