Bab 7 - Tidak Ingin Berada di Masa Lalu

1603 Words
Berna tidak bisa tersadar lebih cepat saat untuk kali pertama, bibirnya bersentuhan langsung dengan bibir seorang pria. Tubuhnya kian berdesir saat tekstur lembut itu menyapa pelan. Berusaha bergerak di saat dirinya belum tersadar.   “Buka bibirmu, Sayang,” bisik Ozan membawa telapak tangannya mengusap punggung Berna.   Perempuan itu mengerjap, berusaha untuk mengendalikan diri dan menyadarkan kembali untuk apa semuanya terjadi. Pria yang sedang memangkunya bukan lagi seorang Atasan. Ozan adalah kekasihnya dan apa yang terjadi adalah ajakan dari keduanya. Mereka ingin semakin mengenal dan membutuhkan satu sama lain.   Sedikit ragu, ia tepis perlahan. Kedua tangan Berna merambat ke belakang leher Ozan, menautkannya hanya untuk semakin mesra dalam pangkuan kekasihnya. Ia membiarkan dirinya perlahan maju hanya karena tarikan Ozan di pinggangnya. Senyum manis terbit di kedua bibir tipis mereka sebelum akhirnya Berna merasakan bibir bawahnya mendapatkan pagutan lembut. Ia terbuai.   Ozan mengeraskan perasaannya saat sebuah wajah terbayang, penuh kesedihan dan suara kesal yang mengisi indera pendengarannya. Itu hanya halusinasi Ozan yang selalu saja mengingat bagaimana Jihan memarahinya karena terlalu dekat dengan seorang perempuan. Itu lebih sering terjadi saat pria itu memutuskan untuk memberikan cincin sebagai simbol hubungan mereka. Sekadar cincin dari hasil kerja kerasnya menjadi Manajer saat di Australia.   “Kau sangat kaku,” ucapnya menarik diri dan melepaskan sejenak bibir ranum yang sudah ia pagut, tepat di bibir bawahnya.   Wajah Berna bersemu. Ia menunduk malu dengan kedua pipi memanas. Ozan yang melihat itu tertawa kecil dan mengecup bergantian kedua pipi Berna yang putih mulus. “Aku sudah menemukan jawabannya,” cetus pria itu sekali lagi.   “Mungkin aku memang harus jujur karena kau ...”   “... Kau pria pertama yang menjalin hubungan serius denganku dan mengambil ciuman pertamaku.”   “Apa aku akan mendapatkan tamparan karena sudah merebutnya?” tanya pria itu jahil yang sontak dibalas dengkusan kesal Berna.   Ia memukul pelan sisi bahu Ozan dan membuat pria itu tertawa kecil, lalu menariknya semakin dekat. “Jadi, bagaimana?”   Berna tersipu dan berusaha menatap lurus ke dalam manik coklat yang menunggu persetujuannya. Ia mengangguk pelan dan berkata, “Sebaiknya kita lanjutkan saja.”   Ozan menahan kedutan di kedua sudut bibirnya. “Tapi, kau harus bisa membalasnya. Aku tidak biasa mendapatkan respons sepihak. Pasanganku harus terlihat lebih agresif.”   “Aku tidak bisa melakukannya,” balasnya lirih, takut mengecewakan Ozan.   Entah kenapa, ia terlalu ingin membuat perasaan pria itu kembali bahagia dan menikmati kehidupannya. Mungkin, karena selama satu tahun ini ia mengenal baik Ozan. Ia pria yang sangat setia, tapi mendapatkan kenyataan menyakitkan. Berna tidak ingin membuang waktunya dan memilih mengusap tengkuk Ozan.   Pria itu merasakan desiran halus mengalir dalam tubuhnya. Perempuan itu menampilkan senyum menggoda. “Bisa kau mengajariku perlahan?”   Senyum manis Ozan terbit bersama anggukan pelannya. “Kau memang harus lebih banyak belajar mulai sekarang,” balasnya membuat keduanya tertawa kecil.   Namun, perlahan dua orang dewasa itu saling memberikan sorot mata untuk kembali mesra dan tampak lebih intim. Mereka kembali mencoba menautkan permukaan tipis itu untuk saling bermesraan. Kepala keduanya perlahan bergerak ke kanan dan kiri, mencoba memuaskan pasangan satu sama lain.   Berna belajar sangat cepat. Ozan tersenyum disela pagutan keduanya. Tidak sampai ingin di sana, pria itu menggigit bibir ranum dan mengeksplor di dalam sana saat terbuka perlahan.   Sisi perasaan perempuan itu naik ke permukaan. Gairah dan tekstur lembut itu nyatanya membuat ia menginginkan lebih. Jemari lentik itu bermain di rambut belakang Ozan dan membiarkan pria itu mengusap tungkai selagi bertemu di dalam sana.   “Yozan ...”   Perempuan itu tampak menikmati, sedikit mendongak untuk membiarkan permukaan panas tadi beralih ke leher jenjangnya. Ozan memberikan sensasi yang tidak pernah dirasakannya. Ini kali pertama dan menjadi hal terbaik saat pria yang dirinya sukai belakangan ini, mampu membalas perasaannya untuk mencoba saling tertarik satu sama lain.   Satu tanda kecil ia berikan di sana. “Sudah kulabeli,” bisiknya membuat perempuan itu menerbitkan senyum malu.   Jemari Ozan segera mengurai rambut itu supaya leher jenjang Berna tidak terlihat. Ia mengusap sisi pipi perempuan itu dan memberikan kecupan sekali lagi di pipinya. “Bagaimana rasanya?”   “Apa kau menikmatinya?”   Sebuah anggukan pelan itu membuat Ozan tertawa kecil. “Kau pun bisa melakukannya padaku.”   Wajah Berna teralihkan sempurna pada paras tampan Ozan. Pria bermanik coklat itu mengedipkan sebelah matanya. “Bukankah aku telah menjadi kekasihmu? Jadi, kurasa kau tidak perlu sungkan atas hal itu,” jelasnya membuat letupan dan desiran dalam diri Berna terasa kuat.   “Aku boleh melakukannya setiap hari?” tanyanya sedikit jahil.   “Jika kau berani melakukannya setiap hari, mungkin risikonya akan terlalu besar. Kita tinggal dalam satu unit yang sama, kan?”   Berna tertawa kecil.   Ia membiarkan Ozan membawa jemarinya untuk mengusap permukaan ranum milik Berna.   “Dulu kau bisa menahannya.”   Pria itu mengedik santai. “Banyak yang berbeda semenjak hari itu.”   Wajahnya tampak kembali sendu dan hal itu membuat Berna cukup menyesalinya. Ia pun menangkup paras Ozan, mendekatkan wajah padanya hanya untuk memberikan sentuhan sekilas.   Ozan menarik senyumnya. “Hanya beberapa menit, kau sudah bisa memulainya,” jahil pria itu.   Berna mengangguk semangat. “Aku tidak suka kau menjadi sosok pria rapuh saat waktu itu. Sekarang, kau sudah memilikiku, bukan? Jadi, melangkahlah untuk menata masa depan yang baru. Aku akan tetap membuatmu jatuh cinta padaku,” ungkapnya dengan yakin.   “Baiklah, Nona Berna Yildiz. Aku akan selalu menunggu hari itu datang,” balasnya membuat keduanya menyampaikan rasa terima kasih dalam sorot yang lekat.   **   Jihan keluar kamar mandi menggunakan piama. Ia tersenyum manis melihat suaminya yang tidur menyamping, terlalu nyaman mengusap puncak kepala Gani. Anak mereka sedang tertidur nyaman. Seharian ia sudah bermain dengan Erdem dan mereka memutuskan untuk pulang dua hari lagi.   Suami Jihan akan membiarkan istrinya untuk sesaat berada di rumah orangtua perempuan itu.   “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Jihan mengambil duduk di sisi lain.   Pria berusia tiga puluh lima tahun itu mengulas senyum hangat. “Semua berjalan semestinya,” balas Erdem mengamati paras cantik dari istrinya.   Jihan adalah Adik Iparnya dan setelah mendiang istrinya tiada, perempuan itu bersedia menjadi sosok Ibu pengganti bagi Gani. Semua berawal dari surat wasiat yang perempuan itu tuju untuk Jihan.   Hening menyelimuti keduanya dan Erdem memilih untuk beranjak menuju walk in closet. Ia ingin mengganti pakaian dengan piama yang sama.   “Erdem,” panggil Jihan saat pria itu baru menyadari perempuan cantik itu menyusulnya ke dalam ruangan.   “Ya?” tanyanya mendekati istrinya.   “Ada apa Jihan?”   Perempuan itu tampak gelisah, menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan degup jantung yang bertalu kuat. Ia bingung harus mengatakan dari mana pada mantan Kakak Iparnya itu.   Manik hitam Erdem mengerjap dan seulas senyum manis terpatri di paras tampannya. “Mengenai malam pertama?”   Perempuan semampai itu terkesiap. Ia mendongak untuk menatap lekat pria tinggi dengan garis wajahnya. Pra itu memberikan tatapan teduhnya, lalu meraih kepala belakang Jihan untuk memberikan kecupan di kening istrinya. “Jangan  mengkhawatirkan apa pun. Aku sudah sangat bahagia jika kau sangat menyayangi anakku dan mendiang istriku,” ungkapnya membuat tubuh perempuan itu bergetar.   Maniknya berkaca-kaca, mendapati ketulusan dalam suara Erdem. Jihan mengembuskan napas sesak dan berucap, “Terima kasih, Erdem. Aku masih membutuhkan waktu entah sampai kapan hanya untuk percaya diriku sudah memiliki seorang suami dan anak.”   “Aku tau dan sebab itulah kau memutuskan untuk meninggalkan kekasihmu. Maaf, seharusnya kau tidak perlu melakukan semua ini,” lirihnya penuh sesal.   Jihan menggeleng cepat. Ia tidak ingin perasaannya kembali goyah dan mengilas balik masa lalu. Maka, untuk menghilangkan keraguan dan rasa sedihnya, perempuan itu segera maju dan melingkarkan kedua tangannya di leher Erdem.   Pria itu menegang saat bibir Jihan sudah menempel di atas permukaan bibirnya. Karena bagaimana pun sebagai seorang pria, Jihan adalah perempuan sempurna yang tidak akan ditolak untuk daya tariknya. Ia mengakui kecantikan perempuan itu dan kerap menatapnya sebagai seorang perempuan saat mendiang istrinya masih hidup. Bukan sebagai seorang Adik Ipar.   Dengan asal, Erdem melempar piama miliknya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Jihan. Mereka terus menyecap dan saling memagut penuh mesra. Jihan hanya ingin berusaha menata kehidupan rumah tangganya tanpa bayangan Ozan. Bagaimana pun sekarang ia adalah seorang istri dan harus bertanggungjawab dengan keputusan yang sudah diambilnya.   Perlahan tubuh Erdem mundur dan keduanya tidak melepaskan tautan masing-masing. Sepersekian detik, Jihan sudah berada di pangkuan Erdem saat pria itu memutuskan untuk duduk di salah satu sofa walk in closet.   Napas keduanya terengah dan saling menatap satu sama lain. Jihan bisa melihat gairah dari manik hitam pria dewasa ini.   Pria itu tersenyum manis dan mengusap sisi wajah Jihan, lalu mengecup ujung hidung mancungnya. “Kau terlihat sempurna meskipun hanya berbalut piama. Aku selalu sulit mengendalikan diriku,” bisiknya membuat perempuan itu bersemu.   “Apa semua persiapan untuk membuka kafe di kotaku sudah rampung?”   Jihan mengangguk, membiarkan kedua tangannya melingkar di leher Erdem. “Kau memilih seorang pekerja yang andal. Mungkin, minggu depan aku sudah bisa mengurus semuanya dan membuka toko pertama keluargaku di sana.”   Erdem menyisir helaian rambut panjang Jihan yang sedikit menutupi wajahnya. “Aku sangat bahagia jika Gani memiliki seorang Ibu pengganti sepertimu, Jihan. Kau memiliki hati yang tulus dan seorang pekerja keras. Sangat mandiri dan tidak sekadar mengandalkan uang keluargamu.”   Namun, bukannya tersipu. Jihan justru terpaku dengan ucapan Erdem yang sangat membuatnya kembali ke masa lalu. Ucapan Erdem pernah tercetus oleh Ozan yang sangat bangga bisa memiliki dirinya dan mampu menjadikan Jihan sebagai perempuan terhebat selain sang Mama yang pria itu kenal.   Ia menerbitkan senyum kaku dan memilih bersandar di bahu Erdem, menutupi kesedihannya. Jihan merasakan jika telapak tangan besar itu mengusap punggungnya, memberikan usapan yang menenangkan.   “Aku menyayangimu, Jihan. Terima kasih telah menjadi seorang Ibu dan istri yang baik,” bisik pria itu membuat Jihan perlahan menutup kelopak matanya.   **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD