Tsukasa kini duduk diranjang sembari menatap Yuuya yang masih saja terlelap itu sembari fokus pada ponselnya.
"Hmmm... bagaimana cara menandainya"Ujar Tsukasa pelan
Ia kini kebingungan sendiri menatap artikel-artikel yang dibacanya.
"Ia sedang tidur, dan ini kesempatan sekali seumur hidup. Jika ia bangun, aku... tidak mungkin bisa selamat..."pikir Tsukasa sembari bangun dan mondar-mandir kebingungan saat ini.
"Ibu... Aku butuh ibu... tolong bukakan pintunya untukku, aku haus"Ujar Tsukasa dengan nada begitu lembut.
Sang Ibu langsung saja menutup mulutnya dan menjatuhkan ponselnya.
"Nyonya!...apa yang
"Bukakan pintu untuk putraku... Cepat!"Ujar Sang Ibu sembari cepat-cepat mengambil air untuknya.
"Nak, Tsukasa, ini...minumlah.."
"Bu!! Bagaimana aku menandai seorang omega?!"tanya Tsukasa
Sang ibu yang kini memegangi gelas air itu terkejut dan mengedipkan matanya beberapa kali kemudian menyiram wajah Tsukasa dengan air dingin itu.
"Ah.. m-maafkan ibu!"Ujar Sang Ibu
"Bu...
"Mm.."Wanita itu kini memberi gelas pada pelayan dan mendorong Tsukasa menjauh dari mereka.
"Manja dan Masih perjaka... Tsukasa sama benar-benar memiliki banyak kelebihan"pikir kepala pelayan yang sebenarnya terkejut mendengarnya.
"Aku pikir Tsukasa-sama pernah bermain-main diluar sana..."Ujar salah seorang pelayan pelan
"Shooo!! Jangan bicara sembarangan. Tsukasa-sama tidak seperti itu."Ujar Sang kepala pelayan.
Sementara itu kini sang ibu mendorong putranya masuk ke dalam ruangan yang sebenarnya adalah lemari itu dan menyalakan lampunya.
"Tsukasa-kun... Kau bisa melakukan saat ia sedang heat..."
"Heat?"
"Ya...Seperti ketika kau sedang Rut... Para Omega juga mengalami masa seperti itu"Ujar sang ibu
"Kapan ia akan heat?"tanya Tsukasa
"Tanya padanya. Jangan tanya pada ibu"Ujar Sang ibu
"Aku tidak ingin ditendang lagi. Haaah..Omega Sialan itu!!!"
"T-tunggu dulu!! Jika ia heat, maksudnya ia.."
"Kalian harus melakukannya"Ujar sang ibu sembari membentuk jari tangan kirinya seperti huruf o dan jari telunjuk kanannya dimasukkan kedalam lingkaran itu
"Hah?"
"Tsukasa, jangan bilang pada ibu, kau masih perjaka!?"tanya sang ibu
"Aku tidak punya waktu"Ujar Tsukasa
"Kalau begitu, luangkan waktumu"Ujar Sang Ibu sembari mengeluarkan ponselnya.
"Ah.. Sawatari? Belikan perangsang Heat dan Rut untukku. Antarkan saja ke rumah Tsukasa, sekarang juga"Ujar sang Ibu
"Baik President"Ujar Sang Sekretaris
"Untuk apa?"
"Jika ibu menunggu lebih lama, kasihan dirimu, lama-lama benda itu tidak dapat berdiri"Ujar Sang Ibu kesal
"Hah?"
"Kau ini normal atau tidak?! Bahkan saat Rut saja kau masih bekerja!!"Ujar Sang ibu sembari mendorong kening Tsukasa berulang kali dengan jarinya.
"Ugh!"
"Syukurlah kau punya dia. Sepertinya keluarga Asahina juga tidak berniat membuatnya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi"Ujar Sang Ibu
"Mengapa??"
"Kau pikir siapa yang ingin menyekolahkan Omega?"
"Kalau begitu kita juga??"
"Tentu saja. Ia adalah pembuat bayi yang alami. Kau harusnya tahu itu. Ibu khawatir kau tidak akan menikah dan tidak akan memiliki keturunan, karena itu ibu menyetujuinya"Ujar Sang Ibu
Tsukasa kini hanya mengangguk.
"Ibu pikir kau bohong tentang ia kekasihmu...namun, sepertinya ibu tidak perlu khawatir lagi. Setidaknya, tunggulah hingga ia lulus agar kalian bisa menikah"Ujar Sang ibu
"Ya..."
"Aku hanya butuh ia mengakui jika ia seorang Omega... setelahnya terserah padanya ia mau pergi kemana atau akan jadi apa! Asalkan aku berhasil membuktikan jika aku benar"Pikir Tsukasa sambil tersenyum menatap sang ibu.
Yuuya kini masih saja terlelap. Ia kelelahan setelah sepanjang hari ini berlari mengelilingi lapangan olahraga 30 kali. Walaupun sang guru menyebutnya Tarzan Jepang, ternyata ia juga memiliki batas staminanya.
"Masuklah, lalu...buat ia menghirup ini"bisik sang ibu sembari Menutupi hidungnya dan memberikan serbuk aneh itu pada Tsukasa.
"Bau!"
"Pergilah! Kau bilang akan menandainya!?!"bisik sang ibu sembari mencubit pinggang Tsukasa kemudian mendorongnya dan segera menutup pintu itu.
"Ugh... Apa ia akan bangun?"pikir Tsukasa yang memengangi serbuk itu namun karena saking gugupnya ia sendiri terjatuh dan membentur kepalanya di ranjang sementara tangannya kini harus menarik kaki Yuuya, agar wajahnya tak membentur lantai.
Yuuya yang terkejut karena Tsukasa menarik kakinya itu langsung saja terbangun dan langsung menendangnya.
"Ah! Sial! Sudah sore! Aku harus pulang"Seru Yuuya sembari mengangkat tasnya dan membuka pintu itu
Ia benar-benar tak peduli pada Tsukasa.
"Yu-Yuuya-kun??"
"Aku harus pulang Bu!!"Ujar Yuuya sembari berlari Keluar
"Eh??? Bagaimana cara pulang??"serunya ketika melihat halaman luas itu dan tak satupun mobil apalagi kereta yang lewat.
"Dimana keretanya?"tanya Yuuya pada pelayan yang sedang berdiri dipintu itu
"Tsukasa pasti gagal...haaah...sial sekali..."ujar sang ibu pelan sembari menghampiri Yuuya
"Umesaka akan mengantarmu"Ujar Ibu Tsukasa itu sambil memegangi pundaknya.
"Baiklah. Sampai nanti Ibu"Ujarnya sembari masuk ke dalam mobil yang baru saja berhenti di hadapan mereka itu.
"Nyonya sedang kesal setengah mati...anak ini berani sekali"Pikir Umesaka sembari tertawa sendiri
.
.
.
.
Begitu Yuuya kembali ia langsung saja menuju ke kamar Hayato.
"Nii-san!!"
"Ya?"
"Nii-san! Aku diturunkan di rumah besar...dan tidak ada mobil dan kereta yang lewat... Sama sekali tidak ada!!!"Lapor Yuuya
"Ah...itu mungkin lahan pribadi milik keluarga Kaminaga. Aku dengar butuh 30 menit dari gerbang hingga sampai ke rumah utama..."Ujar Hayato
"Aku tidak menghitungnya. Nii-san Rajin sekali sampai-sampai harus menghitung sesuatu seperti itu"Ujar Yuuya
Hayato hanya tersenyum mendengarnya.
"Ini ponselmu. Aku mencarikan ponsel yang paling mudah untuk kau gunakan. Kau bisa menelpon Ayah, Ibu, Jun dan Aku..."ujar sang kakak sambil menunjukkan cara menelpon pada Yuuya
"Kita akan menelpon Jun"Ujar Sang kakak lagi
"Halo, siapa ini?"tanya Jun yang sebenarnya ada di kamar sebelah
"Wah!!!Jun nii... apa kau terperangkap dalam benda ini??lewat lubang yang mana??"Tanya Yuuya
Hayato tertegun melihatnya.
"Ia benar-benar memiliki kebodohan seluruh nenek moyang kami"Pikir Hayato
"Sudah kuduga nii-san pasti membelikan ponsel untuknya"Ujar Jun sembari bergabung dengan mereka dan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Apa kau sudah mandi??!!"tanya Hayato
"Sudah"
"Namun... Bagaimana suara nii-san bisa ada di dalam sini?"tanya Yuuta masih sambil mengintip ke setiap celah ponsel itu
"Gunakan saja jangan banyak bertanya. Jika kau dalam bahaya atau lupa jalan pulang, tekanlah nomor siapa saja yang ada di dalam ponsel itu"
Jun kini terkekeh-kekeh melihat sang adik yang sedang menganggukkan kepalanya itu.
Ide menarik tiba-tiba saja terlintas dikepalanya, dan kini akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Yuuya.
Begitu ponsel itu berdering, Yuuya langsung saja melemparkannya ke tembok dengan sekuat tenaga.
"Yuuyaaaa???"tanya Hayato
"Nii-san!!! Jangan dekat!! Benda ini dirasuki Roh Jahat!!!"Ujar Yuuya sambil menarik lengan baju Hayato
Hayato menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi perlahan-lahan.
"Jun, aku tidak akan memberimu uang jajan bulan ini. Kau hanya akan mendapatkannya dari ayah!"Ujar Hayato
Jun yang masih saja tertawa itu tidak peduli dengan kata-kata Hayato tersebut.
"Ahaha..haha..haha..sudah kuduga...hahaha...hahah.."Ujar Jun yang kini tertawa hingga hampir jatuh dari tempat tidur.
"Yuuya! Jika ada panggilan masuk benda itu memang akan berbunyi dan kadang bergetar. Kau tidak perlu melemparnya kau hanya perlu menekan tombol hijau seperti ini untuk mendengarkan suara orang lain"Ujar Hayato sembari menunjukkan tampilan ponselnya itu pada Yuuya.
"Oh..Maafkan aku... Aku merusaknya"Ujar Yuuya sembari memunguti ponsel yang sudah hancur itu.
"Sudahlah...aku akan membelikan yang baru esok... Mandilah dulu dan Istirahat"Ujar Hayato
"Ya!! Terima kasih Nii-san!!"Ujar Yuuya sambil memeluknya
"Bahkan memeluk pun kau benar-benar berbentuk... Kau benar-benar omega"Ujar Jun sambil tertawa
Yuuya kini berjalan kearahnya kemudian menarik rambutnya dengan kuat.
"Aku ini Alpha!! Apa kau bodoh Nii-san!!?"tanya Yuuya kesal kemudian segera keluar dari ruangan itu.
"Arrrgh...aku bisa botak!!"Ujar Jun sambil memegangi kepalanya.
"Nii-san?"
"Kurasa seseorang harus mencari tahu, mengapa ia tidak suka orang memanggilnya Omega..."Ujar Hayato yang kini sedang berusaha menghubungi seseorang.
"Aku juga sebenarnya penasaran .... seperti apa tempat asal ayah itu... mengapa Yuuya sampai tidak tahu apapun seperti ini..."Pikir Jun
"Nii-san... Apakah ...saat liburan nanti, aku boleh bersama Yuuya mengunjungi desa itu?"tanya Jun
Hayato kini langsung saja berbalik menatapnya.
"Aku juga ikut! Jun! Tumben kau pandai!"
"Hah? Apa maksudmu Nii-san!!"
"Biasanya kau masuk dalam kelompok ibu dan Yuuya"Ujar Hayato
"Nii-san!!"Teriak Jun sambil melemparinya dengan bantal kemudian langsung saja berlari keluar dari sana.
"Mengapa aku tidak pernah memikirkan tentang hal ini?"pikir Hayato
Ia kini terlihat buru-buru keluar dari ruangannya dan menghampiri sang ayah dan Ibu yang sedang asyik menonton televisi itu.
"Ayah, Ibu..."
"Hm?"
"Mengapa kalian membiarkan baa-san merawat Yuuya?"tanya Hayato
"Karena nenekmu menginginkannya"ujar sang ayah
"Aku tidak yakin...jika itu putraku, aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun"Ujar Hayato
"Haya.."
"Ibu, mengapa ibu setuju ..
"Hayato, nenekmu sudah cukup tua saat Yuuya lahir...kurasa kau juga tahu itu...
"Aku tahu! Aku tahu anak itu lahir, namun kemudian keesokan harinya ia sudah tidak ada lagi dirumah sakit"Ujar Hayato sambil mengerutkan keningnya.
"Baa-san langsung membawanya, Haya"Ujar Sang Ibu
"Apa kalian malu ada Omega di dalam keluarga ini?"tanya Hayato pelan
"Haya... "
"Hayato...kami masih muda dan tidak tahu bagaimana harus mengurusi seorang Omega... Ayah sadar ayah bersalah, namun Syukurlah kini Yuuya sudah bisa kembali pada kita"Ujar Sang ayah
"Hmm... Aku mengerti"ujar Hayato pelan sembari ikut-ikutan menyaksikan televisi
"Yuuya mengunci pintu kamarnya"Ujar Jun
"Tentu saja ia akan menguncinya, apalagi ada pengganggu sepertimu"Ujar Sang ayah
"Hmp! Ayah tidak tahu saja, ia tidak pernah mengunci pintunya"Ujar Jun sembari duduk disamping sang ibu.
"Mungkin Yu-chan ingin istirahat "Ujar sang ibu pelan
"Hmm...tidak biasanya..."Ujar Jun sembari menoleh ke arah televisi.
"mm...Tuan, Nyonya..."
"Ya?"
"Mm..Tuan Muda sepertinya..."
"Hmm?"sang Ibu kini mengerutkan keningnya
"S-sepertinya beliau sedang Heat..."Ujar sang pelayan
Keempat orang itu kini saling menoleh satu sama lain kemudian segera menuju ke lantai berikutnya.
Kini, semuanya kebingungan karena ada wangi yang tak biasa.
"Mm..Y-yuuya benar-benar.."
"Yu-chan?"tanya Sang Ibu sembari mengenakan masker yang selalu dibawanya itu.
"Yu-chan..."
"Hng..."Yuuya berusaha menutupi mulutnya sembari meremas erat seprainya.
"Baa-chan...Sakit... Baa-chan...hng..."
"Yu-chan? Kau baik-baik saja? Kau butuh sesuatu nak?"tanya sang ibu sambil menangis
"Haya...carikan Suppressant untuknya..."Ujar Sang Ayah pelan
"Y-ya!"Ujar Hayato yang kini kembali turun untuk segera membeli Suppressant
"Nii-san! Ikut! Aku tidak kuat!"Ujar Jun sembari menghembuskan nafasnya.
"Omega...Heat...entah mengapa aku berpikir ini menyeramkan"Ujar Hayato pelan
"Baunya juga tajam sekali... Alphanya pasti tidak akan tahan juga jika seperti ini"
"Mana mungkin di zaman sekarang masih ada pair pair seperti itu!"
"Lalu Tsukasa?!"
"Jun, aku akan menurunkanmu ditengah jalan jika kau terus bicara. Bukannya melindunginya, Mengapa semua orang begitu senang melihat Yuuya menikah dengannya" Ujar Hayato
"Dasar Brocon!!"
"Jun!!"
"Ya. Aku diam Asahina Hayato-sama!!"Ujar Jun
Sementara itu, dirumah, kini sang ayah malah sibuk menenangkan sang ibu yang terus-menerus menangis itu.
"Sudahlah... Ia sedang heat...ia baik-baik saja...jangan malah memperburuk keadaan"Ujar Sang ayah.
"Kasihan Yu-chan...
"Ayah juga kasihan...namun, kita tidak bisa apa-apa sebelum Suppressant nya sampai..."Ujar Sang Ayah
"Mengapa aku jadi seperti ini... Baa-chan... Mungkin saja karena sore ini aku mencium sesuatu yang buruk..."Pikir Yuuya sembari memeluk gulingnya erat.
"Hng...Sakiit...Baa.. Chann..."ujar Yuuya pelan.
"Baa-chan...aku takut... mengapa baa-chan tidak membiarkanku pergi bersama baa-chan... Aku takut... mengapa heat ini harus menyerang setelah baa-chan sudah pergi, padahal... baa-chan...aku butuh baa-chan..."pikir Yuuya sambil menangis
Bersambung....