Delia turun dari Bus. Wajah gadis itu. cemberut karena Erni tidak bisa menemaninya ke kos. Erni adalah tetangga Delia yang sudah kuliah semester 5 di kota Bandong, gadis itu sudah mencarikan kos untuk Delia.
"Aduh, Dek, maafkan kakak ya! Kakak sudah kirim alamatnya ke whatsaap kamu. Kasih tunjuk sama sopir busnya, dia pasti tahu alamat itu ya, Dek. Besok kakak janji akan datang ke kos kamu itu." Erni berbicara panjang melalui telepon.
"Iya kak, tidak apa-apa," jawab Delia, meskipun hatinya sangat panas. Ia yakin akan menceritakan hal itu kepada ibunya. Bagaimana mungkin Erni membiarkan dirinya sendirian memasuki kos di hari pertama?
Delia menarik nafas panjang. Ia mengangkat kuat kopernya ke depan pagar kos Ibu Narti yang sudah ada di depan mata-nya.
Delia berdiri di depan pagar. Matanya menangkap sosok pemuda duduk di teras kos setelah taman.
"Siang!" Delia bersuara keras.
Pemuda itu menoleh, "Itu terbuka, masuk saja!" Teriak pemuda yang duduk di teras.
Delia mendorong pintu pagar. Matanya mencuri pandang tubuh pemuda itu. Ia menelan ludah, wajah pemuda itu langsung mencuri perhatiannya.
"Delia yah?" Tara, pemuda yang duduk di teras bertanya. Ia tidak melirik wajah Delia sama sekali, tetapi fokus pada handphone-nya.
"Iya Kak, kok bisa tahu? Kakak siapa ya?"
"Saya Tara. Tadi Erni menitip kunci ini. Kamar kamu nomor 3."
"Kamar nomor tiga di sebelah mana, Kak?"
"Di atas," jawab Tara singkat. Ia kembali fokus ke ponselnya.
Delia kecewa, sikap pria itu tidak sebagus wajahnya. Pasti ceweknya banyak dan cantik cantik. Tara sama sekali tidak peduli kepada Delia.
Delia meninggalkan Tara. Awalnya, ia berharap pemuda itu akan membantunya untuk mengangkat koper. Tetapi, jangankan mengangkat koper, berbicara dengan Delia saja, seperti malas begitu.
"Hei, Kamu mau kemana?" Tiba-tiba, Tara bertanya setelah Delia masuk ke lorong kamar di lantai satu. "Masuk nya dari tangga itu!" ucap Tara, menunjuk tangga di sebelah kanan teras.
Delia tersenyum. Ia berusaha setengah mati mengangkat koper. Beberapa kali, ia mengeluh kesusahan. Berharap, Tara akan membantunya, tetapi pemuda itu sama sekali tidak bangkit dari kursinya.
Di lantai atas, ada dua kamar. Kedua kamar itu saling berhadapan. Di depan adalah jemuran beratap tanpa dinding. Sepertinya, anak kos dari lantai bawah juga menjemur kain di atas. Tempat itu cukup luas. Kalau udara berhembus di sana terasa segar. Tetapi, di siang hari, di sana terasa panas.
Pada kedua sisi kanan kamar yang saling berhadapan itu, terdapat kaca nako yang bisa dibuka dan ditutup, mungkin berguna sebagai ventilasi udara atau tempat masuknya cahaya matahari.
Delia membuka kamar, meletakkan kopernya begitu saja dan melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Tangan Delia berusaha meraih jendela untuk membuka kaca nako hitam supaya udara masuk. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok pemuda tadi, orang itu naik ke atas dan berjalan mendekat.
Buru-buru, Delia bangkit dan duduk di pinggir kasurnya. Ia yakin orang itu akan menyapanya. Tetapi, Delia salah. Orang itu malah membuka pintu kamar depan. Bibir Delia mengerucut. Pemuda itu memang tampan, tetapi sikapnya membuat Delia muak. Delia tidak yakin kalau dirinya akan betah tinggal di sana.
"Apa yang kau pikirkan?"
Delia kaget.
Tiba-tiba saja, kepala Tara muncul di pintu kamar yang hanya terbuka seperempat.
"Kamar kakak di depan ya?" Tanya Delia, berusaha tenang.
"Iya. Kenapa? Tidak suka ya?"
Wajah Delia memerah. Ia semakin kesal. Orang itu benar-benar sombong. "Hem, bukan begitu, Kak. Supaya tahu saja," jawab Delia kikuk.
"Talinya sudah diambil ya?" Tara melihat ke langit-langit kamar.
"Tali? Tali apa?" Delia menoleh ke atas, bingung.
"Tali yang dipakai Sean untuk bunuh diri!" Mata Tara mengecil dan berkeliling, seolah mencari keberadaan tali itu.
Delia seperti tersambar petir, "Bunuh diri?" Buru-buru, Ia berdiri dan meloncat dari kasur ke pintu. Mendorong keras tubuh Tara hingga pemuda itu jatuh, menabrak dinding kamarnya.
"Aih, apa yang kau lakukan? Sakit!" Tara memegang lengan tangannya yang terbentur ke dinding.
"Di sini ada orang yang bunuh diri?" Delia belum percaya. Ia berdiri gemetar. Demi apapun, ia tidak mau tidur di kamar itu bila benar ada orang yang bunuh diri di sana.
"Iya, minggu lalu, Sean bunuh diri di situ," jawab Tara. Di balik wajah datarnya, ia senang. Ia hampir tertawa terbahak-bahak, melihat gadis itu menderita. Iya yakin, tidak lama lagi gadis itu akan segera pergi.
Tara tidak suka bila ada yang menghuni kamar di depan itu, menurutnya tinggal sendiri di lantai atas jauh lebih nyaman. Ia bebas melakukan apapun tanpa takut kehilangan privacy. Ia sudah tidak suka, sejak Erni mengatakan kalau teman satu kampungnya akan tinggal di situ.
Delia bergerak cepat ke dalam kamar untuk mengambil tas. Ia berjalan ke depan, ke arah jemuran.
Sementara, Tara berdiam menyaksikan gerak gerik gadis itu.
Delia mencoba menghubungi Erni, tetapi tidak pernah diangkat. Puluhan kali, hingga ratusan kali sampai nomor handphone Erni tidak aktif.
Delia putus asa, duduk begitu saja di depan dinding kamarnya, di bawah kaca nako. Ia tidak berani masuk ke kamar itu.
Sementara, Tara sudah pergi entah kemana sejak dua jam yang lalu.
Hingga jam tujuh malam, Delia belum bisa menghubungi Erni.
Suasana sudah mulai gelap. Nyamuk berdatangan, menggigit tangan dan kaki Delia.
Delia tidak punya pilihan lain, ia berjalan pelan-pelan, membuka pintu kamarnya lebar lebar dan duduk sejengkal dari pintu kamar itu. Ia belum makan sama sekali. Ia sakit hati karena Erni ternyata tidak peduli kepada dirinya.
Beberapa kali, Delia memberanikan diri untuk rebahan di atas kasur. Tetapi, setelah ia menatap langit-langit, jantungnya tidak terkontrol. Ia selalu ketakutan. Akhirnya, ia duduk di pintu kamar, membenamkan wajah di kedua lututnya dan membiarkan air matanya berjatuhan begitu saja.
Sudah jam 9 malam, suasana lantai dua rumah itu semakin sepi. Di lantai bawah, tidak terdengar gemetaran. suara apapun. Delia semakin
Saat, Delia mendengar suara langkah kaki orang yang mendekat. Ia berharap kalau itu adalah Erni. Tetapi, matanya menangkap sosok Tara. Ia kembali putus asa. Ia tahu kalau Tara tidak akan peduli padanya.
Tara melirik tipis gadis yang duduk menangis dan bersandar di pintu kamar itu. Awalnya, ia berusaha untuk tidak peduli, berusaha tetap dingin supaya gadis itu pergi. Tetapi, ia tidak bisa memaksa dirinya. Entah kenapa, ia merasa simpati.
"Kamu masih ketakutan?" Tara bertanya, suaranya seperti dipaksa.
"Iya, Kak. Kak Erni tidak bisa dihubungi lagi."
"Nggak usah takut! Kakak di depan ini, baik baik saja selama ini!" ucap Tara. Ia tidak tahu kenapa ia harus mengatakan hal yang menurutnya sangat bodoh itu. Ia kembali teringat bahwa tujuannya adalah membuat gadis itu pergi. Tetapi ia tidak bisa, selalu saja matanya mengirimkan sinyal aneh ke lubuk hati, mengemis supaya ia tidak menyakiti gadis itu.
"Kita bertukar kamar, mau gak, Kak?"
"Apa? Enak saja. Aku sudah tiga tahun tinggal di sini!"
"Aduh, tapi Delia takut, Kak. Please! Malam ini saja. Besok, Delia akan mencari kos baru!" ucap Delia, memohon-mohon.
Tara senang. Akhirnya, misinya berhasil juga.
"Aku tidak mau pindah ke sana. Kalau kamu mau istirahat, di kamarku saja." ucap Tara tidak yakin. Ia tahu gadis itu tidak akan mau.
Mendengar penawaran Tara, tanpa berpikir, Delia menarik koper dan tasnya. Buru-buru, ia masuk ke kamar Tara dan duduk di pinggir kasur.
Tara mematung, alis matanya terangkat tinggi. Gadis yang aneh, langsung man saja. Tara masuk ke dalam kamarnya.
Delia menyukai aroma kamar Tara. Walaupun, bercampur bau rokok, tetapi aroma parfum pria sedikit menenangkan urat sarafnya yang sudah tegang sejak tadi siang.
Kamar Tara berbeda dari kamar Delia. Kamar Tara lebih luas, punya meja, sofa dan dapur sendiri. Atau mungkin, Delia berpikir begitu karena kamar yang di depan masih kosong.
Tara duduk di sofa, ia menjulurkan remot untuk menghidupkan tv. Tetapi, ia bangkit lagi setelah mendengar bunyi perut Delia.
"Tunggu sebentar ya!"
"Mau kemana?" Tanya Delia, masih belum berani bila ditinggal sendirian. Bayangan orang yang bunuh diri itu masih saja menghantui pikirannya.
Tara tidak mengindahkan pertanyaan itu. Ia melangkah dan pergi begitu saja.
Delia tidak bergerak
sama sekali. Punggungnya sudah mengemis untuk direbahkan, tetapi ia tidak melakukan itu. Ia merasa janggal, segan atau mungkin masih berusaha menjaga image-nya.
Sekitar 20 menit kemudian, Tara masuk ke dalam kamar, membawa 2 bungkus nasi. Ia mengambil piring dan duduk lesehan di depan TV.
"Gak Makan?" Tanya Tara
"Hem, emang beliin untuk aku juga, Kak?"
"Iya nih, lima belas ribu tapi."
Delia mengambil tas, mencari recehan untuk membayar nasi bungkus yang dibelikan oleh Tara.
"Astaga, percaya lagi. Nggak usah bayar adek manis. Sini, duduk makan!" ucap tara, wajahnya seperti mengejek.
Delia bergerak kaku. Ia duduk di samping kanan Tara, menghadap ke TV.
Tara membuka kedua bungkusan nasi, meletakkannya di atas piring dan mempersilahkan Delia untuk makan.
Delia berubah pikiran, ternyata Tara baik juga. Ia senang dilayani seperti itu. Pikirannya langsung melayang-layang, membayangkan dirinya sudah menikah dan diperlakukan begitu oleh suaminya. Delia berimajinasi, Tara menyuapinya. Delia akan pura-pura tidak selera makan, tetapi Tara akan merayunya. So sweet, pikir Delia.
Melihat, Delia senyum-senyum sendiri, Alis mata Tara merapat. Astaga, jangan-jangan anak ini punya gangguan jiwa, pikir Tara.
"Woe, makan!" Tara melotot
"Iya, iya, maaf?" Delia tersadar. Buru-buru, ia menarik nasi yang sudah dibuka tara.
Mereka makan tanpa berbicara.
Tara menghabiskan makanannya. la keringatan dan merasa gerah. Ia membuka kaus, mengambil rokok dan fokus menonton Tv.
Sementara, Delia sibuk mengusir rasa penasaran dari kepala-nya. Sebagian dari tubuhnya mengemis untuk sekedar melirik postur tubuh pemuda itu, tetapi sebagian dari dirinya berusaha mengingatkannya kalau dia tidak bisa gatal, apalagi terhadap orang yang baru dikenal.
"Kau belum mandi dari tadi ya?" Tiba-tiba Tara bertanya, menghadap ke Delia.
Delia tidak mau membuang kesempatan. Ini adalah saat yang paling tepat untuk memuaskan rasa penasarannya. Ia mengangkat wajah dan mendaratkan pandangan. Pertama sekali pada d**a bidang Tara yang ternyata ditumbuhi bulu hitam yang halus. Delia menelan ludah, ia tidak peduli bila Tara memperhatikan itu.
"Iya, jangankan mandi. Duduk di kamar itu saja rasanya seperti di neraka."
"Haha." Tara tertawa. "Ya sudah kamu mandi dulu habis makan. Pantesan, perasaanku dari tadi tidak enak!" Goda Tara. "Bercanda!" Tambah Tara setelah melihat ekspresi kesal di wajah Delia
Tara bingung, kenapa ia menjadi ramah kepada gadis itu? Mungkin, setelah tidak sengaja, ia melihat Delia menelan ludah. Telinga Tara naik. Dari awal ia sudah menebak-nebak, kalau Delia menyukai dirinya.
Di dalam kamar mandi, Delia menyirami kulitnya yang memanas. Ia membenci keinginan seksualnya yang terlalu tinggi. Ia tidak bisa hidup bila tidak m********i paling tidak tiga kali seminggu.
Delia sudah memahami kalau dirinya memang hipersex, tapi saat dalam kondisi tertekan seperti ini. Saat ia harus membuang harga dirinya dan menumpang di tempat tinggal orang lain yang baru dikenalnya, ia menginginkan tubuhnya itu sedikit lebih memahami keadaannya. Tapi, nyatanya tidak. Kulitnya malah terasa hangat dan kepalanya sibuk berimajinasi.
Delia keluar dari kamar mandi. Ia melilitkan satu handuk untuk menutupi dadanya.
Handuk itu bahkan tidak sanggup menutupi semua paha Delia, hanya beberapa sentimeter saja dari gundukan vaginanya.
Tetapi, Delia tidak peduli. Ia tidak akan berontak seandainya Tara memperkosanya malam ini. Bahkan, ia akan senang. Tetapi mana mungkin mahasiswa seperti Tara tertarik padanya. Delia menarik nafas, ia tidak percaya diri.
masih duduk di sofa, wajahnya Tara masih mengarah ke tv tetapi sesuatu dari sebelah kiri, dari arah kamar mandi, seolah menarik-narik kulit pipinya. Membuat Tara penasaran setengah mati ingin melirik ke sana.
Tara berusaha untuk menjaga harga dirinya. Ia ingin terlihat cool dan cuek. Tetapi, ia tidak kuat. Ia melirik juga, menemui tubuh Delia membelakangi dirinya.
Senjata Tara menegang.
Delia membungkuk dan handuk pendeknya itu tidak mampu menutupi vaginanya dari belakang. Delia membuka kopernya, menarik celana dalam.
Jantung Tara berdenyut cepat. Ia menarik bantal dari atas kasur untuk menutupi selangkannya. Ia tidak mau apabila Delia melihat benjolan di celananya itu. Darah Tara berdesir, gundukan yang terjepit di kedua paha Delia menghipnotis dirinya.
Delia tahu kalau sepasang mata sedang memperhatikannya. Ia tersenyum. Ia sudah menemukan celana dalam tetapi masih pura-pura membungkuk dan mengorek-ngorek isi kopernya.
Setelah puas, Delia melepaskan handuk, sengaja memamerkan bokongnya. Delia mengangkat satu kaki untuk memakai celana dalam.
Bola mata Tara membesar. Ia menelan ludah, senjatanya bergetar-getar. Tara panas, ia tidak tahu harus melakukan apa. Tara tidak melepas pandangan sedetik pun.
Setelah Delia mengenakan BH dan baju piyama biru muda bergaris putih. Buru-buru, Tara menonton TV.
"Kak, aku tidur dimana ya?" Tanya Delia. Ia kelelahan. Sejak turun dari bus, ia belum mampu beristirahat dengan tenang.
"Sudah mau tidur?" Tanya Tara tanpa menoleh, pura-pura menatap televisi. Dadanya masih bergetar, pun senjatanya masih tegang. Ia memikirkan banyak hal. Ia tidak mau memerkosa Delia. Tetapi, ia harus melakukan sesuatu. Sange itu rasanya menyakitkan.
Delia menatap Tara. Menemukan wajah orang itu berkeringat dan memerah. Delia menggigit bibir ketika matanya tertuju pada bantal yang menutupi celana pendek bola yang Tara pakai.
"Belum sih, Kak," jawab Delia. Ia duduk di pinggir kasur, menghadap ke Tara yang duduk meter di depannya. Mata Delia tidak terkontrol, sibuk mencuri pandang pada lutut Tara yang bergerak-gerak, seperti grogi.
Sadar telah diperhatikan, Tara semakin panas. Dadanya seperti diremuk. Tara tidak mau tersiksa. Ia tidak mau gadis itu mempermainkannya. Tara adalah bos, dialah yang punya kamar itu, Delia hanyalah tamu yang baru datang dari kampung, harus nya dialah yang grogi, bukan Tara.
Tara duduk dengan kedua tangan bertumpu ke belakang, seolah sengaja memamerkan tubuhnya. Kedua kakinya yang terlipat dibuka dan memanjang ke depan. Bantal yang menutupi selangkangannya terjatuh. Celana bolanya langsung menonjol ke atas. d**a Tara berdenyut cepat, ia belum tahu apa reaksi Delia setelah melihat batangnya itu?
Bola mata Delia membesar dan melotot, wajahnya tegang. Ia fokus pada benjolan yang muncul itu, menjulang ke atas dan bergerak gerak. Delia belum pernah segrogi ini seumur hidupnya. Ia bukanlah tipe gadis perasa dan cuck dengan banyak hal.